kumparan
News6 Mei 2020 17:10

Eks Napiter: Kondisi seperti Wabah Corona Ditunggu Teroris

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi Teroris.
Ilustrasi Teroris Foto: Shutter Stock
Mantan narapidana terorisme, Sofyan Tsauri, mengatakan situasi serba sulit akibat adanya pandemi virus corona saat ini, adalah lahan subur bagi aksi-aksi terorisme.
ADVERTISEMENT
Katanya, situasi seperti inilah yang ditunggu-tunggu para kelompok-kelompok teroris.
“Seandainya saya seorang jihadis, karena pernah mantan, file itu di kepala itu masih ada. Dan situasi seperti ini memang ditunggu-tunggu kalangan jihadis. Karena memang pemikiran-pemikiran kekerasan ini, teroris, tidak akan bisa berkembang, tidak akan bisa hidup dalam kondisi misalnya perut kenyang,” ungkap Sofyan dalam sesi diskusi bertajuk ‘Waspada Kejahatan Terorisme di Era Corona’ yang digelar forum SekalilagiID, Rabu (6/5).
Sofyan Tsauri
Sofyan Tsauri. Foto: Antara Foto
Sofyan lantas menjelaskan, bahwa habit terorisme adalah pada situasi yang kacau, misal adanya ketidakpastian ekonomi, sosial ataupun politik di suatu wilayah atau negara. Dia mencontohkan bagaimana teroris bisa berkembang subur di beberapa negara lantaran adanya perang, atau krisis lainnya.
Hal itu, katanya, bisa pula mengancam Indonesia bila memang menjadi kacau karena corona. Mereka akan memanfaatkan isu-isu liar yang menyerang pemerintahan untuk menimbulkan kegamangan masyarakat. Dengan begitu, potensi menyebarkan ideologi semakin terbuka.
ADVERTISEMENT
“Artinya apa, kelompok-kelompok ini, mereka memanfaatkan ketidakbecusan mengelola konflik di sebuah negara, itu akan dimanfaatkan,” ujarnya.
Virus Corona- Ilustrasi obat virus corona.
Ilustrasi obat virus corona. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Sofyan menyebut sudah mulai melihat tanda-tanda seperti itu di Indonesia, terutama di dunia online. Teranyar, polemik TKA China pun menjadi isu yang dimanfaatkan teroris untuk menebar ketidakpercayaan kepada pemerintah dan menebar kebencian.
“Berapa kita lihat isu seperti, saya juga ikut dalam beberapa grup misalnya, muslim cyber army dan sebagainya, itu terus isu-isu seperti ini digoreng sedemikian rupa," ujarnya.
“Di beberapa sosial media di Facebook misalnya, itu malah, saya tidak tahu berita ini sudah terkonfirmasi atau belum, tentang pembakaran toko-toko China di Nigeria. Beritanya di-screenshoot kemudian diberitakan disebarkan bagaimana mereka mengatakan bahwa ras Afrika itu jauh lebih peka daripada ras orang-orang Jawa, maksudnya menyindir bahwa kenapa orang di Indonesia tidak menyalahkan orang China ini,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
Terkait itu, Sofyan pun meminta agar masyarakat mewaspadai narasi-narasi yang mungkin saja ditunggangi teroris di media sosial. Menurutnya, meski masih merupakan pembacaan pribadi, aksi-aksi terorisme di masa pandemi corona itu patut diwaspadai.
Sofyan adalah mantan anggota Jemaah Ansharut Daullah (JAD) yang kemudian bergabung dengan jaringan teroris Al Qaida Asia Tenggara dengan nama Abu Ayas. Ia ditangkap Densus 88 di kawasan Narogong, Bekasi, 6 Maret 2010. Setelah tertangkap, Sofyan divonis penjara 10 tahun oleh Pengadilan Negeri Depok. Ia bebas karena mendapat remisi sejak 21 Oktober 2015.
Sofyan dulunya merupakan bekas anggota Satuan Sabhara dan Binmas Polresta Depok. Sofyan diberhentikan dengan tidak hormat dari Polri pada 2009.
***
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
ADVERTISEMENT
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan