Berseteru dengan Trump, Elon Musk Nonaktifkan Proyek SpaceX Dragon
6 Juni 2025 12:22 WIB
·
waktu baca 2 menit
Berseteru dengan Trump, Elon Musk Nonaktifkan Proyek SpaceX Dragon
Elon Musk menyatakan menonaktifkan kapsul antariksa SpaceX Dragon.kumparanNEWS

ADVERTISEMENT
Keretakan hubungan antara Elon Musk dan Presiden Donald Trump kini berdampak proyek antariksa. Elon Musk menyatakan akan menonaktifkan kapsul antariksa SpaceX Dragon setelah Trump mengancam pemerintahannya akan mengakhiri kontrak.
ADVERTISEMENT
"Karena Presiden menyatakan akan membatalkan kontrak pemerintah, @SpaceX akan mulai menonaktifkan roket Dragon segera," kata Elon Musk dalam unggahannya di X, Jumat (6/6).
Juru bicara NASA, Bethany Stevens, mengatakan badan pemerintah akan terus melaksanakan visi pemerintah untuk masa depan antariksa.
"Kami akan terus melanjutkan pekerjaan kami dengan mitra industri untuk memastikan tujuan presiden di antariksa terpenuhi," kata Stevens.
NASA berharap dapat mensertifikasi Starliner milik Boeing untuk membawa awak dalam misi. Namun, program itu terus tertunda.
Starliner akhirnya kembali ke Bumi dalam keadaan kosong. Sementara dua astronot dibawa kembali ke bumi oleh SpaceX pada awal tahun ini.
Sertifikasi Crew Dragon pada tahun 2020 mengakhiri ketergantungan AS terhadap roket Soyuz milik Rusia selama hampir satu dekade untuk mengangkut astronot, khususnya setelah program Space Shuttle berhenti pada tahun 2011.
ADVERTISEMENT
Astronut AS masih terbang dengan roket Soyuz, sementara kosmonot Rusia menumpang di Crew Dragon berdasarkan perjanjian pertukaran kursi yang sudah lama berlaku.
Selain untuk misi NASA, Crew Dragon juga terbak misi probadi. Yang terbaru adalah Fram2 yang membawa turis melintasi kutub bumi.
Misi selanjutnya yang akan dilakukan adalah misi Axiom-4 pada Selasa (10/6). Awak Crew Dragon akan mengangkut astronot dari India, Polandia, dan Hungaria ke ISS.
Dragon milik SpaceX saat ini menjadi satu-satunya pesawat antariksa AS yang tersertifikasi untuk membawa awak ke ISS berdasarkan kontrak senilai lebih dari USD 4,9 miliar (setara Rp 79.747 T).
