Diduga Korupsi, Presiden Afsel Terancam Dimakzulkan

13 Desember 2022 19:14
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa. Foto: Sumaya Hisham/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa. Foto: Sumaya Hisham/REUTERS
Anggota parlemen sedang bersiap memperdebatkan usulan untuk memulai proses pemakzulan terhadap Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, pada Selasa (13/12).
Sesi parlemen akan membahas temuan panel independen yang menuduhnya menyembunyikan pencurian uang di pertaniannya.
Parlemen lalu akan mengadakan pemungutan suara untuk menentukan apakah mereka akan meluncurkan penyelidikan panjang yang dapat berakhir dengan pencopotan Ramaphosa.
Pemungutan suara tersebut akan membutuhkan dukungan dari dua pertiga mayoritas anggota parlemen untuk berhasil.
Pria berusia 70 tahun itu tampaknya dapat menepis upaya Parlemen Afsel. Sebab, dia dapat mengandalkan dukungan dari Partai African National Congress (ANC) yang berkuasa di Afsel.
ANC memegang 230 dari 400 kursi Majelis Nasional.
"Kami akan menggunakan jumlah kami sebagai ANC karena kami tidak dapat didikte oleh panel yang tidak objektif," tegas Menteri Komunikasi Afsel, Khumbudzo Ntshavheni, sebelum memasuki parlemen, dikutip dari AFP, Selasa (13/13).
"Kami tidak akan diintimidasi oleh siapa pun," lanjut dia.
Ilustrasi korupsi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi korupsi. Foto: Shutter Stock
Analis memperkirakan, para anggota parlemen dari ANC akan tunduk pada keputusan partai tersebut menjelang pertemuan penting pada Jumat (16/12). Mereka akan mengadakan konferensi yang berlangsung setiap lima tahun sekali untuk memilih pemimpin baru.
"[Konferensi ANC] memberikan kesempatan kepada para anggota untuk membuat perubahan di tingkat partai, di tempat yang paling penting," terang analis politik dari Nelson Mandela University, Ongama Mtimka.
Walau begitu, ANC semakin terbelah akibat skandal korupsi tersebut. Eksekutif nasional ANC berjanji akan menolak setiap upaya yang memaksa lengsernya Ramaphosa. Keputusan ini mengecewakan bagi beberapa orang yang menganggapnya sebagai tekanan.
Ramaphosa diperjuangkan sebagai penyelamat bagi Afsel usai pendahulunya yang korup, Jacob Zuma. Selama masa jabatannya, Zuma selamat dari beberapa mosi tidak percaya. Partainya sendiri lalu memaksa Zuma untuk mengundurkan diri pada 2018.
Kendati demikian, beberapa pihak memperkirakan, perdebatan dalam parlemen mendatang bisa berlangsung lama dan pahit. Partai-partai oposisi menampilkan persatuan mendalam terkait masalah tersebut, termasuk partai oposisi terbesar, Democratic Alliance.
"ANZ tidak boleh menggunakan tirani mayoritas mereka untuk melindungi seorang presiden dari penyelidikan," jelas pemimpin Democratic Alliance, John Steenhuisen.
Mantan Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma Foto: Reuters/Siphiwe Sibeko
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma Foto: Reuters/Siphiwe Sibeko
Bila oposisi menempuh jalannya sendiri, Ramaphosa bisa mengadang penyelidikan lebih lanjut selama setahun menuju pemilu pada 2024.
Presiden yang merupakan seorang pengusaha kaya sebelum memasuki dunia politik ini mulai menjadi sorotan pada Juni.
Pengaduan terhadapnya diajukan kepada polisi oleh seorang mantan bos mata-mata Afsel, Arthur Fraser. Dia menuding, Ramaphosa menyembunyikan pencurian dari pertanian mewahnya pada 2020.
Fraser meyakini, Ramaphosa menculik para perampok dan menyuap mereka agar diam alih-alih melaporkannya kepada pihak berwenang.
Karyawannya kemudian mengatakan, Ramaphosa pernah mengakui pencurian uang tunai senilai USD 580.000 (Rp 9 miliar). Dana tersebut disimpan di bawah bantal sofa di tanah pertaniannya.
Sejak tudingan itu dilayangkan, penyelidikan polisi masih berlangsung. Ramaphosa belum didakwa dengan kejahatan apa pun.
Dia juga telah membantah melakukan kesalahan. Ramaphosa menerangkan, uang itu berasal dari penjualan sejumlah kerbau kepada seorang pengusaha Sudan.
Pengusaha tersebut baru-baru ini mengonfirmasikan transaksinya dengan Ramaphosa dalam sebuah wawancara dengan media Inggris.