kumparan
16 September 2019 5:05

Indonesia Darurat Asap

Kebakaran Hutan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kabut Asap
Warga menggunakan masker saat berada di objek wisata bantaran Sungai Kahayan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (15/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Rendhik Andika
Masalah kebakaran lahan dan hutan seolah menjadi persoalan yang secara rutin singgah di Indonesia setiap tahunnya. Mirisnya, Indonesia yang disebut-sebut sebagai salah satu paru-paru dunia, sejak Juli lalu justru diserang asap tebal yang mengganggu pernapasan hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Sebut saja di Kota Batam yang saat ini Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)-nya sudah mencapai 157 lebih akibat tercemar asap karhutla. Yang artinya, udara di Kota Batam sudah masuk kategori tidak sehat untuk dihirup.
Atau di Kalimantan Selatan misalnya, yang hingga saat ini setidaknya sudah ada 30 ribu warga yang kesehatannya terganggu akibat kabut asap karhutla. Angka yang cukup drastis ini dihimpun dari 13 Kabupaten/Kota selama Januari hingga September 2019 dan akan terus meningkat.
Penyakit yang timbul pun beragam. Tak hanya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) saja, namun ada pula batuk serta radang tenggorokan akibat pencemaran udara.
Kabut asap juga memberikan dampak yang lebih parah bagi balita. Sebab, gizi yang diterima balita terbagi untuk imunitas dan pertumbuhan, sehingga ketahanan tubuhnya akan lebih rendah dibandingkan orang dewasa.
Kabut asap di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, Kalsel
Kabut asap di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan
Di Sumatera Selatan saja, tercatat ada 2.188 balita yang terkena ISPA hanya dalam waktu sepekan --hingga 2 September 2019. Palembang menjadi kota tertinggi dengan jumlah 1.095 balita yang terdiri dari 276 balita di bawah satu tahun, dan 819 balita berusia satu hingga lima tahun.
ADVERTISEMENT
Karhutla tak hanya memporak-porandakan ketahanan tubuh, namun juga melumpuhkan kegiatan belajar-mengajar. Di Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi, Pemda setempat terpaksa meliburkan seluruh sekolahan di Kabupaten Sekadau karena kualitas udara yang memburuk.
Meski sudah sekitar sebulan, namun hingga saat ini titik-titik api masih terdeteksi. Di Riau saja, hingga Minggu (15/9), masih ada 27 titik api berkategori tinggi yang terlihat.
"Kualitas udara berdasar pengukuran PM10 pada pukul 07.00 sampai dengan 10.00 WIB berada pada kisaran 182 sampai dengan 201 ugram/m3 atau tidak sehat," ujar Plt Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Agus Wibowo, dalam keterangannya, Minggu (15/9).
Untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan dan kabut asap itu, kata Agus, disiagakan sebanyak 5.809 orang. Selain itu pada hari ini sebanyak 6 helikopter diterjunkan untuk melakukan water bombing, 2 pesawat untuk memodifikasi cuaca (Cassa 212-200 kapasitas 1 ton dan CN 295 kapasitas 2.4 ton), dan 3 helikopter untuk patroli udara.
ADVERTISEMENT
"Sedang disiapkan tambahan pesawat Hercules dengan kapasitas 5 ton untuk operasi TMC yang direncanakan tiba Senin besok. Penambahan pesawat TMC ini karena prediksi BMKG akan ada pertumbuhan awan potensi dibuat hujan buat dalam beberapa hari ke depan" jelas Agus.
Penumpang di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, Kalsel Terlambat Terbang akibat Kabut Asap
Kabut asap yang menyelimuti kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
Untuk membantu meringankan warga di Sumatra dan Kalimantan kumparan menggalang donasi online melalui platform kitabisa. Donasi tersebut nantinya akan disalurkan kepada warga yang terdampak asap karhutla.
Perkembangan jumlah donasi serta penyerahannya akan terus kami sajikan. Jika Anda tergerak untuk membantu, dapat menyalurkannya melalui tautan di bawah ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan