Untitled Image

JIS Dukung Kesetaraan & Persamaan Hak di Kalangan Siswa, Pengajar, dan Staf

16 Agustus 2021 9:41
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Sebagai sekolah yang mendukung bakat dan potensi anak dari berbagai belahan dunia, Jakarta Intercultural School (JIS) turut mendorong kesetaraan dan persamaan hak di kalangan guru, siswa, serta staf sekolah. Sejak pertama kali berdiri, Jakarta Intercultural School (JIS) memegang teguh tiga pilarnya: keberagaman, kesetaraan, dan inklusi.
Salah seorang guru sekolah dasar Jakarta Intercultural School (JIS), Donise Lyons, mengatakan, seluruh proses dan prosedur mengajar Jakarta Intercultural School (JIS) tidak memihak suatu kelompok. Sebagai pengajar, ia akan memastikan semua siswa harus diikutsertakan dan diterima selama proses pembelajaran, meskipun mereka mempunyai gaya belajar yang berbeda.
"Ketika kita berbicara tentang konsep kesetaraan, kita harus memastikan bahwa hal itu tidak hanya soal ras, tapi juga aspek-aspek lainnya. Jadi, kami memastikan bahwa proses dan prosedur (pembelajaran di Jakarta Intercultural School) adil untuk semua orang," terang Lyons.
JIS Dukung Kesetaraan & Persamaan Hak di Kalangan Siswa, Pengajar, dan Staf (68633)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kesetaraan dan persamaan hak di kalangan siswa. Foto: Shutterstock
Menurut Lyons, melihat kesetaraan hanya dari kacamata ras justru akan menghilangkan jati diri para siswa. Hal itu akan membuat para siswa terbiasa akan kesenjangan dalam masyarakat, seperti kebangsaan, status sosial, bahasa asal, dan lain-lain.
Ia pernah mendapat pertanyaan dari seorang murid mengenai program Tutti Frutti Fridays. Dalam program ini, para guru meminta anak-anak membawa buah segar untuk dibagikan ke para staf sekolah.
"Salah seorang murid kemudian bertanya, 'saya tidak mengerti mengapa kita harus melakukan hal ini setiap hari Jumat? Mengapa mereka tidak membelinya saja di supermarket?'. Setelah mendapatkan pertanyaan itu, saya menjelaskan bahwa tidak semua orang memiliki status sosial yang sama. Dengan Tutti Frutti Fridays, kita bisa mengatasi kesenjangan sosial yang mengakar di masyarakat," cerita Lyons.
Jakarta Intercultural School (JIS) menyadari, sekolah mempunyai tugas untuk menanamkan nilai kasih sayang, empati, pengertian, dan integritas. Selain memberdayakan bakat para siswa tanpa melihat latar belakang mereka, Jakarta Intercultural School (JIS) juga menyeimbangkan pelajaran yang diberikan dengan nilai-nilai yang telah berkembang di Indonesia. Lewat berbagai program pembelajaran, Jakarta Intercultural School (JIS) akan mendorong para siswa memiliki pemikiran kritis namun tidak mengesampingkan pendapat orang lain.
Konsep 'berbeda-beda tapi tetap satu' itu pun dituangkan Jakarta Intercultural School (JIS) dalam tampilan situs web. Hal tersebut dapat dilihat dari desain batik dan wayang yang ada di halaman depan web, menegaskan bahwa sekolah nonprofit ini mengedepankan komunitas lokal.
JIS Dukung Kesetaraan & Persamaan Hak di Kalangan Siswa, Pengajar, dan Staf (68634)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kesetaraan dan persamaan hak di kalangan guru. Foto: Shutterstock
Jakarta Intercultural School (JIS) pun telah berkolaborasi dengan para pengrajin batik di Indonesia untuk membuat pola batik yang digunakan di seluruh situs web maupun elemen sekolah. Pada situs web itu juga terlihat para alumni yang datang dari berbagai penjuru dunia, semakin menguatkan konsep keanekaragaman yang diusung Jakarta Intercultural School (JIS).

Kesetaraan, persamaan hak, serta keanekaragaman di kalangan staf dan guru Jakarta Intercultural School (JIS)

Tak hanya di kalangan para siswa, Jakarta Intercultural School (JIS) juga menerapkan kesetaraan dan persamaan hak di antara para staf dan guru. Lyons menceritakan, ketika ia pertama kali mengajar di Jakarta Intercultural School (JIS), pihak sekolah menerimanya dengan terbuka. Mereka bahkan tak segan untuk membahas hal-hal yang membuat para pengajar tidak nyaman dan membantu mencarikan solusinya.
Sementara itu, salah satu guru SMA Jakarta Intercultural School (JIS), Susan Lee, menjelaskan, 85 persen staf sekolah setuju Jakarta Intercultural School (JIS) telah menerapkan konsep keberagaman dan persamaan hak dengan sangat baik. Angka itu didapat dari sebuah survei yang dilakukan Lee bersama anggota komite Jakarta Intercultural School (JIS) yang lain.
"Dalam survei tersebut, kami menerima kritik dan saran untuk membangun Jakarta Intercultural School (JIS) menjadi lebih baik lagi. Kami percaya, dengan menjalankannya (kritik dan saran yang diberikan), Jakarta Intercultural School (JIS) akan bergerak maju," lanjut Lee.
Konsep diversity, equity, dan inclusivity di Jakarta Intercultural School (JIS) terus dioptimalkan dengan mengadakan berbagai pelatihan untuk para guru. Jakarta Intercultural School (JIS) juga mempunyai konvensi —peraturan tidak tertulis yang telah disepakati bersama— untuk mendukung komunitas yang beragam.
"Kami berharap dapat mewujudkan lebih banyak saran mengenai konsep kesetaraan dan keberagaman yang ada di Jakarta Intercultural School (JIS). Meski hal tersebut bukan proses yang cepat, perubahan pola pikir (mengenai kesetaraan, keberagaman, dan persamaan hak) di kalangan siswa, pengajar, maupun para staf yang sudah ada dapat menjadi langkah pertama kami." tutup Lee.
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Jakarta Intercultural School (JIS)
Menghadirkan para pengajar berkualitas, JIS memberikan pengalaman belajar anak sesuai kemampuan dan potensinya di bidang seni, pendidikan jasmani, bahasa, serta kecerdasan intelektual. Simak program lengkap Jakarta Intercultural School. Klik di bawah
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten