Kumparan Logo
Gejayan Memanggil
Seruan poster #GejayanMemanggil

Gejayan Memanggil dan Mengenang Tragedi Tewasnya Moses pada Mei 1998

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seruan poster #GejayanMemanggil Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Seruan poster #GejayanMemanggil Foto: Dok. Istimewa

Di Google Maps, jalan yang berlokasi sekitar 5,5 km di arah utara dari Monumen Tugu Yogyakarta ditandai sebagai Jalan Affandi. Namun, warga Yogyakarta lebih mengenal wilayah itu dengan sebutan Gejayan.

Sebuah jalan yang punya kenangan tersendiri bagi mahasiswa Yogyakarta. Itu karena, Gejayan adalah saksi bisu perlawanan mahasiswa terhadap rezim orde baru. Di sana, Moses Gatutkaca, mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tewas saat berdemonstrasi, 1998 silam.

Maka, kala Gajayan kembali memanggil setelah 21 tahun meninggalnya Moses yakni pada Senin (23/9), media sosial menjadi riuh. Tagar #GajayanMemanggil menempati urutan pertama di posisi trending Twitter Indonesia. Tagar yang dimotori mahasiswa dari Aliansi Rakyat Bergerak itu menyatakan sikap terhadap kondisi negara yang dinilai tak baik-baik saja.

Aksi mahasiswa di Jalan Gejayan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnadaru/kumparan

Berdasarkan keterangan tertulis dari Aliansi Rakyat Bergerak, setidaknya ada 7 hal yang akan disampaikan dalam aksi damai tersebut:

1. Mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP.

2. Mendesak Pemerintah dan DPR untuk merevisi UU KPK yang baru saja disahkan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

3. Menuntut Negara untuk mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia.

4. Menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja.

5. Menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang merupakan bentuk penghianatan terhadap semangat reforma agraria.

6.Mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

7. Mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.

“Setidaknya ini menunjukkan ada keresahan yang meluas antara mahasiswa, akademisi, dan juga beberapa dosen yang mau (aksi), Banyak dosen yang mau terlibat dan sebagainya. Ini menunjukkan ada masalah dan keresahan di negeri ini," kata mantan Ketua BEM UGM Obed Kresna yang akan ikut turun di aksi ini, kepada kumparan, Senin (23/9).

X post embed

Obed menjelaskan, gerakan ini bisa menjadi pelatuk bagi mahasiswa di daerah lain untuk membentuk gerakan serupa. Sebab, menurutnya, elite-elite politik perlu ditekan agar bisa mendengarkan suara rakyat

"Kami justru tidak ingin membuat chaos dan kekacauan di negeri ini. Tapi elite-elite politik perlu mendapatkan tekanan dan mendengarkan apa yang dirasakan masyarakat," ucap Obed

Titik kumpul aksi terpusat di Pertigaan Colombo, Gejayan pada pukul 13.00 WIB. Sebelumnya, mahasiswa long march dari tiga titik. Pertama, di Gerbang utama Universitas Sanata Dharma; kedua, di pertigaan revolusi UIN Sunan Kalijaga; ketiga, bundaran Universitas Gadjah Mada.

Universitas Gadjah Mada. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Tragedi Gejayan 1998

Kisah tentang Gejayan yang menjadi saksi bisu reformasi ada dalam artikel yang diarsipkan Forum Mahasiswa 1998 di situs Indoprotest. Dalam uraian berjudul ‘Korban Kebrutalan Aparat, 1 Tewas di Yogyakarta’, diceritakan bagaimana aksi berlangsung hingga menelan korban jiwa.

Disebutkan bahwa ada seorang mahasiswa bernama Moses Gatutkaca yang tewas pada Jumat malam 9 Mei 1998. Kematian mahasiswa fakultas MIPA Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu menyusul demonstrasi besar di Yogyakarta menuntut lengsernya Presiden ke-2 Soeharto.

Presiden Indonesia Suharto (kiri) mengumumkan susunan menteri baru sebagai Wakil Presiden BJ Habibie melihat (kanan) di Istana Presiden Merdeka di Jakarta 14 Maret 1998. Foto: AFP/AGUS LOLONG

Moses ditemukan tewas usai terjadi pembubaran paksa massa yang tengah berdemonstrasi di pusat kampus IKIP Negeri Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma. Moses dibawa ke RS Panti Rapih sekitar pukul 22.00 WIB dalam kondisi tak bernyawa. Hasil pemeriksaan menunjukkan, tulang dasar otaknya retak.

"Melihat keadaannya dapat saya pastikan dia dipukuli sekitar setengah jam yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan luka-lukanya. Yang jelas dia meninggal akibat pukulan benda keras, tumpul," kata dr. Djatmiko yang kala itu merawat Moses.

Satu hari sebelum kematian Moses, 8 Mei 1998, demonstrasi pecah pada pukul 09.00 WIB di Institut Sains & Teknologi Akprind serta di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta. Siang harinya, demonstrasi juga terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM), IKIP Negeri Yogyakarta, dan Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

Pada saat itu aparat yang berjaga melakukan pembubaran secara paksa dengan melakukan penyerbuan dengan menembakan gas air mata. Demonstran membalas dengan lemparan batu yang akhirnya menjadi kerusuhan massa sampai dengan pagi harinya.

Mahasiswa di Gedung DPR RI Tahun 1998 Foto: Dok. Muhammad Firman Hidayatullah

Berdasarkan laporan Harian Kompas 8 Mei 1998, Wiranto yang menjabat sebagai Panglima ABRI (sekarang TNI) mengeluarkan pernyataan yang meminta mahasiswa untuk tidak melakukan tindakan anarkis. Ia menyebut demonstrasi hanya akan memperburuk keadaan. Wiranto kala itu lantas memerintahkan ABRI untuk melakukan tindakan tegas.

“Saya melihat bagaimana perilaku masyarakat yang sementara ini lupa diri dengan melakukan kegiatan yang bersifat merusak, membakar toko, merampok toko, gudang, dan menjarah isinya. Ini mengingatkan kita bahwa sudah ada kegiatan yang tidak peduli kepada hukum,” ujar Wiranto.

Hingga sekarang, sosok yang menyebabkan kematian Moses pun belum terungkap. Meski demikian, nama Moses diabadikan sebagai nama gang. Yakni Gang Moses, sebagai bentuk pernghormatan kepada perjuangannya.