kumparan
8 Agu 2018 16:22 WIB

Cerita Ustaz Maaruf yang Selamat dari Reruntuhan Gempa karena Bulan

Video
Ustaz Maaruf (51) punya cerita yang tidak akan bisa dilupakan selama hidupnya saat gempa 7 magnitudo melanda Lombok Utara, Minggu (5/8) lalu. Gempa tersebut merobohkan bangunan masjid di Desa Lading-Lading, Lombok Utara. Maaruf pada saat sedang melaksanakan Salat Isya di Masjid Jabalnur yang kini ambruk.
ADVERTISEMENT
Seperti biasa, pada malam itu Maaruf rutin melaksanakan salat di masjid dekat rumahnya. Saat itu, ia datang ke masjid untuk melaksanakan salat Isya dan pengajian rutin. Namun, saat masuk rakaat ke-3 gempa menggoncang masjid.
“Rakaat pertama aman saja, setelah baca (surat) Al-Fatihah rakaat ke tiga langsung goyang, gempa sangat kencang,” kata Maaruf kepada kumparan di Desa Lading-lading, Lombok Utara, NTB, Rabu (8/8).
Saat gempa, Maaruf spontan memeluk tiang bagian tengah masjid. Sedangkan jemaah lainnya berusaha melarikan diri ke luar. “Saya sudah pasrah pada Allah. Saya pikir saya sudah mati tertimpa,” ujarnya.
Ustaz Maaruf yang selamatkan diri saat gempa (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Maaruf selamat setelah merangkak mendekati kubah dekat tiang yang dipeluknya. Ternyata ada tujuh orang lainnya yang juga merangkak ke arah kubah masjid yang terbuat dari fiber.
ADVERTISEMENT
“Terus enggak ada goyangan lagi. Saya sadar di samping saya ada nangis, terus ada sinar rembulan. Saya menuju cahaya, naik bongkahan bangunan. Setelah keluar terus ada orang di sana memanggil saya,” ujar Maaruf.
Setelah berhasil keluar sekitar pukul 19.40 WITA, pria yang bekerja sebagai kuli bangunan itu berlari menuju rumahnya yang tidak jauh dari masjid. Ia langsung mencari keluarganya.
“Saya sujud syukur, berizikir, masih diberi Allah kesempatan hidup. Habis itu saya lari ke rumah mertua, putus tangan mertua saya. Istri saya bilang ada tsunami, kami lari ke bukit,” imbuhnya.
Maaruf yang saat itu sangat panik. Ia bergegas membawa keluarganya ke arah bukti. Hanya pakaian di badan yang dibawa mengungsi ke gunung. Hingga saat ini keluarga Maaruf masih berada di tenda darurat bersama pengungsi lainnya di Desa Lading-lading.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan