kumparan
search-gray
News20 November 2017 22:50

Bangkai Kapal Penenggelaman Menteri Susi dan Nasib Terumbu Karang

Konten Redaksi kumparan
P2O LIPI
P2O LIPI (Foto: Sayid Muhammad Mulki Razqa/kumparan)
Ratusan kapal telah ditenggelamkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Kini, bangkai-bangkai kapal yang ditenggelamkan itu menjadi rumah baru bagi ekosistem bawah laut yang misterius.
ADVERTISEMENT
Rumah baru itu mungkin dapat membantu tumbuh dan berkembangnya satwa-satwa laut seperti ikan. Namun membantu pertumbuhan terumbu karang belumlah tentu.
"Belum tentu membantu ke terumbu karangnya karena pertumbuhannya melihat lingkungannya. Untuk ikan mungkin bagus, tapi untuk terumbu karang masih belum tentu," tutur Giyanto, peneliti Coral Reef Rehabilitation and Management Program - Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI), di acara peluncuran Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia 2017, Selasa (20/11).
Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia sendiri merupakan standard penting yang dibutuhkan oleh negara-negara kepulauan seperti Indonesia untuk mengelola terumbu karang yang dimilikinya.
Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia
Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia (Foto: Sayid Muhammad Mulki Razqa/kumparan)
Selama ini, terumbu karang di Indonesia telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong dari dalam maupun luar negeri. Tak hanya itu, terumbu karang di Indonesia juga menjadi rumah bagi ratusan jenis spesies unik nan misterius di dalam laut.
ADVERTISEMENT
"Coba anda bisa bayangkan, Indonesia memiliki 18 persen dari total area karang dunia. Lebih dari 50 persen spesies karang hidup di Indonesia,” kata Dirhamsyah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI).
Dirhamsyah mengatakan terumbu-terumbu karang di Amerika Tengah yang dibilang bagus sebenarnya kalah oleh terumbu-terumbu karang di Indonesia.
“Kita kalau bisa dibilang dalam bahasa sederhana itu serpihan surga jatuh dari atas, cuma permasalahannya bagaimana kita mengelola, memelihara (terumbu karang)," ujarnya lagi.
Kehendak untuk mengelola dan memelihara terumbu karang itulah yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong LIPI untuk meluncurkan Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia. Indeks ini diharapkan dapat membantu pihak-pihak pengambil keputusan dalam melestarikan terumbu karang di negeri ini.
Giyanto dan Dirhamsyah
Giyanto dan Dirhamsyah (Foto: Sayid Muhammad Mulki Razqa/kumparan)
"Di dunia belum banyak negara yang memiliki Indeks Kesehatan Terumbu Karang seperti Indonesia. Setahu saya salah satu negara yang sudah punya adalah Australia," kata Dirhamsyah.
ADVERTISEMENT
Indeks ini berisi penilaian terhadap setiap lokasi terumbu karang di Indonesia. Penilaian yang diberikan adalah antara satu sampai sepuluh dengan nilai satu sebagai nilai paling buruk.
Penilaian diambil berdasarkan kekayaan ekosistem sekitar terumbu karang serta ruang tutupan terumbu karang tersebut.
"Kita menilai berdasarkan komponen bentik dan komponen ikan dari terumbu karang. Jadi penilaian tidak hanya dari satu sisi saja," kata Giyanto.
Menurut data yang COREMAP-CTI miliki, ada beberapa tempat yang mendapat nilai sempurna 10 dalam ukuran indeks tersebut dan dua di antaranya berada di wilayah Indonesia Timur.
"Untuk keanekaragaman jenis terumbu karang memang banyak di Indonesia Timur," ucap Giyanto.
Giyanto meyakini Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia akan bermanfaat bagi masa depan bangsa, khususnya dalam upaya menjaga kelestarian terumbu karang untuk generasi mendatang.
ADVERTISEMENT
Reporter: Sayid Muhammad Mulki Razqa
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white