Cerita Dosen UMY Bikin Mesin Roasting Kopi Otomatis Murah untuk Bantu UMKM
·waktu baca 3 menit

Coffee shop atau warung kopi tengah menjamur di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Banyak pelaku coffee shop merupakan UMKM. Salah satu kendala dalam merintis usaha ini adalah mahalnya harga mesin roasting atau sangrai kopi modern.
Umumnya mesin sangrai kopi modern berukuran besar, belum sepenuhnya elektrik, serta harganya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Kondisi ini mendorong Rinasa Agistya Anugrah untuk berinovasi. Dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Otomotif, Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu membuat mesin roasting kopi berukuran kecil untuk UMKM.
"Awalnya saya kan lihat-lihat di marketplace harga mesin roasting kopi harganya mahal-mahal dan rata-rata ukurannya besar-besar untuk yang modern yang elektrikal," kata Rinasa, saat dihubungi, Selasa (24/6).
Tak hanya berukuran kecil, mesin roasting buatan pria bergelar Master of Engineering itu juga harganya murah. Dipastikan masih bisa dijangkau oleh pelaku UMKM.
"Sasarannya UMKM kecil seperti kafe dia bisa bikin kopi sendiri. Dan ternyata di Yogya banyak kafe-kafe yang roasting sendiri bijinya," terangnya.
Harga Rp 5 Juta
Bersama tiga mahasiswanya, selama empat bulan dia mengembangkan mesin roasting kecil berkapasitas 1 kilogram kopi. Ukurannya 50 cm×25 cm dengan tinggi sekitar 30 cm.
"Awalnya saya bikin project untuk tugas akhir mereka (mahasiswa). Ada yang di bagian perancangan, ada yang di bagian sistem kontrolnya yang mengatur timer-nya biar mati sendiri (mesinnya), yang terakhir di pengujian kopi dan alatnya," terangnya.
Rinasa mengatakan ada kekosongan di segmen ini. Produsen tak menyediakan mesin roasting (murah). Sementara UMKM tak bisa menjangkau mesin roasting yang mahal. Harga mesin yang baru di pasaran bahkan bisa mencapai Rp 100 juta.
"Ukuran yang 1 kiloan ada, saya pernah menjumpai itu dia beli ukuran 1 kilogram bentuknya mesin lebih besar itu harganya Rp 35 juta dan itu bekas bukan harga baru," katanya.
Sementara mesin buatan Rinasa hanya seharga Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. Artinya terjangkau bagi perintis warung kopi.
"Terjangkau," katanya.
Tak hanya murah, mesin buatannya juga disebut memiliki keunggulan. Salah satunya adalah timer.
"Bisa diset dia mati sendiri saat dia matang. Dengan tingkat kematangan yang berbeda-beda. Ada yang light, medium, dan dark," bebernya.
Dengan keunggulan ini maka lebih efisien serta hasil sangrai yang terstandar. Mesin ini bisa untuk semua jenis kopi.
"Enggak perlu ditunggui. Kalau yang manual kan dicek, dibuka, ditunggui sudah matang apa belum," tuturnya.
Kendala ke depan adalah perlu peningkatan di alat agar bisa memiliki sensor suhu yang terintegrasi dengan waktunya.
"Sehingga bisa berubah-ubah waktunya (sangrai) tak perlu kita set sendiri lagi waktunya," bebernya.
Respons Positif
Rinasa menuturkan pada saat pengujian hasil kopi, kopi ditawarkan ke beberapa kafe dan responsnya positif.
"Ada kafe yang menerima dan dijual oleh kafenya (hasil roasting kopi tersebut). Dicoba kafenya katanya enak," jelasnya.
Artinya, hasil dari mesin murah ini bisa bersaing dengan mesin-mesin mahal yang ada di pasaran.
"Ada sisa (kopi roasting) inisiatif mahasiswa kami menawarkan ke kafe. Dan dibeli sama kafenya," katanya.
Berharap Produksi Massal
Sampai saat ini mesin ini masih protipe. Rinasa mengakui ada harapan agar mesin ini bisa diproduksi massal dan membantu banyak perintis warung kopi.
"Ini kan ada keinginan pribadi untuk produksi massal. Tapi ini kan dipatenkannya melalui UMY. Jadi pemilik patennya UMY. Saya sebagai inventornya bersama tiga mahasiswa saya itu," jelasnya.
Ketika hendak produksi massal maka tentu bersama UMY tidak diproduksi Rinasa secara individu.
"Harapan itu ada," jelasnya.
Sementara bagi perintis warung kopi yang saat ini ingin memesan menurut Rinasa bisa menghubungi UMY terlebih dahulu.
"Sebaiknya melalui UMY dahulu," pungkasnya.
