kumparan
24 Feb 2018 22:06 WIB

Buka Festival Selawat, Jokowi Minta Jaga Persatuan di Tahun Politik

Jokowi di Festival Salawat SICC. (Foto: Biro Pers Setpres)
Presiden Joko Widodo membuka 'Festival Sholawat Nusantara Piala Presiden 2018'. Dalam pidato pembukaannya, ia meminta hadirin yang didominasi santri untuk menjaga kerukunan di tahun politik.
ADVERTISEMENT
"Saya titip marilah kita bersama-sama menjaga kedamaian, ketenangan. Karena tahun ini ada pilihan gubernur, pilihan bupati, pilihan wali kota," kata Jokowi saat memberikan sambutan di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/2).
Dia mengatakan setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihannya dalam pemilu. Namun, perbedaan pilihan jangan sampai memecah persatuan.
Jokowi juga berpesan agar tidak ada lagi prasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudara sebangsa. Sebab, ia mengatakan tak ingin Indonesia terpecah belah dan terjadi konflik saudara.
"Dengan izin Allah, marilah kita melakukan hal yang baik. Berprasangka baik, khusnuzan. Berpikir positif, saling menghormati, terus menjunjung nilai-nilai agama, menjunjung tinggi etika, nilai budi pekerti," kata Jokowi.
Video
Usia menyampaikan pidato, Jokowi selanjutnya dipersilakan untuk memukul bedug sebagai tanda dibukanya festival tersebut. Jokowi didampingi beberapa ulama dan tokoh. Di antaranya Ketua MUI Ma'ruf Amin, Habib Luthfi, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menperin Airlangga Hartarto, Nusron Wahid yang merupakan inisiator festival, Ketua Panitia Abdul Gofar Rozin Sahal selaku ketua panitia, hingga Addie MS yang ikut mengisi acara.
ADVERTISEMENT
Festival selawat ini merupakan perlombaan berjenjang mulai dari kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Rangkaian kegiatan akan dimulai pada awal bulan Maret. Sementara puncak acara diadakan pada saat peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2018.
Pembukaan festival ini juga dimeriahkan oleh penampilan orkestra yang dipimpin Addie MS, penyanyi Haddad Alwi, Sulis Cinta Rasul, dan Sharla Martiza Isya'iah Putri.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan