kumparan
11 Jan 2019 21:01 WIB

BNPB Akan Bentuk 'Tim Intelijen' untuk Mitigasi Bencana di Indonesia

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo meninjau lokasi terdampak tanah longsor di Kampung Cimapag, Kabupaten Sukabumi, Jumat (11/1). (Foto: Fachrul irwinsyah/kumparan)
Berada di cincin api membuat Indonesia tidak bisa jauh dari bencana alam. Mulai dari gempa, tanah longsor, hingga tsunami bisa sewaktu-waktu menerpa negeri ini.
ADVERTISEMENT
Hal terbaik dalam menghadapi bencana tentu bukan sekadar penanganan setelah bencana itu datang, tapi mencegah jatuhnya korban atau dampak dari bencana tersebut. Untuk itu diperlukan mitigasi bencana yang baik agar tidak ada lagi korban jiwa dari bencana alam.
Paham akan kondisi itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo mengatakan akan membentuk tim gabungan. Tim itu melibatkan banyak instansi di antaranya BMKG, PVMBG, BPPT, LIPI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Ahli dari setiap instansi yang tergabung dalam tim nantinya akan memberikan saran dan masukan terkait mitigasi bencana. Saran dan masukan dari mereka yang akan menjadi pedoman BNPB untuk mengambil tindakan.
“Presiden sudah instruksi kan kepada BNPB untuk menangani bencana ini terintegrasi. Kami buat tim nantinya sebagai bagian intelijen, kami mengacu hasil penelitian dari tim yang kami sebut tim intelijen ini. Apa yang harus diperbuat pemerintah itu harus mengacu masukan mereka,” kata Doni seusai meninjau lokasi tanah longsor di Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jumat (11/1).
ADVERTISEMENT
Dalam bayangannya, para pakar dari instansi itu nantinya secara berkala menyampaikan ke publik terkait potensi bencana yang ada. Hal itu agar masyarakat lebih siap jika bencana benar terjadi.
“Jadi kami ingin mengumpulkan semua ini di BNPB kemudian setiap periodik mungkin bisa dua bulan sekali mereka menyampaikan informasi kepada publik, yang saya tadi katakan mohon maaf kalau itu agak pahit ya memang itu harus disampaikan, kita harus siap. Bukan menakuti-nakuti, tidak. Tapi disampaikan dengan cara yang tepat sehingga masyarakat kita bisa lebih siap,” kata Doni.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo memberikan bantuan korban terdampak tanah longsor di Kampung Cimapag, Kabupaten Sukabumi, Jumat (11/1). (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
Pria yang baru dilantik sebagai Kepala BNPB pada Rabu (9/1) itu mengatakan hal tersebut perlu dilakukan karena bencana tidak hanya berdampak pada permukiman masyarakat, tapi juga di sektor ekonomi. Ia mencontohkan beberapa pabrik yang berada di Cilegon bisa jadi terdampak tsunami karena berada di pinggir laut.
ADVERTISEMENT
“Bukan hanya di daerah pariwisata, Anyer, Carita, tapi juga Cilegon. Seluruh industri strategis kita di sana, ada Krakatau Steel, ada industri chemical dan kalau ini terjadi tsunami sedikit saja maka bencana tsunami yang akan ditimbulkan akan lebih besar lagi,” kata Doni.
Meski begitu Doni menyadari mitigasi bencana tidak akan sukses jika hanya mengandalkan pemerintah. Perlu ada peran masyarakat untuk saling mengingatkan.
“Upaya untuk kurangi risiko bencana tidak bisa hanya level pusat sampai provinsi, tapi juga RW. Karena RW rentan dan bisa atasi risiko ancaman. Contoh di pantai ada upaya mereka ingatkan,” kata Doni.
Doni Monardo melakukan kunjungan kerja pertamanya sebagai orang nomor satu di BNPB. Ia mengajak berbagai instansi di antaranya BMKG, PVMBG dan KemenPUPR mendatangi dua lokasi terdampak bencana yaitu tanah longsor di Sukabumi dan tsunami Selat Sunda di Banten.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan