Duka Keluarga Remaja Afsel yang Meninggal Misterius di Kelab Malam: Saya Hancur

28 Juni 2022 10:02
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Sejumlah warga dan kerabat menunggu kabar di luar pub kota East London, Afsel pada Minggu (26/6/2022). Foto: STR/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga dan kerabat menunggu kabar di luar pub kota East London, Afsel pada Minggu (26/6/2022). Foto: STR/AFP
ADVERTISEMENT
Afrika Selatan (Afsel) pada Senin (27/6/2022) diselimuti duka dan kemarahan. Emosi-emosi muncul pasca-kematian misterius 21 remaja di sebuah kelab malam di East London pada akhir pekan.
ADVERTISEMENT
21 remaja tersebut tewas ketika sedang merayakan akhir ujian sekolah dan pesta ulang tahun di kelab malam Enyebenyi Tavern. Korban termuda dikabarkan adalah seorang gadis yang masih berusia 13 tahun.
Hasil investigasi sementara mengatakan mereka kemungkinan tewas setelah tidak sengaja diracuni oleh sesuatu yang mereka hirup, makan, atau minum.
Polisi memasang garis pengaman di sekitar pub kota di East London, Afrika Selatan pada Minggu (26/6/2022). Foto: STR/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Polisi memasang garis pengaman di sekitar pub kota di East London, Afrika Selatan pada Minggu (26/6/2022). Foto: STR/AFP
Kematian mereka pun diiringi oleh curahan kesedihan dan keterkejutan warga Afrika Selatan yang cenderung terbiasa dengan kasus cedera, terkait dengan budaya pesta minuman keras yang kental di sana.
Pada pertemuan doa di sebuah gereja lokal, pelayat dan imam bernyanyi, berdoa, dan menangisi kematian anak-anak itu.
"Saya sangat hancur. Kami sangat marah," ungkap Maxhabiso Sibotoboto, dikutip dari Reuters.
Cucu perempuan Sibotoboto yang berusia 17 tahun, Monelo, termasuk di antara korban yang tewas. Ia mengatakan, Monelo tidak tinggal bersama orang tuanya, karena ayahnya telah meninggal dan ibunya bekerja jauh dari rumah.
ADVERTISEMENT
"Orang-orang mengeluh tentang kedai itu. Tidak ada yang senang dengan hal itu. Masyarakat ingin kedai itu ditutup," tegas Sibotoboto.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Penduduk Scenery Park, di tepi London Timur, mengatakan mereka telah meminta pihak berwenang untuk menutup Enyobeni Tavern sejak pekan lalu. Pasalnya, kelab malam ini kerap menjual minuman keras kepada anak-anak di bawah umur, yang merupakan tindakan kriminal.
Menyusul kejadian pada akhir pekan, juru bicara Dewan Minuman Keras Eastern Cape, Mgwebi Msiya, mengatakan bahwa izin minuman kedai Enyobenyi Tavern telah dicabut pada Senin.
"Kami sangat sedih, teman-teman. Kami kehilangan salah satu anggota keluarga kami, seorang anak yang duduk di kelas 12 tahun ini. Kami tidak dapat menerimanya," kata bibi salah satu korban, Yandiswa Ngqoza, di luar kamar mayat sambil mengenakan pakaian hitam.
ADVERTISEMENT
Beberapa menit sebelumnya Ngqoza telah memasuki kamar mayat dan mengidentifikasi keponakannya, yang namanya tidak diungkapkan.
"Dari penampilan anak itu, dia tidak memiliki luka yang terlihat," ungkap Ngqoza, sebelum menangis tersedu-sedu.
Mayat-mayat di Enyobenyi Tavern kabarnya ditemukan terbaring dalam posisi janggal. Mereka seolah-olah terjatuh ke lantai saat menari atau di tengah-tengah obrolan secara tiba-tiba.
Berdasarkan gambar yang beredar di media sosial, beberapa mayat tampak tersungkur di kursi dan berbaring di atas meja. Tidak terlihat adanya luka di badan mayat-mayat yang tergeletak di kelab itu.
Hasil otopsi diharapkan dapat segera memberikan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi pada mereka di Enyebenyi Tavern. Pihak berwenang juga dikabarkan akan membuat laporan toksikologi para korban sebagai bagian dari penyelidikan.
ADVERTISEMENT
Penulis: Airin Sukono.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020