News
·
23 Juli 2021 7:30
·
waktu baca 7 menit

Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37077)
searchPerbesar
Foto udara suasana pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/7/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
kumparan merangkum kabar corona dunia pada Kamis (22/7). Mulai dari vaksinasi di Australia berjalan lambat hingga varian gamma terdeteksi di Rusia.
ADVERTISEMENT
Hingga saat ini penularan COVID-19 masih terjadi. Tercatat jumlah kasus positif global mencapai 192.998.633 jiwa di mana 4.145.896 di antaranya meninggal dunia.
Amerika Serikat, India dan Brasil masih menjadi tiga negara terdampak parah COVID-19. Jumlah kasus positif di masing-masing tiga negara itu di atas 19 juta jiwa.
Berikut kumparan rangkum kabar corona dunia:
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37078)
searchPerbesar
Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyaksikan perawatan lansia Jane Malysiak saat menerima vaksinasi COVID-19 di Castle Hill Medical Centre untuk melihat pratinjau program vaksinasi COVID-19, di Sydney, Australia (21/2). Foto: AAP Image/Joel Carrett/via REUTERS

Vaksinasi COVID-19 Lambat, PM Australia Minta Maaf

Perdana Menteri Australia Scott Morrison meminta maaf atas lambatnya program vaksinasi COVID-19 di negaranya.
Saat ini Australia baru dapat memvaksinasi kurang dari 150 ribu dosis setiap harinya. Jumlah itu terbilang kecil dibanding negara-negara lain.
Kecilnya jumlah vaksinasi diduga menjadi salah satu faktor lonjakan kasus COVID-19 di Negeri Kangguru. Fakta tersebut akhirnya membuat Morrison menyampaikan permintaan maaf.
ADVERTISEMENT
"Saya meminta maaf karena belum bisa untuk mencapai target yang kami canangkan pada awal tahun ini," kata Morrison.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37079)
searchPerbesar
Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada konferensi pers di Gedung Parlemen di Canberra, Selasa (23/3). Foto: AAP Image/Mick Tsikas
Demi memperbaiki kesalahannya, Morrison berjanji saat jutaan dosis vaksin Moderna dan Pfizer datang beberapa pekan ke depan, akan lebih banyak warga dewasa yang menerima vaksin.
Total baru 10,3 juta dosis vaksin yang diberikan Pemerintah Australia kepada warganya. Jumlah penerima dosis penuh bahkan cuma 2,91 juta orang.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37080)
searchPerbesar
Ilustrasi polisi di Peru. Foto: Ernesto Benavides/AFP

Polisi Peru Tangkap Oknum Medis Jual Tempat Tidur di ICU Setara Rp 304 Juta

Kepolisian Peru pada Rabu (21/7) membongkar jaringan kriminal di tengah pandemi COVID-19. Jaringan itu menjual tempat tidur untuk perawatan pasien COVID-19 gejala berat dengan harga selangit.
Satu tempat tidur untuk pasien COVID-19 dihargai sampai USD 21 ribu atau setara Rp 304 juta. Praktik kriminal itu terjadi di rumah sakit milik pemerintah.
ADVERTISEMENT
Menurut salah seorang jaksa di Peru, Reynaldo Abia, kepolisian sudah menangkap sembilan orang yang terlibat jaringan kriminal tersebut. Salah satu yang ditangkap adalah administrator Rumah Sakit Umum Guillermo Almenara Irigoyen di ibu kota Lima.
Kasus ini terbongkar setelah Polisi Peru menerima laporan dari seorang warga yang saudaranya terjangkit COVID-19. Saat dibawa ke rumah sakit, dia ditagih biaya sebesar 82 ribu Soles atau setara USD 21 ribu untuk satu tempat tidur di ICU.
Menkes Peru Óscar Ugarte mengaku geram mendengar laporan modus penipuan tersebut. Dia menyatakan, negara bakal menghukum pelaku tindakan kriminal tersebut dengan setimpal.
Selama pandemi COVID-19 kasus korupsi terkait penanganan kesehatan makin sering terjadi di Peru. Yang paling menggemparkan adalah fasilitas vaksinasi VIP yang disediakan untuk orang berduit dan pejabat.
ADVERTISEMENT
Terbongkarnya kasus pada awal 2021 ini menyebabkan Menteri Luar Negeri dan beberapa pejabat Kementerian KesehatanPeru mengundurkan diri.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37081)
searchPerbesar
Presiden AS Joe Biden bereaksi selama KTT AS-Rusia dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Villa La Grange di Jenewa, Swiss, Rabu (16/6). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS

Joe Biden Akui Frustrasi soal Lambannya Vaksinasi Corona AS

Presiden AS, Joe Biden, mengungkapkan kekesalan melihat melambatnya program vaksinasi COVID-19 di negaranya. Ia bahkan memohon kepada warganya untuk segera divaksinasi, mengingat kasus corona kembali melonjak.
Joe Biden mengatakan varian Delta menjadi dalang dari kenaikan kasus infeksi yang sebagian besar menjangkiti orang yang belum divaksinasi.
Ini tentunya berdampak pada pelayanan kesehatan AS yang semakin kewalahan. Dokter, perawat, dan para tenaga kesehatan mulai kelelahan.
“Begini, sebenarnya mudah saja. Ada pandemi bagi mereka yang belum divaksinasi—semudah itu, sesederhana itu,” kata Biden.
Saat ini, masih banyak warga AS laik vaksin yang enggan untuk menerima vaksinasi COVID-19. Hal ini dipicu oleh ketidakpercayaan akan vaksinasi dan misinformasi yang beredar di masyarakat.
ADVERTISEMENT
"10.000 orang baru saja meninggal dunia. Kurang lebih 9.950 dari mereka, adalah orang-orang yang belum divaksinasi," ungkap dia.
Pengendalian pandemi COVID-19 dan program vaksinasi menjadi tantangan terberat Biden selama enam bulan pertama menjabat sebagai presiden.
“Jika Anda divaksinasi, Anda tak akan dirawat di rumah sakit, Anda tak akan masuk ICU, dan Anda tak akan meninggal," ucap Biden.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37082)
searchPerbesar
Seorang petugas bersiap memberikan vaksin corona kepada tenaga kesehatan di National Center for Infectious Diseases (NCID) di Singapura, Rabu (30/12). Foto: Ministry of Communications and Information/via Reuters

Ribuan Warga Malaysia di Singapura yang Sudah Vaksin Minta Penghapusan Karantina

Warga negara Malaysia yang bekerja atau tinggal di Singapura mendesak pencabutan kebijakan karantina bagi mereka yang sudah divaksinasi dosis penuh. Aturan karantina 14 hari dianggap mereka terlalu memberatkan.
Malaysia dan Singapura menutup perbatasan antarnegara sejak 18 Maret 2020. Akibatnya, ratusan ribu warga Malaysia yang tinggal di Singapura kesulitan untuk bisa kembali ke negaranya.
ADVERTISEMENT
Sebuah petisi online dibuat oleh WN Malaysia bernama Danny Tay (43) sekitar dua pekan lalu. Petisi yang berisi permohonan diizinkannya warga Malaysia untuk kembali dari Singapura tanpa karantina, berhasil mengumpulkan 9.316 tanda tangan per Kamis (22/7/2021).
Danny mengungkapkan, dirinya terkejut melihat banyaknya tanda tangan yang berhasil ia kumpulkan dalam waktu yang relatif singkat.
“Selain dari orang yang bekerja di sini [Singapura], ada juga mereka yang kehilangan pekerjaannya, serta orang Singapura yang menikah dengan orang Malaysia dan terpaksa harus terpisah satu sama lain,” ujar Danny.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37083)
searchPerbesar
Ilustrasi kawasan hiburan malam di Clarke Quay di Singapura. Foto: Ore Huiying/Getty Images
Danny berharap, Pemerintah Malaysia dapat mempertimbangkan mencabut aturan itu bagi warga yang sudah divaksinasi dosis penuh. Ia menyarankan kebijakan itu diganti dengan karantina satu hari, setidaknya hingga hasil tes RT-PCR mereka keluar.
ADVERTISEMENT
Seorang WN Malaysia lainnya, Nurbayzura Basaruddin (34), mengakui dirinya enggan untuk pulang ke negaranya akibat biaya karantina yang sangat tinggi.
Padahal, ia sudah sangat merindukan keempat anaknya yang masih kecil.
“Setidaknya, Pemerintah Malaysia bisa lebih murah hati kepada kami dan mencabut aturan wajib karantina 14 hari bagi yang sudah disuntik dua dosis di Singapura,” ujar Nurbayzura.
Untuk karantina selama 28 hari (14 hari saat masuk Malaysia dan 14 hari saat memasuki Singapura), biaya karantina di Malaysia mencapai RM 2.200 atau setara dengan Rp 7,5 juta, dan 2.200 SGD atau setara dengan Rp 23,4 juta di Singapura.
Sebelum adanya penutupan perbatasan akibat pandemi, Nurbayzura biasa melakukan perjalanan antarnegara.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37084)
searchPerbesar
Seorang WN Arab Saudi penderita COVID-19 dievakuasi dengan pesawat medis dari Jakarta menuju Riyadh. Foto: Twitter/@modgovksa

8 Warga Arab Saudi di Indonesia Terinfeksi COVID-19

Pemerintah Arab Saudi melarang warga negaranya pergi ke Indonesia baik langsung maupun tidak langsung. Warga negara (WN) Saudi yang berada di Indonesia juga diminta segera pulang.
ADVERTISEMENT
Pemicunya adalah kondisi kesehatan di Indonesia akibat pandemi COVID-19 yang memburuk sejak awal Juni 2021. Peningkatan kasus membuat rumah sakit kewalahan dan terjadi krisis pasokan oksigen.
WN Saudi di Indonesia juga ada yang terinfeksi virus COVID-19. Menurut Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Esam A. Abid Althagafi, jumlahnya ada delapan kasus.
Althagafi menjelaskan, delapan orang yang terinfeksi corona itu semuanya lelaki dari beragam usia. Mereka adalah pengunjung dan warga negara yang tinggal di Indonesia.
Dia membeberkan bahwa Indonesia mengalami lonjakan kasus akibat mutasi virus corona Delta. Sebanyak 85 persen kasus infeksi terjadi akibat varian Delta, dengan penambahan kasus mencapai 50 ribu per hari dan kematian 1.000 per hari.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37085)
searchPerbesar
Petugas kesehatan memberikan vaksin kepada kepada warga di CVS Pharmacy, New York City, New York, AS. Foto: Mike Segar/REUTERS

Varian Delta Menyebar, Nakes New York Wajib Vaksin dan Tes COVID-19 Tiap Pekan

Penyebaran varian Delta yang semakin masif di Amerika Serikat mengancam nyawa masyarakat, terutama yang belum divaksinasi. Oleh karenanya, Kota New York akan mewajibkan vaksinasi atau tes COVID-19 tiap pekan bagi seluruh tenaga kesehatan.
ADVERTISEMENT
Menurut Wali Kota New York, Bill de Blaiso, kebijakan ini akan berlaku efektif pada 2 Agustus 2021. Pemerintah kota akan menskors tanpa upah seluruh karyawan yang menolak divaksinasi atau dites.
“Karena varian Delta ini, pilihan ada dua yaitu antara infeksi atau vaksinasi. Dan hal itu dapat bermakna antara hidup dan mati,” kata Komisioner Kesehatan New York, Dave Chokshi.
Sekitar 60% dari 42 ribu staf di rumah sakit umum Kota New York telah divaksinasi. Sementara di RS lainnya di penjuru New York, 70% dari total staf telah divaksinasi dosis penuh.
Tetapi, persentase dari staf RS umum New York yang sudah divaksinasi dosis penuh ternyata lebih rendah dibandingkan dengan persentase vaksinasi penuh orang dewasa New York (65%).
ADVERTISEMENT
De Blasio mengatakan, New York mungkin akan menerapkan kebijakan yang lebih ketat lagi ke depannya jika ancaman varian Delta di kota metropolitan ini semakin memburuk.
Ada kemungkinan aturan wajib vaksin dan wajib tes COVID-19 ini akan diberlakukan kepada seluruh pekerja di New York.
Kabar Corona Dunia: Vaksinasi di Australia Lambat hingga Varian Gamma di Rusia (37086)
searchPerbesar
Seorang wanita berjalan melewati ambulans yang diparkir di luar Rumah Sakit di Saint Petersburg, Rusia (17/6). Foto: Alexander Demianchuk/TASS via Reuters

Virus Corona Varian Gamma Terdeteksi di Rusia

Kasus virus corona varian Gamma terdeteksi di negara Rusia dalam jumlah kecil dan terisolasi. Varian yang memiliki nama ilmiah P.1 ini pertama kali ditemukan di Brasil, dan diketahui memiliki laju penularan yang lebih cepat dibanding virus corona strain awal.
Kabar ini dilaporkan oleh kantor berita Interfax, mengutip pengembang vaksin Rusia EpiVacCorona, Vector Institute.
“Varian Delta ini tersebar di seluruh wilayah Federasi Rusia, dengan beberapa kasus terisolasi dari varian Gamma terdeteksi,” ungkap Vector Institute.
ADVERTISEMENT
Vector Institute mengatakan, sama halnya dengan varian Delta, varian Gamma juga dikategorikan sebagai “varian yang menyebabkan kekhawatiran” karena penularannya yang begitu mudah. Varian Gamma juga diketahui dapat mengurangi efektivitas dari antibodi.
Varian Gamma memiliki mutasi kunci yang disebut E484K. Mutasi ini dapat membantu si virus dalam menghindari pertahanan imun orang yang dijangkitinya.
Varian Gamma juga memiliki mutasi N501Y, yang juga ditemukan pada varian Alpha (Inggris) dan Beta (Afsel). Mutasi ini berpotensi membantu varian Gamma lebih mudah menyebar.
Dideteksinya varian corona lain tentu berisiko, mengingat dengan Rusia kini sedang mengalami lonjakan kasus dan kematian yang buruk akibat varian Delta.