kumparan
15 Oktober 2019 13:09

BPBD DIY Siapkan 50 Ribu Masker Antisipasi Aktivitas Merapi

Anak dan ibu gunakan masker untuk lindungi diri dari polusi udara.
Anak dan ibu gunakan masker untuk lindungi diri dari polusi udara. Foto: Shutterstock
BPBD DIY menyiapkan 50 ribu masker untuk antisipasi aktivitas erupsi Gunung Merapi. Meski pada awan panas letusan kemarin hujan abu vulkanik mengarah ke Magelang, Jawa Tengah, namun BPBD DIY tetap mempersiapkan masker hingga logistik.
ADVERTISEMENT
"Masker siap di BPBD DIY ada, di BPBD Sleman ada, di Puskesmas ada. Update terakhir saya belum dapat laporan tapi kalau 50 ribu (masker) saja di BPBD DIY ada," ujar Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana, saat dihubungi, Selasa (15/10).
Selain itu, 11 barak juga dalam kondisi siap huni lengkap dengan peralatan siap pakainya. Namun ada satu barak yang rusak di Donokerto, Turi, Sleman, yang rencananya akan diperbaiki tahun 2020, sesuai turunnya anggaran.
"Memang ada di Donokerto, Turi, kan waktu musim hujan kemarin kena angin roboh temboknya. Baru kita perbaiki tahun depan karena anggaran di tahun 2020. Kemudian kebutuhan-kebutuhan siap pakai tikar, selimut, logistik. Dan masyarakat sudah terkondisikan kemana evakuasi jalur ke mana. Jumlah (barak) kalau enggak salah ada 11," ujar dia.
Gunung Merapi
Aktivitas Gunung Merapi terlihat dari kawasan Deles Indah, Sidorejo, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Senin (11/3/2019). Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Selain itu, warga di lereng Merapi juga sudah siap apabila sewaktu-waktu aktivitas Merapi meningkat. Seluruh desa yang ada di lereng Merapi juga sudah menjadi Desa Tangguh Bencana (Destana).
ADVERTISEMENT
"Desa di lereng Merapi sudah Destana. Dan juaranya desa Umbulharjo memang maju. APBDes-nya untuk desa tangguh bencana. Perangkat desa juga punya komitmen tanggap bencana," ujarnya.
"Masyarakat sudah bergaul lama dengan Merapi. Komunikasi pos-pos pengamatan dan komunitas Merapi sangat aktif menginformasikan masyarakat kondisi Merapi," tutur Biwara.
Dia mengimbau kepada masyarakat untuk mengacu informasi pada BPPTKG. Setelah letusan awan panas kemarin, kondisi Merapi juga masih aman.
"Dampak lanjutan erupsi belum ada masih aman dan status masih Waspada," kata dia.
Sebelumnya, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas letusan dengan tinggi kolom mencapai kurang lebih 3.000 meter, Senin (14/10). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyebut penyebab awan panas letusan ini adalah akumulasi gas.
ADVERTISEMENT
"Penyebabnya atau karakternya sama seperti tanggal 22 September kemarin. Cuma ini agak sedikit lebih besar kalau kemarin kan tinggi kolomnya 800 meter ini 3000 meter," ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida saat ditemui di kantornya, Senin (14/10).
"Penyebabnya akumulasi gas karena saat ini Merapi masih proses terus ya, masih hidup. Merapi ini masih hidup jadi proses terus terjadi akumulasi gas bisa terjadi dan sewaktu-waktu bisa meletus seperti itu," ujar dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan