kumparan
22 Juli 2019 22:56

Batal Gelar HUT di Restoran, Posko PRD Surabaya Didatangi Massa

Lokasi penggerudukkan Kemenangan Pancasila Partai Rakyat Demokrasi (PRD) di Jalan Bratang Gede 6A, Surabaya, Senin
Lokasi penggerudukkan Kemenangan Pancasila Partai Rakyat Demokrasi (PRD) di Jalan Bratang Gede 6A, Surabaya, Senin (22/7). Foto: Yuana Fatwallah/kumparan
Sejumlah Ormas mendatangi posko Kemenangan Pancasila Partai Rakyat Demokrasi (PRD) di Jalan Bratang Gede 6A, Surabaya, Senin (22/7). Ormas-ormas tersebut terdiri dari FPI Surabaya, HIPAKAD dan FKPPI mendatangi posko Kemenangan Pancasila lantaran PRD menggelar perayaan hari jadinya ke-23.
ADVERTISEMENT
Awalnya kita ada acara di rumah makan ‘Sari Nusantara.’ Karena tidak kondusif kita disuruh pindah sama kepolisian. Akhirnya ke posko Kemenangan Pancasila akhirnya kita didatangi sama kelompok ormas lain,” kata Hermawan, Ketua Pimpinan PRD Jatim, di lokasi.
“Kita diminta selesaikan cepat oleh kepolisian,” imbuhnya.
Lokasi penggerudukkan Kemenangan Pancasila Partai Rakyat Demokrasi (PRD) di Jalan Bratang Gede 6A, Surabaya, Senin
Lokasi penggerudukkan Kemenangan Pancasila Partai Rakyat Demokrasi (PRD) di Jalan Bratang Gede 6A, Surabaya, Senin (22/7). Foto: Yuana Fatwallah/kumparan
Pantauan di lokasi, sejumlah polisi tampak berjaga. Anggota PRD segera mencabuti semua atribut, mematikan lampu, dan menutup gerbang posko serta membubarkan diri. Sementara, sisa banner yang masih terpasang sempat dicabut oleh massa FPI Surabaya.
Salah satu massa FPI, Agung, menyebut, bahwa PRD adalah partai terlarang yang tak boleh berdiri di Indonesia. Ia meminta warga untuk mengawasi pergerakan mereka.
“Saya minta kepada warga untuk mengawasi tempat ini. Kalau ada indikasi pertemuan segera lapor ke polisi atau Polsek. Ini komunis gaya baru. Sudah lama sudah dibubarkan pemerintah,” terang Agung.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, salah satu warga, Yanto mengatakan, PRD sudah dua tahun menyewa rumah tersebut. Namun, tak pernah ada gelagat yang mencurigakan.
“Sudah jalan satu tahun lebih, selama itu tidak ada suara-suara sumbang. Memang selama ini enggak ada yang aneh-aneh,” ungkap Yanto.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan