News
·
4 September 2020 6:14

Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44931)
Ketua DPR Puan Maharani (kanan) didampingi Ketua MPR Bambang Soesatyo (kiri) pidato pengantar dalam rangka Sidang Bersama DPR-DPD di Ruang Rapat Paripurna, Komplek Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
Puan Maharani mendapat sorotan tajam terkait pernyataannya yang menyinggung masyarakat Sumatera Barat. Dalam pidatonya, ia menyampaikan harapannya agar Sumbar bisa menjadi provinsi yang mendukung Pancasila.
ADVERTISEMENT
"Semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang memang mendukung negara pancasila, bismillahirrohmanirrohmin. Merdeka," kata Puan saat membacakan rekomendasi PDIP secara daring, Rabu (2/9).
Dalam Pilgub Sumbar 2020, PDIP mengusung anggota DPR Fraksi Demokrat, Mulyadi, sebagai calon gubernur dan Ali Mukni sebagai calon wakil gubernur.
Terkait pernyataan Puan, Dosen Ilmu Politik Universitas Andalas, Asrinaldi, berpendapat pernyataan itu merupakan bagian dari pernyataan politik. Hanya saja, pernyataan itu juga bisa dipahami oleh masyarakat Sumbar bahwa mereka tidak Pancasilais.
"Bagi saya itu tak masalah, karena itu juga bagian dari upaya dia melakukan proses komunikasi politik dengan masyarakat Sumatera Barat. Nah, persoalannya, isinya itu menganggap bahwa masyarakat tidak Pancasilais juga bisa dinilai oleh orang Sumatera Barat sendiri," kata Asrinaldi.
ADVERTISEMENT
Padahal, Asrinaldi mengungkap sejarah sudah banyak orang Sumatera Barat yang dicatat sebagai pendiri bangsa Indonesia.
Secara historis, dalam pendirian Republik Indonesia, memang banyak lahir dari pemikiran pemikiran tokoh-tokoh Minangkabau. Mulai dari pencetus ide republik pertama Ibrahim Datuk Tan Malaka dalam karya Masyhurnya Na'ar de Republiek.
Lalu, proklamator Bung Hatta, Sutan Sjahrir, M Natsir, KH Agus Salim, Mohammad Yamin hingga Presiden yang terlupakan, Syafrudin Prawiranegara.
Lebih lanjut, Asrinaldi mengatakan, masyarakat Minangkabau tak perlu reaktif menanggapi pernyataan Puan itu.
"Untuk masyarakat Sumbar sendiri tak perlu reaktif menurut saya karena memang itu pernyataan politik. Sekarang untuk membuktikan itu ya orang Sumbar sendiri, bener tidak, enggak Pancasilais itu," ungkap dia.
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44932)
Ketua DPP Puan Maharani saat membacakan rekomendasi untuk Pilwalkot Surabaya di Pengumuman cakada PDIP tahap V Foto: Dok. PDIP

Puan Diminta Berikan Klarifikasi

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Dapil Sumbar I Andre Rosiade menyarankan Puan segera memberikan klarifikasi agar polemik yang ditimbulkan tak berkepanjangan.
ADVERTISEMENT
"Nah saran saya supaya tak berpolemik, berkepanjangan Mbak Puan ini klarifikasi. Kita tunggu klarifikasi beliau saja. Tapi saya ingin tegaskan sebagai orang yang lahir dan besar dan jadi anggota DPR RI, Sumbar itu sangat Pancasilais," tutur Andre.
Sejauh ini, Andre berprasangka baik terhadap apa yang disampaikan Puan. Ketua DPD Gerindra Sumbar itu tak ingin ada anggapan bahwa karena PDIP tak menang di wilayah Sumbar, maka pernyataan itu muncul dari seorang elite PDIP.
Ia kemudian menjelaskan dalam sejarahnya, banyak pejuang-pejuang kemerdekaan berasal dari Sumbar. Mereka bahkan turut berperan dalam proklamasi kemerdekaan dan melahirkan Pancasila.
"Bahkan proklamasi ditandatangani selain oleh kakeknya Mbak Puan, Soekarno, juga ditandatangani Bung Hatta yang orang Minangkabau. Dan kami melahirkan banyak tokoh pejuang kemerdekaan," jelas Andre.
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44933)
Anggota DPR Darul Siska. Foto: Dok. Pribadi

Puan Diminta Hati-hati Memberikan Pernyataan

Selain Andre Rosiade, anggota DPR lainnya, Darul Siska, juga ikut meminta Puan introspeksi diri dan jangan berkomentar karena kepentingan politik semata.
ADVERTISEMENT
"Jadi saya kira harus ada introspeksi pejabat jangan mudah membuat pernyataan yang hanya kepentingan politik sesaat terus mengganggu rasa kebangsaan kita," tegas Darul Siska.
Anggota DPR dapil Sumbar itu menilai seharusnya Puan lebih berhati-hati saat mengeluarkan pernyataan, apalagi yang berdampak bagi masyarakat. Terlebih, posisi Puan sebagai Ketua DPR RI.
Dia menegaskan, Pancasila sudah final bagi masyarakat Sumbar, termasuk juga dengan NKRI hingga UUD 1945. Dia meminta tak ada pihak khususnya pejabat yang menilai daerah tertentu tak mendukung hal tersebut.
"Saya kira ini kan soal Pancasila buat semua kita kan sudah selesai, sudah final. Tidak ada lagi yang menyatakan tidak mendukung pancasila atau NKRI dan UUD 1945. Orang kita di mana mana kan kiat kiatnya mensosialiasi 4 pilar itu," ucap dia.
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44934)
Ketua DPR Puan Maharani saat Peresmian Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI dengan Parlemen Negara sahabat, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/2). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Puan Diminta Pelajari Sejarah

Anggota DPD RI, Emma Yohana, bahkan mengaku tidak nyaman dengan pernyataan Puan. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Sumbar sudah mengimplementasikan Pancasila secara sungguh-sungguh.
ADVERTISEMENT
"Kami tidak ada yang merasa lebih pancasilais. Pancasila itu sudah diibaratkan pakaian bagi kami. Bahkan, sebelum Pancasila ini dirumuskan oleh Bung Karno, etnis Minang sudah mengamalkan Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari," kata Emma.
Emma mengingatkan agar Puan Maharani lebih komprehensif melihat posisi Sumbar dalam perspektif sejarah Indonesia, saat ini dan masa depan.
"Pelajari sejarah, apa saja dan bagaimana peran para tokoh nasional asal Sumbar untuk memerdekakan Negeri ini, sehingga akan bisa lebih bijak menilai daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Ingat, Bukittinggi sebagai salah satu kota di Sumbar, pernah jadi Ibu Kota Negara Pancasila ini," jelas dia.
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44935)
Fadli Zon. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Fadli Zon Nilai Hanya yang Tak Mengerti Sejarah Ragukan Sumbar Dukung Pancasila

Waketum Partai Gerindra Fadli Zon ikut menanggapi polemik pernyataan Puan soal Pancasila dan Sumbar. Dia menilai, hanya orang-orang yang tidak mengerti sejarah yang masih meragukan kesetiaan masyarakat Sumbar terhadap Pancasila.
ADVERTISEMENT
"Hanya orang-orang yang tak membaca dan mengerti sejarah yang masih meragukan masyarakat Sumbar mendukung Pancasila," kata Fadli.
Fadli mengungkapkan, ada 3 tokoh nasional asal Sumbar yang ikut merumuskan Pancasila dan UUD 1945. Mereka adalah Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, dan Agus Salim.
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44936)
Anggota Komisi II DPR F-PAN Guspardi Gaus. Foto: Dok. Pribadi

PAN Sebut Pancasila Jati Diri Orang Minang

Anggota DPR Fraksi PAN, Guspardi Gaus, yang berasal dari dapil Sumbar itu menyebut pernyataan Puan telah menimbulkan kegaduhan.
"Pertama, saya sangat menyayangkan seorang pejabat negara, petinggi partai mengeluarkan statement yang menimbulkan kegaduhan bagi masyarakat," kata Guspardi.
Anggota Komisi II itu menilai, seharusnya Puan paham Pancasila merupakan jati diri warga Minang. Dia menyebut warga Minang tanpa diberikan pemahaman pun sudah memahami nilai-nilai Pancasila.
ADVERTISEMENT
"Berkaitan dengan Pancasila ini, harusnya Ibu Puan paham apa itu Pancasila. Pancasila itu kan yang lima dasar itu. Coba lihat nilai-nilai itu, itu yang dilaksanakan oleh masyarakat tanpa diberikan penataran, tanpa diberikan pemahaman. Itu adalah jati diri orang Minang," tegasnya.
Maka dari itu, ia meminta Puan kembali membaca sejarah. Berdasarkan uraian sejarah, akan diketahui bahwa masyarakat Sumbar tidak mungkin tidak Pancasilais.
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44937)
Anggota Komisi IV DPR Fraksi PKS Dapil Sumbar I Hermanto. Foto: Dok. Pribadi

PKS Minta Puan Tidak Menyakiti Masyarakat Sumbar

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Hermanto, mengingatkan Puan Maharani agar tak menyinggung masyarakat Sumatera Barat.
Hermanto yang merupakan anggota DPR RI dari Dapil Sumbar I meminta jangan ada pihak yang mempolitisasi terminologi ideologi untuk kepentingan pilkada di Sumbar.
"Silahkan berkampanye tetapi jangan menyakitkan. Ada pepatah Minang 'harimau bana dalam paruik, kambiang juo nan kalua' (walaupun kesal yang keluar dalam lisan tetap kalimat arif)," kata Hermanto.
ADVERTISEMENT
Hermanto mengatakan, sampai saat ini Sumatera Barat tetap konsisten melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Masyarakat Sumbar juga sangat menyadari bahwa nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila merupakan sari pati budaya Minang.
Hujan Kritik Pidato Puan Maharani soal Sumbar Dukung Negara Pancasila (44938)
Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan Jajaran DPP PDIP dalam acara pengumuman cakada PDIP tahap V. Foto: PDIP

Penjelasan PDIP soal Pernyataan Puan

Setelah pernyataan Puan mendapat banyak sorotan, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memberikan penjelasan. Pernyataan Puan itu banyak mendapat hujatan hingga beberapa kali menjadi trending topic di Twitter.
Hasto mengatakan, pernyataan Puan hanyalah pengingat kepada kader agar Pancasila terus dibumikan.
"Maksud Mbak Puan agar seluruh kader partai mengingatkan bagaimana Pancasila dibumikan. Tidak hanya di Sumbar, tapi juga Jatim, Jakarta, dan seluruh wilayah NKRI, Pancasila harus dibumikan," kata Hasto.
Selain itu, Hasto menegaskan Megawati dan Puan sungguh mengagumi Sumbar. Salah satu alasannya, karena di Sumbar lahir banyak tokoh nasional yang visioner dan memiliki tradisi keIslaman yang kuat. Mulai dari Mohammad Hatta, M. Natsir hingga Rohana Kudus.
ADVERTISEMENT
"Dan tradisi kebudayaan yang luar biasa. Lihat saja makanannya. Restoran Padang menjadi ikon makanan nasional Indonesia, bahkan diterima di seluruh penjuru Nusantara," ucap Hasto.
"Dengan diterimanya makanan Padang secara luas, patut disyukuri dan menjadikan masyarakat Sumatera Barat juga terbuka bagi seluruh warga bangsa. Inilah hebatnya Indonesia. Pancasila menjadi pemersatu dan jiwa kepribadian bangsa," katanya.
Selain Hasto, Ketua DPD PDIP Sumbar, Alex Indra Lukman, ikut memberikan penjelasan. Ia mengatakan Sumbar tak bisa dipisahkan dari sejarah republik.
Menurut dia, Bung Karno menggali Pancasila dari budaya dan adat istiadat serta kearifan lokal seluruh wilayah di Nusantara. Ia yakin, sila keempat Pancasila digali Bung Karno dari Ranah Minang.
Alex juga menyebut, Puan tak memiliki niat untuk mendiskreditkan warga Sumbar. Sebab pernyataan itu ditujukan kepada para kader.
ADVERTISEMENT
***
Saksikan video menarik di bawah ini.
=====
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona