kumparan
15 Januari 2019 20:07

Investigasi Koalisi Masyarakat: Kapolda Metro Sudah Peringatkan Novel

Novel Baswedan di Aksi '#SaveKPK' di depan Gedung KPK, Jakarta, Selasa (15/1/2019). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi merilis laporan hasil pemantauan terkait kasus penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan pada 11 April 2017. Laporan yang disusun oleh ICW, KontraS, YLBHI, LBH Jakarta, LBH Pers, PSHK AMAR, Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO)FH Universitas Andalas, dan PUKAT UGM itu sudah diserahkan kepada pimpinan KPK.
ADVERTISEMENT
Pengumpulan informasi berdasarkan penanganan perkara yang dilakukan sejak Februari hingga Agustus 2018. Dalam laporan tersebut, disebutkan ada pengumpulan dan penelusuran informasi dilakukan melalui delapan sumber. Baik dari wawancara saksi, berdasarkan penyataan lembaga-lembaga terkait serta presiden, hingga penelusuran dokumen.
"Serangan terhadap Novel pada tanggal 11 April 2017 patut dicurigai sebagai pembunuhan berencana. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu motif serangan, modus/pola," ujar Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (15/1).
(Dari kiri ke kanan) Alexander Marwata, Laode M. Syarif, Basaria Panjaitan, Abraham Samad, Novel Baswedan di Aksi '#SaveKPK' di depan Gedung KPK, Jakarta, Selasa (15/1/2019). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
Selain itu, penyerangan terhadap Novel juga disebut sudah berulang kali terjadi. Berdasarkan laporan itu, serangan-serangan itu terjadi ketika Novel sedang menangani kasus yang cukup besar, seperti kasus Simulator SIM, hingga e-KTP.
Dugaan penyerangan itu, menurut Asfinawati, tak lain bertujuan untuk melemahkan upaya pemberantasan korupsi yang tengah giat dilakukan oleh KPK. Termasuk yang dilakukan oleh Novel selaku penyidik di KPK.
ADVERTISEMENT
"Serangan terhadap Novel bertujuan untuk memperingatkan sekaligus membungkamnya secara langsung dan menghambat kerja-kerja KPK terutama yang melibatkan Novel," imbuh Asfinawati.
Sementara untuk pelaku penyerangan, laporan itu menuliskan ada banyak aktor yang terlibat dan terorkestra dengan rapi, meski tidak saling mengenal. Selain itu, diduga juga ada operator atau orang kedua yang memiliki inisiatif melakukan penyerangan.
Aktor penyerangan kepada Novel pun diklasifiasikan ke dalam lima kategori, yakni:
1. Orang yang diduga terkait dengan pengintaian dan eksekutor lapangan
2. Orang yang diduga menggalang dan menggerakkan penyerangan
3. Orang yang diduga digalang dan kemudian menjadi pihak yang paling berkepentingan untuk menyerang Novel
4. Anggota kepolisian yang diduga memiliki keterkaitan erat dengan aktor dengan aktor kedua
ADVERTISEMENT
5. Saksi yang mengetahui rencana penyerangan terhadap Novel tetapi karena satu dan lain hal diam atau tidak melakukan upaya pencegahan
Novel Baswedan menyapa awak media. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)
Dalam laporan itu, bahkan disebutkan bahwa pihak kepolisian sebenarnya sudah mengetahui soal akan adanya penyerangan terhadap Novel. Bahkan, secara spesifik, laporan itu menyebut Kapolda Metro Jaya yang waktu itu menjabat, Irjen M. Iriawan, yang mengetahui mengenai adanya rencana penyerangan itu dan sudah mengingatkan Novel.
"Kepolisian telah mengetahui serangan sejak awal,tetapi tidak mampu melakukan pencegahan karena ada keterlibatan petinggi Polri lainnya. Kapolda Metro Jaya waktu itu (M.Iriawan) sudah memperingatkan Novel bahwa ia akan mendapat serangan dan menawarkan pengamanan dan pengawalan. Novel menyarankan agar tawaran pengamanan tersebut disampaikan kepada Pimpinan KPK, supaya tidak menjadi hubungan personal. Tetapi tidak diketahui lagi apa tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Polda, sehingga serangan tersebut tetap terjadi," bunyi salah satu isi laporan itu.
ADVERTISEMENT
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari Polri mengenai laporan tersebut. Termasuk mengenai Kapolda Metro Jaya yang waktu itu menjabat, Irjen M. Iriawan, disebut mengetahui soal rencana penyerangan Novel Baswedan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan