Berniat Bom Masjid, Marinir AS Ini Justru Jadi Mualaf

11 Oktober 2022 12:14
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Richard "Mac" McKinney dari "Stranger at the Gate" menghadiri Shorts: Life, Camera, Action! selama Festival Tribeca 2022 di Village East Cinema di New York City pada 11 Juni 2022. Foto: Cindy Ord/Getty Images for Tribeca Festival
zoom-in-whitePerbesar
Richard "Mac" McKinney dari "Stranger at the Gate" menghadiri Shorts: Life, Camera, Action! selama Festival Tribeca 2022 di Village East Cinema di New York City pada 11 Juni 2022. Foto: Cindy Ord/Getty Images for Tribeca Festival
ADVERTISEMENT
Richard 'Mac' McKinney mendatangi Islamic Center of Muncie di Kota Muncie, Negara Bagian Indiana, Amerika Serikat (AS), suatu hari pada 2009. Dia tidak melangkahkan kaki ke masjid di sana untuk melakukan ibadah, melainkan menanamkan sebuah bom.
ADVERTISEMENT
Disadur dari CNN, kebencian terhadap Islam tumbuh dalam mantan anggota Korps Marinir AS (USMC) itu selama dia mengarungi pertempuran berdarah di Irak dan Afghanistan. Ketika dia kembali ke kampung halaman, amarahnya semakin mendalam.
McKinney menyaksikan warga muslim menetap di kotanya, dan anak-anak mereka pun duduk di sebelah putrinya di sekolah. Mengenakan kebencian itu, dia mengunjungi Islamic Center of Muncie. McKinney berniat melancarkan misi terakhirnya.
Dia berharap akan mengonfirmasikan asumsinya bahwa Islam adalah ideologi kejam, serta menyembunyikan sebuah bom untuk mencederai dan membunuh ratusan muslim.
"Saya mengatakan kepada orang-orang bahwa Islam adalah kanker; dan saya adalah ahli bedah untuk menyembuhkannya," ungkap McKinney, dikutip dari CNN, Selasa (11/11).
Seorang Marinir AS berjalan melalui ladang opium di Garmsir, provinsi Helmand selatan, Afghanistan, pada 6 Mei 2008. Foto: Massoud HOSSAINI/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang Marinir AS berjalan melalui ladang opium di Garmsir, provinsi Helmand selatan, Afghanistan, pada 6 Mei 2008. Foto: Massoud HOSSAINI/AFP
Saat melihat pria itu berjalan ke arah mereka, anggota komunitas muslim tersebut segera menyadari ada yang tidak beres. McKinney adalah pria berbadan besar dan berbahu lebar. Dia berderap dengan kepala menunduk dan wajah memerah oleh amarah.
ADVERTISEMENT
Masjid saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk salat Jumat. Tato USMC pada lengan kanan dan tato tengkorak pada lengan kiri lantas membuatnya menonjol dalam kerumunan. Namun, McKinney menemui bentuk perlawanan yang tidak terduga.
Orang-orang yang hidupnya ingin dia renggut justru menyelamatkan hidup McKinney. Kejadian dramatis itu akhirnya menjadi subjek film dokumenter pendek berjudul 'Stranger at the Gate'. Film itu bahkan memenangkan Penghargaan Juri Khusus di Festival Film Tribeca 2022.
Dokumenter tersebut menceritakan kisah dramatisnya menjadi mualaf. McKinney mengakui bahwa dia mengira kunjungannya ke masjid itu akan berakhir dengan kematiannya. Sebaliknya, beberapa orang muslim melangkah maju dan melucuti senjata McKinney.
Masjid. Foto: Oleg Senkov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Masjid. Foto: Oleg Senkov/Shutterstock
Salah satu tindakan mengejutkan lainnya adalah ketika seorang pendiri pusat muslim itu, Mohammad S. Bahrami, akhirnya memeluk McKinney. Penduduk asli Afghanistan tersebut menangis sambil mendekapnya. McKinney masih tidak memahami tindakan Bahrami.
ADVERTISEMENT
"Sampai hari ini, itu masih tidak masuk akal bagi saya," ujar McKinney.
McKinney menerangkan, dia dilatih untuk tidak menganggap tentara Irak dan Taliban sebagai manusia. Dia memandang mereka bak target di lapangan tembak. Setelah meninggalkan 'saudara' selama tugas militer, McKinney kemudian berjuang menemukan komunitas baru.
McKinney berusaha melupakan medan perang dengan tenggelam dalam alkohol. Tetapi, kebenciannya terhadap muslim telanjur mengakar. McKinney memandang kehadiran muslim di kotanya sebagai ejekan terhadap 'pengorbanan' dia di Irak dan Afghanistan.
"Saya tidak bersedia untuk berbagi," jelas McKinney.
"Saya melihat Amerika sebagai milik saya. Saya berdarah untuk memperjuangkan ini. [Kebencian terhadap muslim] itu semacam 'Anda tidak pantas berada di sini'," sambung dia.
Ilustrasi perlengkapan ibadah umat Muslim. Foto: Gatot Adri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perlengkapan ibadah umat Muslim. Foto: Gatot Adri/Shutterstock
McKinney menemukan banyak orang yang membantu meredakan amarahnya di Islamic Center of Muncie. Salah satunya adalah anggota etnis Afrika-Amerika, Jomo Williams. Dia juga merupakan salah satu orang pertama yang melihat kedatangan McKinney.
ADVERTISEMENT
"Ketika saya melihatnya, dia berjalan agak cepat, kepalanya agak menunduk, dan wajahnya agak merah," terang Williams.
"Saya tahu ada sesuatu yang salah," tambah dia.
Williams adalah orang yang mengajukan pertanyaan yang kemudian menuntun McKinney ke dalam Islam. Tetapi, sosok yang memerankan peran utama dalam perjalanan religius McKinney adalah salah satu pendiri Islamic Center of Muncie dan istri Mohammad, Bibi Bahrami.
Pasangan itu adalah pilar dalam komunitas di Muncie. Mereka dikaruniai enam anak yang sebagiannya lulus dari sekolah Ivy League. Bahrami juga aktif bergerak di luar kehidupan rumah tangganya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Anak-anak pengungsi menunggu penerbangan berikutnya setelah diturunkan di Bandara Internasional Hamid Karzai, di Kabul, Afghanistan, Kamis (19/8/2021). Foto: Mark Andries/AS Korps Marinir/ Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak pengungsi menunggu penerbangan berikutnya setelah diturunkan di Bandara Internasional Hamid Karzai, di Kabul, Afghanistan, Kamis (19/8/2021). Foto: Mark Andries/AS Korps Marinir/ Reuters
Bahrami menjadi sukarelawan di tempat penampungan untuk perempuan yang mengalami kekerasan, serta organisasi agama lain. Dia bekerja di dewan kota dan menggalang dana untuk politikus lokal.
ADVERTISEMENT
Bahrami menjelmakan Surah Ar Rahman ayat 60, "Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan." Sebagai keturunan orang Afghanistan yang mengungsi ketika Uni Soviet menginvasi pada 1979, dia juga memahami kerusakan yang diakibatkan oleh perang.
Selama enam tahun, Bahrami bertahan hidup di kamp pengungsi di Pakistan. Dia lalu menikah dan mencapai AS. Kini, Bahrami tidak sungkan menerima orang asing dalam komunitasnya.
Bahrami membersihkan rumah, menyetrika pakaian, dan memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Reputasinya mencapai telinga para pengungsi dari negara lain yang entah bagaimana menemukan nomor dan alamatnya untuk meminta bantuan pula.
"Tuhan menciptakan kita semua untuk saling mengenal dan menjaga satu sama lain–bukan untuk membenci," jelas Bahrami.
Aksi Anti Muslim di AS Foto: Reuters/Stephanie Keith
zoom-in-whitePerbesar
Aksi Anti Muslim di AS Foto: Reuters/Stephanie Keith
Bahrami menawarkan keramahan luar biasa ketika muslim masih diperlakukan sebagai orang asing di AS. Studi Brown University mencatat, kejahatan berbasis kebencian terhadap muslim di AS bahkan melonjak 500 persen dari 2000 hingga 2009.
ADVERTISEMENT
Angka itu mencerminkan peningkatan sentimen anti-muslim setelah serangan 9/11. Hingga kini, muslim masih menghadapi diskriminasi dan kekerasan. Beberapa anggota pusat muslim di Muncie lantas berhenti datang ke masjid karena takut dengan McKinney.
Tetapi, Bahrami mengulurkan tangannya kepada McKinney. Bahrami mengundangnya ke rumah dan menyiapkan berbagai santapan tradisional Afghanistan. McKinney melahap semuanya.
"Dia mencoba segalanya," kata Bahrami sambil tertawa mengingat McKinney.
"Dia tidak pilih-pilih," tambahnya.
Ilustrasi Al-quran. Foto: FS Stock/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Al-quran. Foto: FS Stock/Shutterstock
Makanan menjadi jembatan lain bagi McKinney. Setelahnya, dia terus mengunjungi pusat itu untuk membaca Al-Qur'an. Delapan bulan usai kunjungan pertamanya, McKinney masuk Islam. Dia disambut dengan pelukan dari orang-orang yang awalnya ingin dia sakiti.
Selama dua tahun, McKinney bahkan menjabat sebagai presiden Islamic Center di Muncie. Ketika ditanya tentang alasannya menjadi mualaf, McKinney menjadi lebih ekspresif dalam bercerita.
ADVERTISEMENT
McKinney mengatakan, dia menemukan betapa banyak kesamaan dengan para anggota pusat itu seiring dia menghabiskan waktu dengan mereka. Kendati demikian, kebaikan dan komunitas yang terbuka menyambutnyalah yang menjadi titik balik bagi McKinney.
"Mereka hanya bahagia. Mereka benar-benar menyenangkan," ungkap McKinney.
"Dan saya sangat membutuhkan itu dalam hidup saya," lanjut dia.
McKinney mengatakan, kunjungan pertamanya mungkin akan berakhir dengan pertumpahan darah dan dia akan berakhir dengan hukuman mati bila bukan karena perlakuan baik mereka.
Ilustrasi berdoa umat islam. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berdoa umat islam. Foto: Shutterstock
McKinney masih berusaha membalas kebaikan yang diberikan kepadanya. Dia telah memperoleh gelar sarjana dalam pekerjaan sosial dan mengambil penjurusan dalam perdamaian dan resolusi konflik. Dia lalu berkeliling negara untuk menceritakan kisahnya.
McKinney mengungkap, dia merasa bersalah atas nyawa yang diambilnya selama perang. Dia masih menjalani proses untuk memaafkan dirinya sendiri atas segala kesalahannya. Tetapi, anggota lain dalam pusat itu telah memaafkannya terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah cuplikan film dokumenter, McKinney terlihat berdiri di samping Williams. Mereka mengangkat kedua telapak tangan dalam doa seiring sinar matahari keemasan mengalir dalam masjid.
McKinney bukan lagi 'orang asing di gerbang'. Dia telah menemukan saudara dan saudari baru, bukan dalam pertempuran, melainkan dalam iman.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020