kumparan
12 Juni 2019 16:07

Bentrokan Pecah dalam Aksi di Hong Kong, Polisi Tembakkan Gas Air Mata

Protes di Hong Kong, Ekstradisi
Para pengunjuk rasa melarikan diri saat polisi menembakkan gas air di luar Kompleks Dewan Legislatif, Hong Kong. Foto: AFP/ISAAC LAWRENCE
Bentrokan pecah antara polisi Hong Kong dengan massa peserta aksi yang jumlahnya ratusan ribu, Rabu (12/6). Dalam aksi itu, massa mendesak pemerintah Hong Kong membatalkan RUU ekstradisi ke China.
ADVERTISEMENT
Diberitakan AFP, polisi menembakkan gas air mata, semprotan merica, dan memukuli demonstran dengan tongkat. Tindakan ini dilakukan untuk menghentikan demonstran memasuki barikade gedung parlemen.
Demonstrasi kali ini adalah lanjutan dari aksi beberapa hari sebelumnya, menentang RUU ekstradisi. Akibat besarnya aksi, dewan Legislatif Hong Kong telah menyatakan menunda pembahasan RUU tersebut.
Protes di Hong Kong, Ekstradisi
Para pengunjuk rasa melarikan diri saat polisi menembakkan gas air di luar Kompleks Dewan Legislatif, Hong Kong. Foto: AFP/ISAAC LAWRENCE
Ratusan ribu demonstran memadati jalan-jalan arteri, membuat pusat kota Hong Kong lumpuh. Mereka semakin beringas karena Ketua Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menolak membatalkan RUU ekstradisi.
Massa mengatakan, RUU tersebut akan semakin mengikis "satu negara dua sistem" yang dianut dalam hubungan antara Hong Kong dan China. Mereka mengatakan, hukum ekstradisi akan digunakan China untuk menangkapi lawan politik.
Bentrokan terjadi sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Polisi bertindak setelah massa tidak juga membubarkan diri, malah melempari aparat dengan tongkat besi dan botol.
Protes di Hong Kong, Ekstradisi
Para pengunjuk rasa melarikan diri saat polisi menembakkan gas air di luar Kompleks Dewan Legislatif, Hong Kong. Foto: AFP/ISAAC LAWRENCE
"Pemerintahlah yang memaksa rakyat meningkatkan aksi, jadi saya kira tidak terhindarkan jika aksi kali ini memanas," kata demonstran berusia 21 tahun, Lau Ka-chun.
ADVERTISEMENT
Para tokoh demokrasi khawatir aksi ini akan melebar dan semakin panas. Menurut mereka, satu-satunya jalan adalah Carrie Lam membatalkan RUU tersebut.
"Karena situasinya sangat tegang, jika dia memaksa melanjutkannya dan meminta polisi menggunakan kekerasan, saya khawatir anak-anak Hong Kong akan terluka, akan berdarah," kata Fernando Cheung, anggota parlemen pro-demokrasi Hong Kong.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan