kumparan
15 Oktober 2019 17:04

Jangan Mudah Percaya Isu Crosshijaber

Ketua Infokom MUI, Masduki Baidlowi di kantor MUI
Ketua Infokom MUI, Masduki Baidlowi di kantor pusat MUI, Selasa (15/10/2019). Foto: Abyan Faisal Putratama/kumparan
Dunia maya sedang dihebohkan dengan fenomena baru yaitu crosshijaber. Istilah crosshijaber sendiri ini disematkan untuk pria yang berpenampilan menggunakan hijab.
ADVERTISEMENT
Isu yang berkembang, beberapa crosshijaber pun bahkan terlihat memasuki masjid dan juga toilet-toilet khusus perempuan.
kumparan pun mencoba untuk menelusuri akun-akun tersebut. Dan kami menemukan satu akun yang mengatasnamakan komunitas ini di sosial media instagram.
Akan tetapi, akun dengan nama @crosshijaberss yang mempunyai pengikut 1,292 orang dan 4 unggahan itu digembok oleh pemilik akun. Selain akun tersebut, masih ada akun lainnya seperti @crosshjb, tetapi juga digembok.
Akun Instagram yang mengaku sebagai crosshijaber
Akun Instagram yang mengaku sebagai crosshijaber. Foto: Instagram/@crosshijabers
Tidak hanya di Instagram, di ranah platform twitter pun fenomena nyeleneh ini menjadi bahan pembicaraan para netizen. Banyak dari mereka yang tidak setuju dengan hal ini.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun turut menyoroti fenomena ini. MUI mengimbau masyarakat jangan serta merta percaya dengan isu yang beredar.
ADVERTISEMENT
"Gini saya kira crosshijab saya kira gini ya ini gejala yang tidak baik dari media sosial. Kenapa saya bilang gejala tidak baik? karena saya enggak tahu kejadian itu di mana," kata Ketua Infokom MUI, Masduki Baidlowi di kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (15/10).
Menurutnya, kejadian ini belum tentu kebenarannya. Ia pun menduga isu ini dimainkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Jadi jangan kita hanya mengandalkan berita di media sosial yang bisa saja berita di socmed itu bisa menggunakan rekayasa dari buzzer atau cyber army. Dari kondisi tertentu yang bisa dimainkan pihak tertentu yang kejadiannya bisa saja belum ada," timpalnya.
Ia pun mengungkapkan bahwa berita ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat. Karena, isu ini sendiri belum jelas atau masih simpang-siur kebenarannya.
ADVERTISEMENT
"Padahal peristiwanya enggak ada, direkayasa di media sosial itu kan yang akhirnya jadi korban siapa? Yang menjadi korban publik, yang jadi korban umat, masyarakat. MUI tidak boleh menanggapi hal yang sifatnya isu (crosshijaber) karena belum ada bukti nyata dari kejadian-kejadian yang sebenarnya di mana," tutur dia.
"Kalau sudah ada kejadian yang nyata bahwa kejadian di musala ini misalnya di daerah ini persis itu baru kita coba (memberi tanggapan)," imbuhnya.
Ia juga berpesan, laki-laki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya dilarang dalam agamanya.
"Tapi yang terpenting juga laki-laki menyerupai perempuan itu dilarang oleh agama. Saya kira prinsip dasarnya begitu," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan