Beri Kontribusi Lewat Inovasi, 4 Komunitas Ini Bantu Pendidikan di Masa Pandemi
·waktu baca 5 menit

Upaya untuk memajukan pendidikan di Indonesia tak hanya bergantung pada pemerintah saja. Masyarakat juga perlu berperan aktif agar anak-anak mendapatkan akses pendidikan dan literasi yang sama rata.
Seperti yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) RI, Nadiem Makarim, pada momen pelantikannya. Dirinya ingin masyarakat saling bahu-membahu untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang baik. Tak hanya bagi pelajar di perkotaan, tetapi juga di daerah.
Beruntungnya, Indonesia memiliki insan-insan kreatif yang punya hati nurani untuk berbagi. Dengan panggilan untuk menyetarakan akses pendidikan hingga ke kampung dan desa di pelosok, komunitas yang bergerak di bidang edukasi dan literasi kini banyak ditemui.
Tak hanya datang, mengadakan kelas, lalu kembali; komunitas-komunitas ini berkomitmen dan memiliki dedikasi yang tinggi untuk dapat memajukan wilayah yang dibantu secara berkelanjutan. Bukan sekali atau dua kali saja, tetapi terus dilakukan dalam rentang waktu yang panjang dan intens, bahkan ketika pandemi COVID-19 melanda seperti sekarang.
Pandemi tak menjadi penghalang empat komunitas ini untuk memajukan pendidikan Indonesia. Ada Komunitas Giat Buku di Lampung, Komunitas Ide ID di Bangka Belitung, Komunitas Rumah Relawan Remaja (3R) di Aceh, dan Komunitas Untuk Teman di Yogyakarta.
Meskipun melayani dengan cara dan bantuan yang berbeda-beda, empat komunitas ini memiliki satu tujuan yang sama, yakni menumbuhkan semangat dan ketangguhan sumber daya manusia Indonesia lewat pendidikan.
1. Komunitas Giat Buku, Lampung
Menurut survei Program for International Student Assessment (PISA) pada 2019, Indonesia masuk dalam kategori negara dengan tingkat literasi paling rendah di dunia. Hal ini memperlihatkan kenyataan bahwa literasi pendidikan nasional masih sangat rendah.
Berbekal alasan di atas, alumni Universitas Lampung (Unila), Bayu Saputro bergiat untuk mendirikan Komunitas Giat Buku di Lampung. Pada masa awal dibangun, ia juga menemukan fakta dari Kemdikbud (2019) dan pemerintah provinsi Lampung yang menyatakan bahwa kampung halamannya berada pada urutan 5 provinsi dengan tingkat literasi paling rendah di Indonesia.
Melihat rendahnya literasi di Lampung, Bayu dan teman-temannya memulai kegiatan komunitas pada Agustus 2020 dengan membuat program bertajuk Gulaku yang merupakan singkatan dari Giat Buku Gelar Lapak Buku.
Program Gulaku dilaksanakan pada setiap hari minggu, di waktu pagi dan sore. Dari pukul 06.00-10.00 WIB, Komunitas Giat Buku akan menggelar lapak di Unila. Sedangkan pada pukul 15.40-17.50 WIB, mereka akan berpindah ke Taman Gajah Kota Bandar Lampung. Bukan tanpa sebab, pemilihan lokasi di kawasan ramai ini diharapkan dapat mengundang pengunjung di sekitar ruas jalan dan lapangan untuk datang dan berolahraga.
Dengan misi untuk meningkatkan indeks literasi di Lampung, komunitas akan menetap pada lokasi yang sama selama tiga bulan penuh. Hal ini ditujukan supaya anak-anak yang berkunjung dapat membentuk sebuah kebiasaan.
2. Komunitas Ide ID, Palembang
Berupaya untuk memberikan akses pendidikan di seluruh Indonesia, Okky Veronica Chyntia Pratiwi dan anggota Komunitas Ide ID, aktif mengajar anak-anak yang putus sekolah, kaum duafa, serta penyandang disabilitas.
Berdiri sejak 2017, Okky menyatakan bahwa komunitas yang dinamai Inspirasi Dedikasi Edukasi Indonesia ini tidak memungut biaya sepeser pun dalam setiap sesi pengajaran. Pelajaran yang diberikan pun beragam, mulai dari keterampilan membaca dan menulis, ilmu agama (Al-Qur.'an dan cara-cara salat), bahasa Inggris, hingga pendidikan karakter.
Sejak masa pandemi berlangsung, Komunitas Ide ID mengalami beberapa tantangan karena mobilisasi yang harus dikurangi. Jika dulu pengajaran dapat dilakukan di lima tempat, kini harus dikurangi menjadi dua tempat saja.
Namun Okky dan rekannya tidak patah semangat. Mereka mencoba untuk beradaptasi dengan keadaan, komunitas sekarang membuka donasi melalui rekening. Harapannya, donasi yang diterima dapat tetap mencukupi kebutuhan operasional di masa pandemi ini.
3. Komunitas Rumah Relawan Remaja (3R), Aceh
Sudah menjadi sebuah rutinitas tahunan bagi Komunitas Rumah Relawan Remaja (3R) untuk melaksanakan berbagai lomba bagi anak-anak di desa pedalaman provinsi Aceh. Mulai dari lomba fotografi, menulis cerita pendek (cerpen), membaca puisi, dan storytelling.
Karya-karya yang berhasil terkumpul biasanya akan dipamerkan dalam acara Pameran Karya Pustaka Impian. Namun karena adanya pandemi, pameran tidak dapat diselenggarakan secara langsung.
Alhasil, para relawan di Komunitas 3R menginisiasi ide pameran virtual. Berkolaborasi dengan beberapa komunitas dan penggiat pendidikan di Aceh, Komunitas 3R mengubah keterbatasan menjadi sebuah peluang untuk berkreasi.
Dengan menggunakan platform Artsteps dan fasilitas telekonferensi, Komunitas 3R menyelenggarakan pameran virtual perdana di Aceh dalam satu kolase besar. Kolase ini dibentuk dari karya anak-anak dari wilayah pelosok, seperti Baling Karang, Bah, Serempah, Lapeng, Klieng Cot Aron, Aceh Besar, dan Sarah Baru.
Komunitas 3R berharap, pameran karya seni dan sastra yang masih terus digelar dalam keterbatasan di masa pandemi ini dapat mendukung semangat pendidikan di berbagai daerah terpencil Indonesia lainnya.
4. Komunitas Untuk Teman, Yogyakarta
Sudah satu tahun lamanya sejak mobil Volkswagen berwarna kuning terang terlihat berkeliling ke desa-desa di Yogyakarta. Bukan sembarang mobil, mobil ini memberikan akses internet gratis dan perpustakaan kecil bagi anak-anak yang mengalami hambatan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Mobil ini merupakan inisiatif dari Komunitas Untuk Teman dari Yogyakarta dalam Gerakan Mobil Internet Gratis. Mendengar dan melihat kesulitan masyarakat desa untuk membeli kuota internet, founder Komunitas Untuk Teman, Febfi Setyawati mencetuskan ide baik ini.
Berkolaborasi bersama Aksara Bergerak, mobil akan beroperasi dari pukul 09.00-13.00 WIB, tepat ketika anak-anak akan memulai PJJ dan mengerjakan tugas. Jika sudah selesai belajar dan menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) masing-masing, anak-anak juga dapat membaca buku yang tersedia.
Tak hanya fasilitas, Komunitas Untuk Teman juga mendatangkan beberapa relawan yang berperan sebagai guru. Hal ini dilakukan supaya anak-anak yang datang bisa mendapatkan bimbingan.
Dengan cara dan bantuan yang berbeda, keempat komunitas ini mengarah ke satu tujuan yang sama, yakni menciptakan “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” dengan pendidikan yang mumpuni.
Pemerintah, melalui Kemdikbud Ristek percaya bahwa setiap bantuan dan dukungan kecil, perlahan-lahan dan secara bertahap akan memberikan dampak bagi banyak orang. Sama seperti geliat dari keempat komunitas yang tak pernah lelah untuk membantu sesama dan memajukan kualitas bangsa lewat pendidikan, secara bertahap; meski harus berhadapan dengan pandemi.
