News
·
10 Agustus 2020 14:49

Ganjar soal Penyerangan di Solo: Kenapa di Agustus saat Ber-Bhinneka Tunggal Ika

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Ganjar soal Penyerangan di Solo: Kenapa di Agustus saat Ber-Bhinneka Tunggal Ika (5556)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyayangkan penyerangan yang diduga dilakukan oleh sejumlah oknum ormas terhadap warga yang sedang menggelar midodareni (doa sebelum acara pernikahan) di Solo, Sabtu (8/8) lalu.
ADVERTISEMENT
Ganjar menyayangkan aksi intoleran ini terjadi di bulan peringatan kemerdekaan. Menurut Ganjar, bila ada kelompok yang merasa suatu acara tidak cocok dengan pandangannya untuk berkoordinasi dengan pemerintah atau aparat keamanan.
“Kita sayangkan. Kenapa di bulan Agustus, di mana kita ber-Bhinneka Tunggal Ika, butuh persatuan, ada yang melakukan itu. Mbok iya o, kalau ada yang tidak benar itu koordinasi dengan kami. Kami sangat menyayangkan,” kata Ganjar di Semarang, Senin (10/8).
Ganjar mengaku sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jateng Irjen Ahmad Luthfi dan meminta penegak hukum tak perlu ragu menindak para pelaku penyerangan tersebut.
“Semoga siapa pun yang luka segera sembuh dan kami sudah koordinasi dengan penegak hukum, Kapolda sendiri juga sudah menyampaikan kepada saya tahapan-tahapan yang sedang dilakukan. Saya dukung penuh untuk penegakan hukum itu,” jelas Ganjar.
Ganjar soal Penyerangan di Solo: Kenapa di Agustus saat Ber-Bhinneka Tunggal Ika (5557)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan
Di sisi lain, penyerangan oleh kelompok intoleran bukan sekali terjadi di Kota Solo. Disinggung soal ini, Ganjar secara tegas menyatakan agar penegak hukum tidak ragu-ragu menindak siapa pun yang kedapatan merusak atau melanggar regulasi-regulasi.
ADVERTISEMENT
“Iya, betul (tidak hanya sekali terjadi). Maka penegakan hukumnya tidak boleh diragukan. Siapa yang kemudian merusak atau melanggar regulasi-regulasi ini sudah tidak usah ragu, ditindak saja. Kita butuh baik kok negeri ini. Kita butuh baik maka pembinaan kita lakukan. Ketika kemudian kesepakatan dulu baik-baik, mau melakukan, dan seterusnya tetapi faktanya tidak, ya sudah ditindak saja di pelakunya. Tidak usah ragu-ragu soal ini,” tegasnya.
Patut diketahui, penyerangan yang diduga dilakukan oleh kelompok laskar tersebut terjadi hari Sabtu (8/8) sekitar pukul 17.45 di rumah keluarga Umar Asegaf, tepatnya rumah Alm. Segaf bin Jufri di Jalan Cempaka nomor 81, Kampung Mertodranan RT 01 RW 01, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta.
Penyerangan terjadi saat di keluarga Umar Asegaf menggelar acara midodareni atau doa sebelum acara pernikahan. Tiga orang mengalami luka-luka akibat penyerangan tersebut.
ADVERTISEMENT
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)