News
·
4 Agustus 2021 14:51
·
waktu baca 2 menit

BMKG Ingin Bangun Budaya Sadar Bencana seperti Jepang: Terbentuk Sampai Keluarga

Konten ini diproduksi oleh kumparan
BMKG Ingin Bangun Budaya Sadar Bencana seperti Jepang: Terbentuk Sampai Keluarga (63004)
searchPerbesar
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengakui Indonesia merupakan negara dengan aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Melihat kesadaran masyarakat yang belum semua paham tentang mitigasi bencana alam, Dwikorita ingin Indonesia bisa mencontoh apa yang dilakukan Jepang.
ADVERTISEMENT
"Kami belajar sesuai arahan Ibu Megawati [Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri] bahwa belajar dengan negara yang sudah maju, antara lain Jepang yang berhasil membangun budaya untuk waspada dan siaga terhadap potensi bencana," ungkap Dwikorita dalam pelatihan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami yang diadakan PDIP secara virtual, Rabu (4/7).
Dwikorita kemudian mencontohkan bencana gempa Hanshin atau yang dikenal Gempa Kobe di Jepang pada 17 Januari 1995. Gempa berkekuatan 7,2 skala richter itu terjadi di beberapa daerah di Hanshin dan Pulau Awaji, dengan total korban jiwa sebanyak 6.434 jiwa.
Yang membuat Dwikorita ingin mencontoh kejadian gempa Hanshin Awaji ini karena hampir 95 persen warga yang terkena guncangan gempa bisa selamat dengan kemampuan mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
Ternyata masyarakat selamat hampir 95 persen selamat karena kemampuan mereka sendiri, bukan karena ditolong pemerintah. 34,9 persen menyelamatkan diri sendiri dengan budaya yang terbentuk. 31,9 persen ditolong anggota keluarga, karena budayanya terbentuk sampai level keluarga.
--Kepala BMKG Dwikorita
BMKG Ingin Bangun Budaya Sadar Bencana seperti Jepang: Terbentuk Sampai Keluarga (63005)
searchPerbesar
Pengungsi berada di tenda COVID-19, Stadion Manakarra, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (18/1). Foto: Abriawan Abhe/ANTARA FOTO
"Dan 28,1 persen ditolong tetangganya yang budaya sudah kuat kesiapsiagaan. 2,6 persen ditolong orang lewat, dan ditolong regu penyelamat hanya 1,7 persen," imbuhnya.
Dari pengalaman kesadaran warga Jepang yang tinggi, Dwikorita ingin hal serupa bisa dilakukan juga oleh masyarakat Indonesia. Ia berharap budaya kesiapsiagaan menghadapi bencana bisa dipahami dan dilakukan semua orang.
"Ini yang jadi impian kami. Terima kasih Bu Megawati yang mengingatkan kami untuk belajar dari negara yang lebih maju. Inilah yang membuat tekad kami bahwa membangun budaya kesiapsiagaan multibencana penting," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020