News
·
20 Oktober 2020 12:30

BNPB: Gempa-Tsunami Sudah Ada Ribuan-Ratusan Tahun Lalu, Berpotensi Terjadi Lagi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
BNPB: Gempa-Tsunami Sudah Ada Ribuan-Ratusan Tahun Lalu, Berpotensi Terjadi Lagi (407987)
Ilustrasi tsunami. Foto: Shutter Stock
Kepala BNPB Doni Monardo mengingatkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia. Tak hanya mempersiapkan diri, ia juga minta masyarakat menyikapi fenomena ini sebagai takdir dari Tuhan YME.
ADVERTISEMENT
"Kita harus dasari ini takdir buat kita semua, tetapi juga anugerah. Takdir yang bisa menimbulkan musibah kalau kita enggak hati-hati. Kita punya 500 gunung api, 127 aktif. Punya 295 patahan," kata Doni dalam diskusi virtual dari Telaga Saat, Megamendung, Bogor, Selasa (20/10).
"Kita punya pertemuan lempeng, tiga subduksi Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik, yang setiap pertemuan subduksi berpotensi gempa besar dan gelombang tsunami," lanjut dia.
Doni mencontohkan terdapat patahan Lembang di Jawa Barat yang begitu terkenal, dan pernah menimbulkan gempa besar dan korban jiwa begitu banyak. Begitu juga gempa dan tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.
BNPB: Gempa-Tsunami Sudah Ada Ribuan-Ratusan Tahun Lalu, Berpotensi Terjadi Lagi (407988)
Kepala BNPB Doni Monardo di Sumatera Utara. Foto: BNPB
Dari fenomena bencana alam yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia, ia menyebut potensi terjadi gempa besar dan tsunami bisa saja terjadi kapan pun. Namun, sampai saat ini tidak ada satu pun alat canggih yang dapat memprediksi kapan gempa dan tsunami terjadi.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu, mulai dari sekarang, Doni meminta masyarakat untuk melakukan langkah-langkah mitigasi.
"Di sepanjang pantai barat Sumatera dan selatan Jawa ditemukan sedimen-sedimen yang usianya ribuan tahun. Bahwa pernah terjadi gempa dan tsunami ulangan ribuan, ratusan tahun. Artinya akan berpotensi terjadi gempa dan tsunami pada waktu yang akan datang. Itu pasti, tetapi kapan? Wallahu a'lam, hanya Allah yang tahu. Kita manusia enggak bisa (prediksi). Belum ada teknologi gempa, tapi kita bisa segera ambil langkah-langkah," jelasnya.
Selain itu, Doni menjelaskan, pemerintah juga sudah menyiapkan rencana untuk memperbaiki sistem peringatan dini milik BMKG. Sehingga, setiap potensi gempa dapat diantisipasi lebih dini.
"Pemerintah juga telah menyusun strategi sampai tahun 2030 untuk memperbaiki sistem perbaikan dini kita. BMKG mendapat support sehingga punya teknologi yang lebih baik untuk bisa prediksi. Tapi sekali lagi, gempa belum ada alat satu pun yang dapat memprediksi, tetapi berdasarkan siklus tahunan, ratusan, ribuan tahun lalu. Kita yang harus persiapkan diri," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
=====
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona