kumparan
1 Maret 2019 14:11

Diduga Gangguan Jiwa, Ibu di Cakung Bunuh Anak Balitanya

Ilustrasi pembunuhan. Dok: kumparan.
Seorang anak berusia 3 tahun tewas dengan luka tusukan di tubuhnya. Balita tersebut tewas di tangan ibu kandungnya bernama Lisa (22), yang diduga mengalami gangguan jiwa.
ADVERTISEMENT
“Pada Kamis (28/2) pukul 19.30 WIB, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (KSPK) Aiptu Joko Sudiono menerima telepon dari RS Firdaus Sukapura, Jakarta Utara, memberitahukan ada anak usia 3 tahun meninggal dunia jatuh di kamar mandi. Namun secara kasat mata ada kekerasan fisik terhadap anak korban,” ucap Kapolsek Cakung, Kompol Imam Irawan, melalui keterangan tertulisnya, Jumat (1/3).
Akhirnya di hari yang sama, polisi langsung menurunkan tim untuk melakukan olah TKP dan mencari keterangan tambahan. Di TKP RT 002/09, Cakung Barat, polisi menginterogasi 2 orang saksi, yakni Lita Wati dan Herawati. Keduanya merupakan tetangga korban.
“Menurut cerita saksi, sekitar pukul 18.30 WIB, saksi mendengar dari dalam rumah teriakan pelaku minta tolong, namun pintu dikunci dari dalam. Selanjutnya keduanya mendobrak pintu rumah kontrakan pelaku," jelas Imam.
ADVERTISEMENT
"Setelah terbuka, kedua saksi melihat korban dengan posisi terlentang di kasur mengalami luka tusuk pada bagian dada kiri dan 4 luka tusukan pada bagian dahi,” sambungnya.
Kedua saksi juga menemukan sebilah pisau di dekat korban. Sedangkan Lisa, ditemukan di kamar mandi dengan hanya memakai celana dalam. Ibu Lisa bernama Litawati, tak lama kemudian datang dan membawa anak Lisa ke RS Firdaus, Jakarta Utara.
“Dugaan sementara, hasil olah TKP dan keterangan saksi-saksi serta luka di tubuh ibunya (Lisa), diduga dilakukan kekerasan terhadap anaknya hingga meninggal dunia,” ucap Imam.
Sementara itu, Lisa saat ini sudah dibawa ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Polisi mengobservasi pelaku tentang dugaan wanita ini mengalami gangguan psikis.
ADVERTISEMENT
“Polisi membawa pelaku ke RS Sukanto Kramat Jati untuk dilakukan obeservasi, apakah ada gangguan jiwa atau tidak dan dilakukan pemeriksaan psikologi/psikiatrikum,” tutup Imam.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan