kumparan
30 Nov 2018 9:57 WIB

Jelang Natal, Pengusaha Kimia di Surabaya Diminta Deteksi Dini Teror

Jelang Natal, Polrestabes Surabaya Kumpulkan Tokoh Agama hingga Pengusaha Toko Kimia. (Foto: Istimewa)
Jelang perayaan Natal dan tahun baru, Polrestabes Surabaya melakukan pendekatan dengan sejumlah tokoh agama dan pemilik toko kimia se-Surabaya. Kegiatan ini dilakukan untuk mengantisipasi kejadian teror bom jelang perayaan tersebut.
ADVERTISEMENT
Tak hanya mendatangkan pedagang kimia industri se-Surabaya dan tokoh agama serta masyarakat, Polres Surabaya juga mengundang perwakilan Disperindag Kota Surabaya, Herlambang, sebagai narasumber. Acara ini juga akan diisi oleh Kanit Tipidter Satreskrim Polres Surabaya Iptu Handa.
Pertemuan ini digelar di Gedung Bharadaksa Polrestabes Surabaya, Kamis (29/11) lalu. Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Rety berharap acara ini bisa meningkatkan kerja sama antar sejumlah lini untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban di Kota Surabaya.
Peserta ikuti diskusi di Polrestabes Surabaya. (Foto: Istimewa)
Ia menjelaskan, para peserta juga diberikan pengarahan kegiatan deteksi dini apabila ada kegiatan mencurigakan yang diduga berbau terorisme. Bagi pemilik usaha toko kimia, misalnya, mereka diminta skeptis apabila mendapat pesanan bahan kimia berbahaya atau eksplosif dalam jumlah tidak wajar.
ADVERTISEMENT
"Hal ini merupakan langkah antisipatif agar kejadian seperti bom di Surabaya dan kota lainnya di Indonesia tidak terulang kembali," urai Rety dalam keterangannya, Jumat (30/11).
Diharapkan, melalui pengarahan tersebut, masyarakat bisa turut aktif melakukan deteksi dini untuk mencegah aksi teror di Kota Pahlawan. Selain itu, menurut Rety, pihaknya juga tetap memberikan upaya aktif lainnya di lapangan.
Polrestabes Surabaya Kumpulkan Tokoh Agama hingga Pengusaha Toko Kimia jelang Natal. (Foto: Istimewa)
"Nantinya upaya kami akan disusul dengan bentuk lainnya langsung di atas lapangan," pungkas Rety.
Pada pertengahan Mei 2018 silam, Kota Surabaya digegerkan dengan gempuran teror di tiga gereja secara berturut-turut di hari yang sama. Awalnya, sebuah ledakan terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela, disusul dengan ledakan lainnya di GKI Diponegoro serta Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.
ADVERTISEMENT
Tak berhenti di situ, ledakan kembali terjadi di Polrestabes Surabaya dan Rumah Susun Wonocolo, Sidoarjo, hanya satu hari setelah aksi bom di sejumlah gereja tersebut. Rangkaian aksi ini menjadi aksi teror pertama yang melibatkan anak-anak sebagai pembawa bom.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan