kumparan
16 Jan 2018 18:57 WIB

Jepang Evakuasi 8 Jenazah Nelayan dari 'Kapal Hantu' Korut

Bendera Korea Utara (Foto: Denis Balibouse/REUTERS)
Sebanyak delapan jenazah warga Korea Utara yang tenggelam di lautan berhasil dievakusi ke perairan Jepang. Otoritas setempat menduga mereka merupakan bagian dari 'kapal hantu' Korea Utara.
ADVERTISEMENT
Pasukan Penjaga Pantai Jepang dari keterangan seorang pejabat kepolisian Hiroshi Abe, menemukan sebanyak 7 jenazah di serpihan kapal yang tersapu ombak di Kanazawa pekan lalu.
"Sementara satu jenazah lainya yang sudah membusuk ditemukan sekitar 15 meter dari serpihan kapal," ucap Abe seperti dikutip dari AFP, Selasa (16/1).
"Sulit mengidentifikasi para jenazah, mereka sudah mulai membusuk. Kami hanya melihat ada kotak rokok yang di dalamnya ada surat kabar Korea, tapi kami belum bisa mengonfirmasi apakah kapal ini berasal dari Korut," tambah dia.
Meski demikian, Pejabat Pasukan Penjaga Pantai Jepang punya pendapat berbeda. Mereka yakin yang ditemukan adalah kapal nelayan Korut.
Keyakinan tersebut didasari alasan jelas. Pasalnya, ada banyak kapal nelayan Korut yang mengambil ikan secara ilegal di perairan Kanazawa.
ADVERTISEMENT
Selain itu, bukti kuat lainnya di dalam reruntuhan kapal tersebut ditemukan lencana bergambar mantan pemimpin Korea Utara yang telah mangkat, Kim Jong Il.
Pada 2017 lalu, Pemerintah Jepang menyebut ada 104 kasus kapal Korut masuk ke perairan milik mereka. Jumlah itu meningkat tajam dari tahun sebelumnya yang hanya 66 kasus.
Ilustrasi Kapal Laut. (Foto: Pixabay)
Beberapa media Jepang menyebut kapal Korut itu sebagai kapal hantu. Hal itu karena, banyak kru kapal nelayan yang tewas di dalam kapal ketika sedang menangkap ikan.
Sejumlah ahli menyebut, banyaknya kapal Korut masuk ke perairan Jepang disebabkan instruksi langsung pemerintah Korut. Pyongyang diduga kuat mengeluarkan perintah kepada para nelayan untuk mencari tangkapan lebih besar.
Sayangnya kapal Korut yang mencari ikan ilegal hampir seluruhya dalam kondisi buruk, tua, dan tidak pernah mendapat perawatan. Sehingga, masalah mesin serta kehabisan bahan bakar di tengah jalan kerap menjadi persoalan.
ADVERTISEMENT
Para nelayan itu pun akhirnya tewas di tengah laut karena kelaparan dan tidak mendapat bantuan berhari-hari.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan