BNPT Bangun Kerja Sama ASEAN-Australia untuk Tekan Terorisme

11 Juni 2024 11:18 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi teroris. Foto: Indra Fauzi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teroris. Foto: Indra Fauzi/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar konferensi ASEAN SOM on Counter Terrorism ke-20 dan ASEAN-Australia on Counter-Terrorism Dialog ke-3 pada 5-6 Juni 2024 di Jakarta.
ADVERTISEMENT
Kedua pertemuan membahas kemajuan implementasi kerja sama di bidang penanggulangan terorisme, baik antar-anggota ASEAN maupun antara ASEAN dan Australia.
Konferensi tersebut diketuai Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT, Andhika Chrisnayudhanto. Pertemuan yang dihadiri delegasi negara anggota ASEAN dan Timor Leste itu membahas kebijakan nasional masing-masing anggota ASEAN dalam bidang penanggulangan terorisme, terutama dalam implementasi ASEAN Plan of Action mengatasi radikalisasi dan tindakan kekerasan sesuai Bali Work Plan 2019-2025.
Sementara itu, forum dialog ASEAN-Australia membahas kemajuan implementasi kerja sama ASEAN-Australia dalam program rehabilitasi dan integrasi mantan napiter dan FTFs (foreign terrorist fighters), serta program pemberdayaan remaja agar terhindar dari radikalisasi dan tindakan kekerasan.
Duta Besar/Wakil Tetap RI di Wina, Darmansjah Djumala, di Forum CND Foto: KBRI Wina via Antara
Anggota Kelompok Ahli BNPT Bidang Kerja sama Internasional, Dr. Darmansjah Djumala, secara terpisah mengungkapkan bahwa konferensi tersebut berhasil menyetujui dua program capacity building, yaitu Workshop on Good Practice Approaches for the Rehabilitation and Reintegration of Foreign Terrorist Fighters and Their Families dan Workshop on Good Practice Approaches to Empower Youth and Enhance Their Capacity to Prevent the Rise of Radicalisation and Violent Extremism.
ADVERTISEMENT
Eks Duta Besar Indonesia untuk Austria dan PBB dalam isu transnational crime dan terorisme itu juga mengapresiasi inisiatif Australia untuk membuat program deradikalisasi dan reintegrasi napiter ke masyarakat.
Menurut Djumala, program itu dapat merangkul orang-orang yang pernah tersesat untuk kembali ke masyarakat dan membangun kembali kehidupannya.
“Dengan adanya trend keterlibatan wanita dan anak-anak dalam tindakan kekerasan dan terorisme, pemberdayaan remaja dalam program deradikalisasi dalam bentuk peningkatan keahlian teknis dalam bidang tertentu diharapkan akan menghindarkan mereka dari jebakan jalan sesat yang mengarah tindakan terorisme. Resultan dari semua program deradikalisasi antara ASEAN dan Australia ini akan mampu menekan terorisme di Indonesia secara keseluruhan,” tutur Djumala.