Jokowi Dinilai Tak Reshuffle dalam Waktu Dekat, Belum Bertemu Ketum Koalisi

10 Maret 2022 14:33
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Jokowi Dinilai Tak Reshuffle dalam Waktu Dekat, Belum Bertemu Ketum Koalisi (5523)
zoom-in-whitePerbesar
Pengamat Politik CSIS, Arya Fernandes. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
ADVERTISEMENT
Kabar Presiden Jokowi bakal melakukan reshuffle kabinet berembus belakangan. Namun, Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes, menilai belum pasti Jokowi bakal melakukan reshuffle dalam waktu dekat.
ADVERTISEMENT
Ia beralasan, ada berbagai kondisi yang perlu dipertimbangkan Jokowi sebelum memutuskan melakukan reshuffle kabinet. Misalnya, krisis minyak goreng hingga berbagai program strategis pemerintah.
“Pertama, belum ada sinyal yang kuat dari Istana apakah akan terjadi reshuffle atau tidak. Kemudian pemerintah juga tengah fokus melakukan agenda-agenda strategis nasional seperti persiapan pelaksanaan pagelaran Moto GP di Mandalika, begitu juga persiapan rangkaian acara G20," kata Arya, Kamis (10/3).
"Juga masih tingginya respons publik terhadap situasi politik nasional seperti kelangkaan minyak goreng, kemudian juga wacana soal penundaan pemilu,” lanjut Arya.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengalaman reshuffle Jokowi di tahun-tahun sebelumnya, ketika perombakan dilakukan, ada sejumlah sinyal yang dilempar. Namun, saat ini, sinyal tersebut belum tampak.
Jokowi Dinilai Tak Reshuffle dalam Waktu Dekat, Belum Bertemu Ketum Koalisi (5524)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Jokowi saat menghadiri pelantikan anggota DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selasa (1/10/2019). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
“Misalnya ada pertemuan antara Presiden dengan anggota-anggota koalisi atau ada pertemuan presiden dengan ketua umum partai,” jelas Arya.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Namun, jika Jokowi melakukan reshuffle kabinet, ada beberapa hal yang bakal menjadi pertimbangan. Yakni, aspek politis dan kinerja, serta relasi dengan Presiden.
"Pertama adalah bobot politik yang di dalamnya terkait hubungan menteri-menteri itu dengan partai-partai koalisi, chemistry dengan presiden. Kedua adalah bobot kinerja. Kinerja itu terkait performa menteri kemudian apakah program-program di kementerian itu sudah menunjukkan keberhasilan atau tidak," jelas Arya.
Lebih lanjut, soal urgensi melakukan reshuffle karena kebutuhan mengakomodasi PAN, Arya menilai hal tersebut tidak mendesak. Sebab, ada atau tidak ada PAN di kabinet, koalisi Jokowi di parlemen sudah kuat.
“Sebenarnya bila PAN bergabung tentu akan ada penambahan dukungan partai di parlemen. Tapi bila PAN enggak bergabung pun support koalisi terhadap pemerintah sudah sangat kuat,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
====
Reporter: Dhania Anindyaswari Puspitaningtyas
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020