kumparan
22 Feb 2019 16:31 WIB

BPN: Teriakan 'Prabowo' dan 2 Jari di Munajat 212 Aksi Spontanitas

Sejumlah peserta Malam Munajat 212 melaksanakan ibadah salat di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, kamis, (21/2). Foto: Jamal Ramdhan/kumparan
Acara Munajat 212 yang digelar MUI DKI Jakarta dan Lembaga Dakwah Front (LDF) FPI, Kamis (21/2) dianggap sarat unsur kepentingan kampanye politik. Ada teriakan nama Prabowo Subianto dan pose dua jari dari peserta pendukung capres nomor urut 02 itu.
ADVERTISEMENT
Namun, menurut Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto -Sandiaga Uno, Ahmad Muzani, hal itu adalah bentuk spontanitas dari peserta Munajat 212 yang tidak serta merta dianggap sengaja berkampanye.
"Kalau kemudian di situ ada yang teriak (nama Prabowo), memberi isyarat dua jari begini, itu saya kira lebih merupakan ekspresi atau spontanitas dari para pengunjung hadirin," kata Muzani di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (22/2).
Titiek Soeharto berada di panggung malam munajat 212 di Kawasan Monumen Nasional (Monas), kamis, (21/2). Foto: Moh Fajri/kumparan
Oleh karena itu, Muzani menganggap tak ada pelanggaran kampanye dalam Munajat 212. Muzani berpandangan acara Munajat 212 yang digelar di Monas hanya memuat pesan moral untuk mendoakan keselamatan bangsa.
"Tidak ada ajakan kampanye memilih Prabowo-Sandi, dan tidak ada alat peraga. Saya kira tidak ada unsur itu (dugaan pelanggaran kampanye), menurut saya," jelas Sekjen Partai Gerindra itu.
ADVERTISEMENT
"Saya kira acara itu lebih merupakan acara munajat memohon kepada Allah keselamatan negara, keselamatan negeri, keselamatan pemimpin," pungkasnya.
Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani di Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (7/9/18). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga menganggap hal yang sama. Menurutnya, para tokoh yang hadir hanya menunjukkan gimmick.
"Misalnya semalam itu misalnya ada yang bilang 'tes-tes 1 atau 2', lalu 'dua' orang teriak kan. Itu kan permainan gimmick, sebenarnya dalam skala itu dibilang permainan yang halus," kata Fahri di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (22/2).
Haji Lulung, Sohibul Iman, Zulkifli Hasan bersama tokoh agama hadir dalam acara Munajat 212 di Monas. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Fahri menyatakan orasi dan gestur dari para tokoh politik yang hadir pada saat itu tak lebih dari sekedar permainan simbolik. Sebab, kata dia, orasi para tokoh tak secara vulgar mengajak atau mengarahkan massa memilih calon presiden tertentu.
ADVERTISEMENT
"Yang bermasalah itu misalnya ada ajakan seperti marilah kita coblos pasangan nomor 01, Bapak Jokowi - Ma'ruf atau marilah kita coblos Prabowo - Sandi. Itu adalah kalau di forum nonkampanye itu enggak bagus," tambahnya.
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Fahri menyatakan permainan simbolik oleh para tokoh politik memang tak bisa dihindari dalam beberapa kesempatan. Oleh karena itu, ia menyatakan sudah sepatutnya KPU tak mengatur soal permainan simbolik para politikus ketika kampanye berlangsung.
Sebab, menurut Fahri, permainan gimmick seperti di Munajat 212 itu bukan tergolong sebagai alat untuk mempengaruhi masyarakat memilih calon presiden tertentu.
"Nah kalau permainan simbolik enggak bisa dihindari, misalnya orang angkat tangan, itu terlalu mudah itu. Sehingga yang perlu diatur adalah yang tidak simbolik, yang kasar, yang vulgar, karena konotasi kampanye itu ya harus vulgar, kalau samar ya bukan kampanye namanya," tegas dia.
ADVERTISEMENT
Acara Munajat 212 yang ditujukan sebagai aksi damai untuk mendoakan bangsa Indonesia itu diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari salat Magrib berjemaah hingga mendengar sambutan dari para tokoh, seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon, hingga siaran video conference Imam Besar FPI Habib Rizieq dari Mekkah.
Sohibul Iman, Eddy Soeparno, dan Zulkifli Hasan bersama tokoh agama hadir dalam acara Munajat 212 di Monas. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Dalam sambutannya, Rizeq mengaku siap untuk menenggelamkan rezim yang durhaka.
“Kami bertekad melawan kezaliman, menegakkan keadilan dengan jiwa raga, kami siap tenggelamkan rezim durhaka. Rezim pendukung penista agama. Namun tanpa izin-Mu kami tak bisa,” ungkap Rizieq, Kamis (21/2).
Bawaslu DKI pun tengah mengkaji dugaan pelanggaran kampanye dalam Munajat 212 itu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan