News
·
25 November 2020 8:54

Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106007)
Megawati Soekarnoputri ketika memberikan pengarahan usai pengumuman calon kepala daerah di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu (19/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri, kembali mengenang ayahnya. Kali ini, memori itu ia sampaikan saat menjadi pembicara di acara 'Pembukaan Pameran Daring Bung Karno dan Buku-bukunya', Selasa (24/11).
ADVERTISEMENT
Bukan Megawati namanya kalau tidak menyelipkan 'curhatan' dan wejangan. Di momen ini, Presiden kelima RI itu tak hanya membagi kisahnya tentang Sukarno, tapi juga cerita saat ia 'di-lockdown' Puan Maharani dan memberi banyak wejangan ke Mendikbud, Nadiem Makarim, yang turut menjadi tamu acara.
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106008)
Ketua umum PDIP, Megawati Soekarno Putri di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu (19/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Kenang Desukarnoisasi
Desukarnoisasi merupakan upaya kebijakan Orde Baru untuk meminimalisir peranan dan kehadiran Sukarno. Menurut Mega, desukarnoisasi menjadi kelemahan bangsa Indonesia pada zaman Orde Baru bahkan berimbas ke kehidupan keluarga Sukarno.
"Pada tahun '65 yang merupakan, menurut saya, kekurangan bangsa Indonesia adalah karena waktu itu ada sebutan buat Bung Karno untuk dilakukannya desukarnoisasi. Saya sebagai mahasiswa saat itu sampai kena imbasnya, tak bisa kuliah," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, kala itu, banyak buku Sukarno disembunyikan. Megawati mengaku heran, karena buku-buku itu semestinya bisa menjadi warisan sejarah, namun malah dihilangkan.
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106009)
Pengambilan foto reka kejadian dilokasi yang sama dari Presiden Sukarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI Tahun 1945. Foto: Nugroho Sejati/kumparan dan ANTARA FOTO/IPPHOS
"Jadi bayangkan, kita manusia Indonesia sepertinya waktu zaman Pak Harto itu enggak boleh orang baca buku beliau. Saya suka mikir, kenapa, ya, kalau sebagai pengetahuan? Tidak boleh, bagian dari politik desukarnoisasi enggak ada orang berani ngomong," tuturnya
"Mohon maaf, seperti memandulkan kemampuan intelektual kita. Sampai buku-buku itu disembunyikan, [buku] Di Bawah Bendera Revolusi itu ekstraksi kalau dibaca," sambung Mega.
Saat Sukarno Pacari Gadis Belanda untuk Belajar Bahasa
Megawati bercerita betapa kakeknya sangat menginginkan Sukarno belajar karakter Belanda, sebagai salah satu negara yang menjajah Indonesia. Salah satunya dengan menguasai bahasanya.
ADVERTISEMENT
Menurut Mega, kakeknya bahkan meminta Sukarno masuk sekolah Belanda untuk mengerti bagaimana cara berpikir orang Belanda hingga bisa fasih berbahasa Belanda yang baik. Termasuk memacari gadis Belanda.
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106010)
Megawati Soekarnoputri ketika memberikan pengarahan usai pengumuman calon kepala daerah di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu (19/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
"Eyang kakung bilang [ke Sukarno], 'kamu mesti punya pacar gadis Belanda'. Sampai sedemikian rupa membentuk karakter dari Bung Karno. Saya pernah bertanya ke ayah saya, 'betul Bapak dapat pacar yang namanya gadis Belanda? 'Oh iya, saya dapat'. Terus kenapa enggak jadi? 'Saya enggak mau jadikan dia istri, cuma mau belajar bahasa Belanda," tutur Mega, menceritakan obrolannya dengan ayahnya saat itu.
"Pernah ketemu lagi [saya tanya]? 'Oh iya, untung enggak jadi suaminya, dia sudah jadi perempuan yang gemuk'. Bapak saya orangnya humoris, jadi bayangkan karakter ini selain melihatnya dia seorang politisi, dia pejuang. Dia manusia, sangat humanis," beber Megawati.
ADVERTISEMENT
Cerita di-Lockdown oleh Puan
Obrolan soal Sukarno bergeser ke hal lain. Mega mengaku telah di-lockdown selama sembilan bulan oleh keluarganya akibat pandemi COVID-19.
Imbasnya, Mega hanya bisa beraktivitas dari rumah, salah satunya menjadi pembicara webinar secara virtual. Sebab, keluarganya mengingatkan bahwa ia masuk kategori rentan karena sudah lansia (73 tahun).
"Itu susahnya, saya di-lockdown sama keluarga anak saya karena saya sudah berumur. Wah protokolnya, 'makanya mama hanya boleh keluar webinar, enggak boleh ketemu orang'," cerita Mega.
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106011)
Ketua DPR Puan Maharani resmikan Monumen Soekarno di Aljazair secara virtual. Foto: Dok. Istimewa
Bahkan, ia sempat bercanda kepada putrinya yang juga Ketua DPR, Puan Maharani, yang berkukuh meminta ibunya tidak boleh keluar rumah. Puan hanya membolehkan ibunya keluar hanya jika dipanggil oleh Presiden Jokowi.
"Saya sampai guyon, saya bilang sama Mbak Puan, putri saya, Ketua DPR. Saya suka bilang gini, Ketua DPR, 'kalau mama masih punya anak, mama, nih, sekarang sudah punya satu bayi'. Sembilan bulan lho, saya, mamanya di-lockdown enggak boleh keluar. Oh, yang boleh ditemui hanya kalau presiden manggil," kata Megawati.
ADVERTISEMENT
Mengaku di-bully soal ucapan 'jangan manjakan milenial'
Megawati juga menyinggung soal pernyataannya terdahulu terkait generasi milenial. Saat itu, Mega pernah meminta Jokowi untuk tak memanjakan generasi milenial. Mega mengaku, pernyataan ini kemudian viral dan membuatnya di-bully.
"Saya bilang ke Pak Jokowi, anak-anak milenial jangan dimanjakan. Wah reaksinya saya di-bully lho, lho, kenapa saya di-bully. Betul, dong, kita mendidik anak kita kan tidak dengan pemanjaan," kata Megawati.
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106012)
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberi arahan tertutup di penutupan Rakernas PDIP, Minggu (12/1/2020). Foto: Dok. PDIP
'Politik Hari Ini Hebah Heboh, Saya Pikir Tujuannya Apa, Toh?'
Mega juga menyoroti kemajuan teknologi yang kini justru banyak disisipi disinformasi. Megawati mengadu sempat mengadu ke Menkominfo Johnny G Plate agar teknologi dapat dimanfaatkan masyarakat sesuai dengan tujuannya.
Megawati juga menyinggung banyaknya hoaks yang beredar dan dikaitkan dengan kondisi perpolitikan Indonesia. Menurutnya, hoaks tersebut hanya bisa menimbulkan kehebohan.
ADVERTISEMENT
"Mau apa, sih, sebetulnya? Sekarang kan politik hari ini hebah-heboh, hebah-heboh, saya pikir tujuannya mau apa, toh?" ucap Megawati.
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106013)
Mendikbud Nadiem Makarim saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8). Foto: Puspa Perwitasari/ANTARA FOTO
'Pak Nadiem, Please, Kasih Kesempatan ke Anak RI, Bukan Saya Antiasing'
Megawati memberikan pesan virtual langsung ke Nadiem. Ia meminta Nadiem memberi lebih banyak kesempatan kepada anak-anak Indonesia dan jangan seringkali memberi kesempatan kepada orang asing.
"Saya mesti ngomong sama Pak Nadiem, Pak Nadiem, please, kasih kesempatan ke anak-anak kita. Saya suka protes, bukan saya antiasing," kata Megawati.
"Bayangkan, mau bikin ini konsultannya orang asing, yang buat ini orang asing. Kayak enggak ada orang pintar di Republik ini," lanjutnya.
Singgung beratnya tanggung jawab Nadiem
Megawati juga mengingatkan tugas Nadiem dalam mendidik generasi penerus Indonesia. Salah satunya mendidik bagaimana pelajar bisa memahami sejarah Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Kalau kita bicara sejarah, maunya sejarah apa yang kita punya? kita bikin sendiri-sendiri? Kita tulis maunya ke mana saja. Coba hayo Pak Nadiem, saya nyebut Anda karena tanggung jawab berat, lho," kata Megawati.
Mega menyebut, pengenalan sejarah Indonesia dapat dilakukan dengan memperkenalkan Sukarno melalui tulisan dan buku ayahnya.
"Hal-hal ini kan sejarah kita, kita lho, bukan saya, yang harus kita hayati. Cara menghayatinya gimana? Kan harus, kalau saya mengerti maksudnya, mau sosialisasikan lagi untuk bicara soal Bung Karno lagi," tandas dia.
Curhat Megawati: Desukarnoisasi Orba hingga Beri Pesan ke Nadiem (106014)
Mendikbud Nadiem Makarim saat melakukan rapat kerja dengan Komisi X DPR RI. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Usul Buku Sukarno Masuk dalam Kurikulum
Megawati mengusulkan agar buku-buku Sukarno dijadikan kurikulum dalam pendidikan Indonesia. Menurutnya, pemikiran Sukarno sangat menarik untuk dibedah.
"Alangkah sayangnya maksud saya, dari pikiran-pikiran yang telah diserap oleh seorang Bung Karno, yang seharusnya kalau menurut saya Pak Nadiem, itu harus jadi salah satu kurikulum untuk baca," kata Megawati.
ADVERTISEMENT
"Karena apa, menurut saya membaca buku Bung Karno selain membuka jendela dunia, dengan beliau bertemu tokoh-tokoh dunia, itu juga mengekstrasi pikiran-pikiran dari banyak tokoh dunia yang dikenal beliau lewat buku-bukunya. Ya sosial, politik, budaya, ekonomi," pungkasnya.