kumparan
18 Juli 2018 12:09

Demo Ibu-ibu di Istana: Mobil Komando FPI hingga #2019GantiPresiden

Mobil komando demonstrasi barisan emak-emak militan Indonesia di depan Istana. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
Sejumlah massa tergabung dalam Barisan Emak-Emak Militan (BEM) Indonesia tengah menggelar aksinya di depan Istana Merdeka, tepat di Silang Monas Jalan Merdeka Barat. Mereka menuntut pemerintah bertindak untuk menurunkan harga kebutuhan pokok.
ADVERTISEMENT
Pantauan kumparan, Rabu (18/7), sekitar pukul 10.56 WIB massa menyuarakan akisnya dengan dipimpin seorang orator di atas mobil komando berwarna putih. Mobil ini berhiaskan logo Fornt Pembela Islam (FPI).
Aksi demonstrasi barisan emak-emak militan Indonesia di depan Istana. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Selain itu, sejumlah emak-emak yang ikut dalam aksi juga mengenakan pin dan kaus yang bertuliskan #2019GantiPresiden. Tidak hanya itu, orator mendengungkan 'ganti presiden' di sela-sela orasi.
"Turunkan harga, turunkan harga BBM, turunkan rencana kenaikan gas. Atau kalian yang akan kami trurunkan," ujar orator.
Aksi demonstrasi barisan emak-emak militan Indonesia di depan Istana. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Dalam aksinya, para emak-emak membawa beberapa perabot rumah masak, seperti panci, penggorengan, dan codet.
Hingga pukul 11.38 WIB, demo masih berlangsung.
Aksi demonstrasi barisan emak-emak militan Indonesia di depan Istana. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Seorang peserta aksi, Putri (45) mengatakan tidak koordinasi khusus sebelum aksi ini. Semua peserta aksi hanya berkomunukasi melalui WhatsApp dan langsung berkumpul di depan Istana untuk berunjuk rasa.
ADVERTISEMENT
"Pada langsung ke lokasi. Kita enggak pernah rapat, kirim di sosial media aja, siapa yang minat langsung kumpul di sini," kata Putri di lokasi.
Ibu lainnya, Haja (46) mengatakan, dirinya tahu mobil komando yang digunakan dalalm aksi ini merupakan milik FPI. Tapi, dia tak tahu persis mobil ini sengaja disewa atau memang bagian dari dukungan FPI terhadap ibu-ibu.
"Enggak tahu. Kan sesama Muslim mereka juga tahu, pasti kasih," imbuh dia.
Sementara, ibu bernama Neneng (45) mengatakan, dirinya sangat merasakan dampak kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. Biasanya, uang yang diberikan sang suami cukup, tapi sekarang tidak cukup.
"Saya jujur aja, biasanya cukup sekarang tidak. Kalau dia kasih saya uang Rp 50 ribu bisa beli ayam, telor sayur. Ini enggak cukup sekarang," jelas dia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan