kumparan
9 Jun 2018 18:56 WIB

Gus Yahya Batalkan Kuliah Umumnya di Israel

Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (Foto: Facebook/Yahya Cholil Staquf)
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, atau yang biasa disapa Gus Yahya, membatalkan kuliah umum yang rencananya akan dilaksanakan di Israel pada 26 Juni mendatang. Kabar pembatalan acara itu datang berupa klarifikasi tertulis Gus Yahya yang ditujukkan ke Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
ADVERTISEMENT
Menurut penuturan adik kandung Gus Yahya, yakni Yaqut Cholil Qoumas atau yang kerap disapa Gus Yaqut, klarifikasi yang ditulis itu memang merupakan tulisan kakaknya. "Iya. Saya dengar hal itu sudah disampaikan kepada Bu Retno," ujar Gus Yaqut kepada kumparan, Sabtu (9/6).
Dalam klarifikasi yang dibuat Gus Yahya itu, dikatakan bahwa dirinya sudah membatalkan acara yang digagas Israel Council on Foreign Relations. Meski demikian, dia akan tetap datang ke Israel dan bertemu dengan para tokoh lintas negara, termasuk akademisi di Universitas Hebrew.
"Rencana pidato saya di AJC forum sudah dibatalkan, tapi saya tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media," tulis Gus Yahya.
Loading Instagram...
Menurut Gus Yahya, undangan yang saat ini tengah viral di media sosial itu sebetulnya sudah lama diterima olehnya. Undangan itu merupakan sebuah kesempatan yang sebetulnya tak ingin disia-siakan begitu saja olehnya.
ADVERTISEMENT
"Saya menerima undangan ini sudah lama, dan ini menyangkut kredibilitas semua upaya yang telah saya lakukan bertahun-tahun," tutur anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini.
Gus Yahya menjelaskan, acara yang digagas Israel Council on Foreign Relations itu sedianya menyediakan ruang untuk berbicara tentang konflik Palestina-Israel di hadapan publik Israel. Tak ada secuil pun maksud lain dari kedatangannya di forum tersebut.
"Saya punya pemikiran tentang Yahudi yang ingin saya sampaikan sejujur-jujurnya tanpa eufimisme ataupun polesan diplomasi, dan ini satu-satunya kesempatan untuk melakukannya tanpa di-frame atau distigma sebagai “anti-semitis''," tambah dia.
Suasana Pelantikan Anggota Wantimpres Yahya Cholil (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
Kendati demikian, keputusan sudah dibuat. Dirinya tak akan menghadiri acara tersebut. Bersama dengan itu, Gus Yahya juga meninta maaf kepada Menlu Retno atas polemik yang saat ini terjadi.
ADVERTISEMENT
"Kalau tindakan saya merugikan kepentingan negara atau sekedar tidak ada manfaatnya, dapat dilakukan tindakan apa pun yang diperlukan untuk mengingkari atau menegaskan terlepasnya tindakan saya ini dari Negara," tutupnya
Berikut merupakan klarifikasi lengkap yang ditulus Gus Yahya:
Bu Menteri Yth.,
Mohon ijin untuk memberi penjelasan tentang ini:
1. Sebagaimana panjenengan tahu, saya menerima undangan ini sudah lama, dan ini menyangkut kredibilitas semua upaya yang telah saya lakukan bertahun-tahun;
2. Saya punya pesan untuk saya sampaikan seluas-luasnya secara global, dan ini platform yang akan memberi saya kesempatan untuk itu;
3. Saya punya pemikiran tentang Yahudi yang ingin saya sampaikan sejujur-jujurnya tanpa eufimisme ataupun polesan diplomasi, dan ini satu-satunya kesempatan untuk melakukannya tanpa di-frame atau distigma sebagai “anti-semitis”;
ADVERTISEMENT
4. Rencana pidato saya di AJC forum sudah dibatalkan, tapi saya tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media, antara lain: Dr. Ali Al Awar, pimpinan Badan Waqaf Masjid Al Aqsha; Mohammed Dajani Daoudi, ulama; para patriarch Katolik, Kristen Ortodoks Yunani dan Lutheran; H. E. Hazem Khairat, Duta Besar Mesir; kalangan intelektual di Universitas Hebrew; dan lain-lain;
5. Saya akan disiplin menjaga posisi “deniable”; kalau tindakan saya merugikan kepentingan Negara atau sekedar tidak ada manfaatnya, dapat dilakukan tindakan apa pun yang diperlukan untuk mengingkari atau menegaskan terlepasnya tindakan saya ini dari Negara; kalau ada benefit, mari di-follow up agar menjadi keuntungan nyata.
Demikian, Bu Menteri. Mohon maaf bahwa saya telah membuat kesulitan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan