News
·
26 Oktober 2019 7:33

Jadi Wamen, Trenggono Diminta Kembangkan Pertahanan di Sektor Bisnis

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Jadi Wamen, Trenggono Diminta Kembangkan Pertahanan di Sektor Bisnis (25904)
Calon Wakil Menteri Pertahanan Wahyu Sakti Trenggono usai bertemu Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Penunjukan pengusaha sekaligus Bendahara TKN Jokowi-Ma'ruf, Wahyu Sakti Trenggono, menjadi Wakil Menteri Pertahanan rupanya menuai pro dan kontra. Meski Menhan Prabowo Subianto menilai Trenggono memiliki track record yang cukup baik, namun partainya justru menilai sosok pebisnis itu kurang cocok menjadi Wamenhan karena bukan berasal dari militer.
ADVERTISEMENT
Apalagi saat penyambutan Wamenhan di Kemenhan, Trenggono mengakui belum menguasai soal Alutsista. Pasalnya, menurut Trenggono, masalah alutsista adalah domain militer.
“Kalau alutsista sudah domainnya militer. Saya enggak paham, malah saya mau belajar dari bapak-bapak di sini,” ujar Trenggono.
“Dalam konteks pertahanan, apa yang seharusnya kita kembangkan, saya mohon izin belum tahu, karena saya baru masuk hari ini,” sambung Trenggono.
Meski demikian, menurut pengamat militer Unpad Muradi, ucapan tersebut bukan berarti Trenggono benar-benar tidak paham soal alutsista. Menurutnya, hal itu hanya sekadar basa-basi yang dilontarkan.
“Saya kenal baik beliau, sering diskusi soal militer. Simple saja, dia tidak ingin ditanya dulu, karena 'kan sedang belajar masalah. Kalau baru dilantik, terus seolah tahu banyak, 'kan enggak bagus juga,” kata Muradi kepada kumparan, Sabtu (26/10).
ADVERTISEMENT
Menurut Muradi, masuknya Trenggono di sektor pertahanan membawa nilai plus tersendiri. Ia menilai, sebagai pebisnis, seharusnya Trenggono bisa menyelesaikan masalah pemasaran produk pertahanan Indonesia ke luar negeri.
Jadi Wamen, Trenggono Diminta Kembangkan Pertahanan di Sektor Bisnis (25905)
Wahyu Sakti Trenggono menjawab pertanyaan wartawan saat berada di Kompleks Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/10/2019). Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
“Problem kita 'kan ada dua. Pertama soal pemenuhan kebutuhan kita sendiri, kedua adalah soal memasarkan produk tersebut. Karena enggak mungkin industri pertahanan tapi produknya hanya dipakai dalam negeri saja,” ucap Muradi.
“Makanya itu yang kemudian menjadi tugas Pak Trenggono, memasarkan produk itu ke luar negeri,” imbuhnya.
Selain itu, koneksi dan pengalaman berbisnis Trenggono juga dinilai efektif meyakinkan bank-bank pemerintah untuk menginvestasikan modal ke pengembangan industri pertahanan. Sebab, tidak bisa dipungkiri, menurut Murad, untuk bisa mengembangkan teknologi pertahanan dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
“Itu 'kan yang jadi masalah lima tahun kemarin. Jadi bank-bank pemerintah agak ragu menanamkan modal, uang, untuk kepentingan industri pertahanan karena effortnya enggak jelas. Dengan masuknya Pak Trenggono, saya kira tinggal gimana beliau di-brief lebih dalam,” tutur Murad.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati menyebut efisiensi operasi militer memang menjadi tema besar yang diberikan Jokowi kepada Kemenhan periode 2019-2024. Efisiensi tersebut, menurutnya, baru bisa dicapai dengan memanfaatkan teknologi terkini seperti Unmanned System baik UAV, USV, atau USSV.
“Berikutnya adalah prioritas cyber defence dalam semua bentuk peperangan pada semua tingkatan operasi militer.Kedua macam teknologi tersebut lah yang mendorong terjadinya Revolutionary in Military Affairs (RMA) gelombang kedua dengan fokus implementasi Hybrid Warfare,” ucap Nuning --panggilan Susaningtyas.
“Karakteristik ancaman saat ini dan ke depan telah banyak berubah sehingga harus dihadapi dengan Hybrid Warfare,” timpalnya.
Nuning menegaskan, pemahaman Defence Shifting harus menjadi pertimbangan utama Prabowo untuk mentransformasi TNI menjadi kekuatan militer yang disegani. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan para prajurit yang memiliki intelektual tinggi.
ADVERTISEMENT
“Singkat kata, dalam program 100 hari Menhan baru, maka defence shifting harus dihadapi dengan meningkatkan kapabilitas dan kapasitas prajurit TNI. Lahirlah scholar warrior,” pungkasnya.