kumparan
30 Oktober 2019 14:33

Indonesia Siap Jelaskan Masalah Kebakaran Hutan ke Negara ASEAN

Menara kembar Petronas, Kabut Asap
Menara kembar Petronas diselimuti oleh kabut asap di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (9/9). Foto: REUTERS / Lim Huey Teng
September 2019, mata dunia terarah pada Indonesia. Kabut akibat kebakaran hutan dan lahan Indonesia membuat polusi di negara-negara tetangga.
ADVERTISEMENT
Sebulan berlalu, Kementerian Luar Negeri menyatakan, siap menjelaskan mengenai masalah asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di KTT ASEAN. Rencananya, KTT ASEAN akan dimulai akhir pekan ini.
“Indonesia siap menjelaskan bahwa kita telah mengambil berbagai langkah dan (kebakaran) dapat dipadamkan secara cepat. Memang ini juga tergantung kepada kondisi climate yang di luar kontrol kita. Namun ada juga human recklesness dalam hal membakar,” kata Direktur Jenderal ASEAN Kemlu Jose Tavares, pada press briefing di Kemlu RI, Jakarta Pusat, Rabu (30/10).
Galeri Foto Pilihan, kabut asap, Singapura
Hotel dan resor Marina Bay Sands diselimuti oleh kabut asap di Singapura, Rabu (18/9/2019). Foto: AFP/ Roslan RAHMAN
Jose mengatakan Indonesia juga akan menyampaikan dengan tegas langkah-langkah apa saja yang telah diambil pemerintah untuk mengatasi karhutla. Mulai dari penangkapan hingga penyegelan perusahaan yang terkait karhutla.
“Pemerintah mengambil langkah tegas, di mana ada lebih dari 200 orang ditahan dan diproses secara hukum apabila terbukti bersalah termasuk juga wakil-wakil dari perusahaan dan ada langkah untuk segel beberapa perusahaan yg lahannya terbakar untuk tidak digunakan,” ujar Jose.
ADVERTISEMENT
“Saya kira ini satu langkah tegas yang menunjukkan bahwa pemerintah serius menangani transboundary haze polution ini. Jadi kalau memang isu ini diangkat Indonesia siap untuk menjelaskan apa yang indonesia lakukan selama ini,” kata Jose.
Asap hasil kebakaran hutan di Indonesia diketahui sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan selatan Thailand. Bahkan, di Malaysia dan Singapura kualitas udaranya mencapai level berbahaya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan