News
·
31 Agustus 2020 20:58

Eijkman: Mutasi Virus Corona D614G Tak Ganggu Pengembangan Vaksin

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Eijkman: Mutasi Virus Corona D614G Tak Ganggu Pengembangan Vaksin (49131)
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio seusai RDPU dengan Komisi VII DPR, Senin (17/2). Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan
Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Universitas Airlangga menemukan sejumlah kasus corona di Indonesia yang mengandung mutasi D614G. Mutasi virus ini disebut-sebut lebih berbahaya karena 10 kali lebih menular.
ADVERTISEMENT
Namun, Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio, memastikan belum ada bukti ilmiah infeksi akibat D614G lebih berat dan berbahaya. Selain itu, Amin menegaskan mutasi virus corona ini tidak akan mengganggu pengembangan vaksin.
Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan vaksin Merah Putih buatan Eijkman yang diperkirakan rampung pertengahan 2021. Sementara vaksin lainnya, Sinovac buatan China, akan diproduksi Bio Farma pada awal 2021.
"Mutasi itu terjadi pada spike-nya, tapi tidak mengganggu bagian spike [yang] menempel pada reservoir manusia. Jadi vaksin juga tidak terganggu mutasi tersebut," kata Amin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR, Senin (31/8).
Eijkman: Mutasi Virus Corona D614G Tak Ganggu Pengembangan Vaksin (49132)
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
"Jadi, kalau ada isu di luar [bahwa] mutasi di Indonesia sudah banyak, meski ada 8 [kasus] dari 22, kami antisipasi akan ada banyak ke depannya. Tapi lebih banyak ke epidemiologi molekuler, tapi tidak mempengaruhi pengobatan, vaksin, dan protokol kesehatan," sambungnya.
ADVERTISEMENT
Senada, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek, Ali Ghufron Mukti, menilai penelitian mengenai mutasi virus ini masih akan diteliti lebih lanjut. Untuk itu, pihaknya mendukung riset untuk pengurutan keseluruhan genom atau whole genome sequencing corona di Indonesia.
"[Mutasi D164G] ini ramai setelah riset Times dimuat dan dikatakan PM Malaysia. Sebetulnya ini yang enggak diketahui. Di Indonesia, khususnya di Unair sejak April sudah melaporkan [mutasi] ini," tutur Ali.
"Ini perlu dokter klinik untuk meneliti lebih lanjut, maka kami dukung untuk whole genom. Kami paling enggak 200 atau 2000 [genom]. Ini kita dukung biar terutama banyak yang muda-muda cepat meninggal, dokter sudah 100 meninggal. Kenapa cepat sekali, kami belum tahu," imbuh Ali.
ADVERTISEMENT
Karakter mutasi D614G pertama kali ditemukan di Eropa pada Januari dan melonjak hingga akhir Maret 2020, juga ditemukan di Malaysia. Belakangan, peneliti Unair dan Eijkman juga menemukan karakter mutasi pada beberapa kasus di Indonesia seperti di Eropa.
"Indonesia, kalau lihat di Jatim dan barat Jawa (termasuk Jakarta), Indonesia masih sangat terbatas datanya. Masih 21 virus yang sudah di-submit. Dan mutasinya ditemukan sekitar 8 datanya di Indonesia, di Jabar dan Jatim, dan ditemukan juga di Surabaya mutasi ini," ungkap ahli biomolekuler Unair dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih dalam webinar internasional bertajuk 'Ending Pandemics Covid-19: Effort and Challenge, yang dikutip kumparan, Jumat (28/8).
Namun menurutnya, informasi soal mutasi virus corona di Indonesia ini masih membutuhkan analisis seluruh karakter virus. Termasuk mendalami dampak yang ditimbulkan akibat mutasi tersebut.
ADVERTISEMENT
Pernyataan Unair juga dibenarkan Eijkman. Temuan itu didapat di beberapa kasus di Jakarta, Yogyakarta, Tangerang hingga Bandung.
"Terkait mutasi virus corona, pertama dapat dilaporkan dari 22 whole genome sequencing yang sudah di-submit seluruh institusi di Indonesia dari Surabaya, Bandung, Yogya, LIPI, dan Eijkman, ternyata ada 8 yang mengandung mutasi D614G dengan distribusinya di bulan Mei itu dilaporkan Unair," kata Amin.
"Kemudian yang 7 adalah belakangan dari Tangerang, Yogya, Bandung, dan Jakarta," tuturnya.
***
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
***