News
·
28 Juli 2020 18:46

Foto: Pengungsi Suriah Manfaatkan Kasur Bekas untuk Tanaman Hidroponik

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Foto: Pengungsi Suriah Manfaatkan Kasur Bekas untuk Tanaman Hidroponik (316123)
Seorang pengungsi asal Suriah, Ahmad Zoubi menanam dengan teknik hidroponik di kamp pengungsi Zaatari, Mafraq, Yordania. Foto: Muhammad Hamed/REUTERS
Di lokasi gurun yang luas di kamp pengungsi Zaatari, oase kecil tanaman hijau menghiasi pemandangan. Tanaman dan tumbuhan seperti mint, tomat, dan mentimun tumbuh subur di tengah tanah yang tidak mungkin subur, berkat dua elemen sederhana, air dan kasur lama tak terpakai dengan teknik hidroponik.
ADVERTISEMENT
Pengungsi asal Suriah bekerja dengan para ahli dari Universitas Sheffield bersama UNHCR PBB membuat pertanian dengan teknik hidroponik.
Ini adalah penanaman serbaguna yang tidak membutuhkan tanah. Sebagai gantinya, busa dari kasur lama yang tidak terpakai ditempatkan di cangkir kecil daur ulang, bersamaan dengan bibit dan air. Gelas-gelas tersebut kemudian disimpan di dalam beberapa pipa dengan air yang mengalirinya.
Foto: Pengungsi Suriah Manfaatkan Kasur Bekas untuk Tanaman Hidroponik (316124)
Seorang pengungsi asal Suriah, Ahmad Zoubi bersama Hassan Jildeh mengambil kasur busa lama untuk digunakan dalam menanam teknik hidroponik di kamp pengungsi Zaatari, Mafraq, Yordania. Foto: Muhammad Hamed/REUTERS
"Ini membuat kita bisa mandiri dan menghemat air. Dan proyek ini dapat diimplementasikan di dalam ruang yang luas atau kecil," kata Hassan Jildeh, seorang pengungsi yang telah tinggal di kamp sejak 2012.
Menurut UNHCR, sistem hidroponik bisa menghemat air hingga 70 sampai 80 persen air daripada menggunakan metode tradisional. Dengan teknik itu juga sangat cocok dengan negara seperti Yordania.
ADVERTISEMENT
Lebih dari 1.500 warga Suriah dilatih bertanam dengan teknik hidroponik. Banyak dari para pengungsi mulai membuat kebun kecil dengan teknik hidroponik.
Ahmad Zoubi, yang tinggal di kamp bersama istri dan keenam anaknya, mengatakan dia senang bisa kembali ke karier lamanya sebagai petani.
"Menghabiskan waktu di antara tanaman, dan bekerja dengan sayuran berbeda dengan bekerja di konstruksi," katanya.
Kamp Zaatari adalah rumah bagi hampir 76 ribu pengungsi asal Suriah, lebih dari 40 ribu di antaranya adalah anak-anak.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)