False Positive Pada Alat Rapid Test di Bali

kumparanNEWSverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi rapid test virus corona. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rapid test virus corona. Foto: Dok. Istimewa

Pemprov Bali membeli 3.800 kit rapid test virus corona. Namun, alat itu diragukan akurasinya. Hal ini membuat warga khawatir, terutama yang sudah menjalani rapid test dengan alat tersebut.

Hasil tes positif mencapai 443 dari 2.640 warga menyimpulkan dugaan adanya tingkat akurasi yang rendah dan bisa menimbulkan false positive pada alat rapid test itu.

Alat rapid test corona tersebut berjenis IgG/IgM COVID-19 bermerek Vivadiag yang dipakai di Banjar Serokadan, Desa Abuan, Kabupaten Bangli, Bali, pada 30 April.

"Kita beli 3.800 (kit)," kata Kepala Dinas Kesehatan Bali, I Ketut Suarjaya, Senin (11/5).

Ilustrasi petugas membawa sejumlah darah untuk rapid test massal saat mewabahnya virus corona. Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta

Suarjaya enggan menjawab pertanyaan mengenai harga rapid test. Dia menegaskan sudah melaporkan kasus ini kepada Kemenkes dan masih menunggu jawabannya.

"Sedang di Kemenkes paling nunggu hasilnya. Saya masih menunggu hasilnya bagaimana," ungkapnya.

Gubernur Bali I Wayan Koster juga enggan membahas pembelian rapid test itu, termasuk harganya. Sebab, warga di Banjar Serokadan sudah menjalani tes swab PCR. Banjar merupakan wilayah administratif setingkat rukun warga (RW).

"Enggak perlu lagi bicara rapid test, karena sudah dilakukan swab berbasis PCR dan hasilnya bagus. Di-swab dan sudah negatif," kata Koster di Rumah Jabatan Gubernur, Senin (11/5).

Gubernur Bali Wayan Koster. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Selain itu, ia menyebut Pemprov Bali tak jadi membeli rapid test kit VivaDiag dan barangnya sudah dikembalikan.

"Enggak jadi beli, sudah dibalikin semua. (Yang sudah dipakai) Belum dibayar. Pabriknya tanya," imbuh Koster.

Atas temuan ketidakakuratan hasil rapid test menggunakan alat tersebut, distributor memang telah menariknya. PT Kirana Jaya Lestari selaku perusahaan distributor telah menarik seluruh alat dengan spesifikasi tersebut dan menggantinya dengan alat baru.

"Penghentian penggunaan dan penarikan sementara khusus untuk Lot no 3097 dari semua fasilitas pelayanan kesehatan yang telah menerima Lot no 3097 dan digantikan dengan produk Lot number berbeda," kata Direktur PT Kirana Jaya Lestari, Aurelia Kirana Lestari, lewat keterangan tertulis.

Ilustrasi Rapid Test Virus Corona. Foto: Dok. Istimewa

Selain itu, PT Kirana Jaya Lestari juga telah melaporkan ke Kemenkes. Distributor juga telah meminta produsen di China untuk mengecek masalah teknis.

PT Kirana Jaya Lestari membantah jika alat yang mereka impor tak melewati proses standardisasi. Mereka mengklaim memiliki Sertifikat Distribusi Alat Kesehatan (SDAK) dari Kementerian Kesehatan dan telah mendapatkan sertifikat CDAKB (Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik).

Proses impor Rapid Test VivaDiag IgG/IgM COVID-19 dilakukan dengan Rekomendasi BNPB dengan No B276/BNPB/HOKS/KU.08/03/2020 yang terbit pada tanggal 31 Maret 2020 dan ditandatangani oleh Kepala Biro Hukum Organisasi dan Kerjasama BNPB.

"Sehingga dalam melakukan importasi dan distribusi alat kesehatan selalu mengikuti peraturan dan prosedur yang berlaku," tambahnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Menanggapi hal tersebut, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Letjen Doni Monardo, menegaskan rapid test memang keakuratannya rendah.

Rapid test merupakan upaya awal mendeteksi virus corona dengan mendeteksi antibodi. Seseorang yang terindikasi positif berdasarkan rapid test harus menjalani tes swab PCR yang menjadi patokan.

"Menyangkut alat rapid test, perlu kita ketahui bersama tingkat akurasi rapid test ini masih rendah. Makanya sampai sekarang WHO belum menjadikan rapid test sebagai alat ukur seseorang terpapar COVID. Masih memberikan prioritas kepada pemeriksaan swab PCR test," kata Doni dalam konferensi pers virtual, Senin (11/5).

kumparan post embed

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

--------------------------------

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.