News
·
15 Agustus 2020 18:18

Guru Besar Unair Minta Pemerintah Waspadai Efek ADE Uji Klinis Vaksin Corona

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Guru Besar Unair Minta Pemerintah Waspadai Efek ADE Uji Klinis Vaksin Corona (358577)
Seorang relawan menunjukkan no antrean uji klinis Vaksin COVID-19 usai pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Dago, Bandung, Selasa (11/8/2020). Foto: Novrian ARbi/Antara
Guru besar Biologi Molekular Universitas Airlangga atau Unair, Chairul Anwar Nidom, meminta pemerintah dapat mewaspadai serta mengantisipasi potensi timbulnya Antibody Dependent Enhancement (ADE) dalam uji klinis vaksin corona Sinovac.
ADVERTISEMENT
Meskipun persentase kemungkinan terjadinya rendah, Chairul menilai potensi munculnya ADE tetap masih ada dan perlu langkah antisipasi yang baik untuk.menanganinya.
"Jadi ada 1 sampai 3 persen yang dikhawatirkan oleh para peneliti timbulnya Antibody Dependent Enhancement jadi imuno patogen. Nah ini yang harus dicermati," kata Chairul dalam diskusi Sindo Trijaya FM, Sabtu (15/8).
"Jangan sampai uji fase ketiga selesai kemudian kita melupakan hal itu," sambungnya.
Chairul mengungkapkan, hal serupa pernah terjadi kala suatu negara menarik dari edaran vaksin demam berdarah. Penarikan itu dilakukan karena muncul kasus hiper sensitifitas seorang anak terhadap virus penyakit lain.
Guru Besar Unair Minta Pemerintah Waspadai Efek ADE Uji Klinis Vaksin Corona (358578)
Melihat proses produksi vaksin corona di Gedung 43 Bio Farma Bandung, Jawa Barat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Dia menjelaskan, dalam bahasa awamnya dapat diartikan bila seseorang divaksin, dia akan sembuh dari infeksi pertama. Namun situasi itu akan memburuk ketika seseorang ini kembali terkena penyakit yang sama untuk kedua kalinya.
ADVERTISEMENT
"Karena vaksin demam berdarah tahun 2017 sampai ditarik dari negara itu oleh presidennya karena menimbulkan hiper sensitifitas terhadap anak yang divaksin, ini yang perlu dapat perhatian," kata Chairul.
Meski begitu, potensi tersebut nantinya dapat dicegah bila pemerintah beserta para peneliti memiliki langkah antisipasi. Sehingga, menurutnya, masyarakat tak perlu merisaukan akibat apa saja yang mungkin ditimbulkan dari vaksin tersebut.
"Kepada masyarakat untuk menanggapi uji klinis ketiga ini tak perlu risau dan membuat dugaan yang tak sepatutnya karena memang uji klinis ketiga ini merupakan bagian dari suatu uji vaksin dan dikawal secara ilmiah," kata Chairul.
"Tentunya para peneliti yang ada di Unpad pasti sudah memperhitungkan bukan hanya selesai diuji klinis ketiga saja, tetapi akan dilanjutkan ke kajian berikutnya. Sehingga jangan sampai vaksin yang sudah selesai ini menyebabkan problem berikutnya seperti kasus demam berdarah yang terjadi di Asia," pungkasnya.
ADVERTISEMENT