Kumparan Logo
Suasana Langit Kota Jambi yang Memerah akibat Asap Karhutla
Suasana Langit Kota Jambi yang Memerah akibat Asap Karhutla.

Fenomena Langit Memerah di Jambi karena Karhutla

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Langit merah di Bandara Sultan Thaha di Jambi sore ini. Foto: Dok. Olivi
zoom-in-whitePerbesar
Langit merah di Bandara Sultan Thaha di Jambi sore ini. Foto: Dok. Olivi

Fenomena langit memerah terjadi di sejumlah daerah dalam Provinsi Jambi. Kejadian akibat asap pekat hasil kebakaran hutan ini pertama kali direkam saat berlangsung di Kecamatan Kumpe Ilir, Kabupaten Muaro Jambi.

Hasil analisis BMKG dari citra satelit Himawari-8 di sekitar Muaro Jambi, memang tampak terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal.

Asap karhutla di Muaro Jambi ini berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran. Wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat, namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap yang sangat tebal.

Keadaan itu, disebut Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, yang membuat langit memerah.

"Jika ditinjau dari teori fisika atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak, langit berwarna merah ini disebabkan oleh adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol), dikenal dengan istilah hamburan mie (Mie Scattering). Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari," terang Siswanto.

Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer. Dari data BMKG, konsentrasi debu partikulat polutan berukuran <10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru.

Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Ini berarti debu polutan di daerah tersebut dominanberukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi. Selain konsentrasi tinggi, tentunya sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah.

Mengapa dikatakan ukuran partikel bisa lebih dari 0.7 mikrometer? Ini dikarenakan mata manusia hanya dapat melihat pada spektum visibel (0.4-0.7 mikrometer).

"Tahun 2015, di Palangkaraya juga pernah diberitakan beberapa kali mengalami langit berwarna orange akibat kebakaran hutan dan lahan, yang berarti ukuran debu partikel polutan (aerosol) saat itu dominan lebih kecil / lebih halus (fine particle) daripada fenomena langit memerah di Muaro Jambi kali ini," pungkas Siswanto.

Suasana Langit Kota Jambi yang Memerah akibat Asap Karhutla. Foto: Dok. Jambikita

Kondisi tak kunjung membaik pada Minggu (22/9). Sejumlah warga Jambi melaporkan tidak bisa melihat Matahari.

"Saya bisa pastikan mungkin kabut asap yang terjadi Minggu ini lebih parah dari fenomena kabut asap tahun 2015. Saya kira ini lebih pekat dari dulu," kata Hendra, salah seorang warga Jambi yang juga ASN di kota itu, dilansir Antara.

Lantaran trauma dengan kejadian tahun 2015, Hendra akan melindungi keluarganya, terutama anaknya yang masih kecil. "Saya minta anak saya di dalam kamar, untuk menjamin agar tetap aman dari asap," katanya.

Sejak pukul 15.00 WIB, langit Jambi berubah menjadi kuning bukan akibat terik matahari, melainkan asap yang memenuhi indeks kualitas udara bahaya.

Di Bandara Sultan Thaha, jarak pandang (visibility) sangat terbatas dan mengacaukan sejumlah penerbangan. Beberapa warga mengamini pernyataan Hendra yang mengingatkan bencana asap di Jambi pada 2015 silam.

"Ya, hampir mirip, bahkan di daerah Kumpeh Muarojambi, Sabtu (21/9) kemarin langit di sana sampai memerah, dan kendaraan harus menggunakan lampu besar," kata Nana, warga lainnya.

Kebanyakan kendaraan roda empat yang lalu lalang menyalakan lampu kabut untuk memastikan perjalanan mereka aman.

Bahkan saking tebalnya, kabut asap juga 'menghilangkan' Jembatan Gentala Arasy yang membentang di atas Sungai Batanghari, tepatnya di depan rumah dinas Gubernur Jambi. Jembatan ikon Kota Jambi tersebut nyaris tak terlihat mata saat dilihat dari dekat Pasar Angso Duo Kota Jambi.

Kabut asap selimuti Bandara Sultan Thaha Jambi, Minggu (22/9/2019). Foto: ANTARA/HO- Aspri

Sementara itu, juru bicara Pemerintah Kota Jambi, Abu Bakar, memastikan pihaknya akan merilis perkembangan indeks standar pencemaran udara (ISPU) setiap waktu dan dipublikasikan melalui media sosial maupun media massa dan online.

Penerbangan juga terdampak akibat musibah lingkungan ini. Di Bandara Sultan Thaha, Jambi, jarak pandang (visibility) sangat terbatas akibat asap karhutla dan mengacaukan sejumlah penerbangan.

“Jarak pandang terendah terjadi pada pukul 10.30 WIB, yakni 550 meter, dampaknya sejumlah penerbangan menuju Jambi terganggu,” kata Eksekutif General Manager Angkasa Pura II M.Hendra Irawan di Jambi, dilansir Antara, Minggu (22/9).

Hendra menjelaskan, sejumlah penerbangan yang terganggu yakni Garuda dengan nomor penerbangan GA 126 tujuan Jakarta-Jambi sempat berputar-putar di udara selama 30 menit ketika berusaha mendarat di Jambi.

Namun, karena tidak memungkinkan mendarat di Jambi, akhirnya harus lakukan dialihkan ke Palembang dan mendarat di Palembang pukul 11.02 WIB.

Selain itu, Garuda dengan nomor penerbangan GA 7114 tujuan Palembang-Jambi juga sempat alami penundaan atau holding selama 20 menit akibat kabut asap tersebut. Dan kemudian memutuskan kembali (RTB) ke Palembang, dan mendarat di Palembang pukul 11.23 WIB.

Saat ini Garuda dengan nomor penerbangan GA 126 tujuan Jakarta-Jambi yang divert di Palembang dan Garuda dengan nomor penerbangan GA 7114 yang lakukan RTB kembali ke Palembang masih menunggu di Palembang. Pesawat tersebut menunggu perkembangan jarak pandang di Jambi membaik.

“Selama holding penumpang tidak diturunkan, mereka masih menunggu perkembangan jarak pandang di bandara kita membaik,” kata Hendra Irawan.

Suasana Langit Kota Jambi yang Memerah akibat Asap Karhutla. Foto: Dok. Jambikita

Sementara itu, maskapai Wings Air dengan nomor penerbangan IW 1151 tujuan Jambi-Muaro Bungo yang seharusnya berangkat pukul 08.50 WIB sempat delay karena jarak pandang di Muaro Bungo hanya 35O meter. Akhirnya pihak maskapai memutuskan membatalkan pada pukul 11.30 WIB.

Pembatalan yang dilakukan maskapai Wings Air tersebut bukan yang pertama kali. Akibat dari kabut asap tersebut Wings Air tujuan Jambi-Muaro Bungo-Kerinci sudah melakukan beberapa kali pembatalan diantaranya pada tanggal 13, 16, 20 September 2019.

“Informasi terakhir beberapa penerbangan dari Jakarta seperti Batik dan Citilink masih menunda, belum diberangkatkan dari Bandara Soekarno-Hatta karena menunggu perkembangan jarak pandang di Jambi,” kata Hendra Irawan.

Saat ini jarak pandang di Jambi sudah mencapai 800 meter, akan tetapi jarak pandang di Bandara Sultan Thaha masih fluktuatif.