kumparan
30 Desember 2019 14:43

Kaleidoskop 2019: Bencana Alam yang Paling Banyak Memakan Korban

banjir bandang, Banjir di Sentani, Kampung Yoka, Jayapura, Papua
Warga mengamankan barang berharga miliknya dari rumahnya yang terendam banjir bandang di kawasan Danau Sentani, Sentani, Jayapura, Papua, Selasa (19/3). Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Sejumlah bencana alam melanda berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2019. Dalam laporan kaleidoskop yang dirilis pada 17 Desember lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 3.662 bencana terjadi di Tanah Air. Dari kejadian tersebut, 475 orang meninggal dunia sementara 108 lainnya dinyatakan hilang.
ADVERTISEMENT
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas (Kapusdatinmas) BNPB, Agus Wibowo mengatakan, tren bencana pada 2019 merupakan bencana hidrometeorologi, dipengaruhi faktor cuaca. Meski begitu, ada juga bencana geologi (karena gerakan bumi). Seperti gempa yang terjadi setiap bulan.
Angin puting beliung terjang Bandung
Sejumlah rumah di Gedebage, Bandung, rusak diterjang angin puting beliung, Jumat (27/12) Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
“Paling tinggi puting beliung, banjir, 99 persen merupakan bencana hidrometeorologi. Kita lihat dari geologi, tiap bulan memang ada gempa tapi tidak ada yang merusak,” beber Agus.
Lalu, bencana alam apa saja yang paling banyak memakan korban sepanjang 2019? Berikut rangkumannya.

Banjir Bandang Sentani

Pada 17 Maret lalu, sejumlah wilayah di Sentani, Jayapura, Papua dilanda banjir bandang. Banjir mengalir deras setelah hujan mengguyur wilayah itu. Setidaknya 9 kelurahan tergenang akibat bencana alam tersebut.
Banjir bandang Sentani, Jayapura
Foto udara yang menunjukkan dampak banjir di Sentani, Jayapura, Papua, (17/3). Foto: Edward Hehareuw / Via REUTERS
Seminggu setelah kejadian, sebanyak 112 orang dilaporkan tewas, sementara itu 11.448 warga mengungsi. Pemerintah melalui BNPB menetapkan masa tanggap darurat bencana hingga 29 Maret 2019.
ADVERTISEMENT

Gempa Bumi Ambon

Gempa bumi berkekuatan 6,8 Magnitudo (kemudian dimutakhirkan menjadi 6,5 Magnitudo oleh BMKG) mengguncang Ambon dan sekitarnya, 26 September lalu. Gempa tersebut terjadi sekitar pukul 08.46 WIT.
gempa bumi di Ambon
Suasana bangunan Pasar Apung Desa Tulehu yang roboh akibat gempa bumi di Ambon. Foto: ANTARA FOTO/Izaak Mulyawan
Akibatnya, 30 orang dilaporkan tewas dan 156 lainnya luka-luka. Selain itu, BNPB mencatat, gempa ini mengakibatkan rusaknya sejumlah bangunan. Mulai dari jembatan, universitas, hingga kantor pemerintah daerah. Selain itu, sejumlah rumah warga juga dilaporkan rusak.

Gempa Bumi Halmahera Selatan

Pada 14 Juli 2019, Kabupaten Halmahera Selatan diguncang gempa berkekuatan 7,2 Magnitudo. Bencana ini mengakibatkan 13 orang meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 2.590 rusak. Adapun kerugian akibat bencana ini sekitar Rp 300 miliar.
Kondisi Kantor Polsek Saketan, Halmahera Selatan, gempa
Kondisi Kantor Polsek Saketa di Halmahera Selatan yang rusak akibat gempa. Foto: Dok. BNPB

Gempa Megathrust di Banten

Gempa dengan kekuatan 7,4 M mengguncang Banten. Gempa itu juga terasa di sejumlah kota, termasuk Jakarta, pada 2 Agustus 2019 pukul 19.03 WIB. BMKG menyebut, gempa tersebut berpotensi tsunami.
ADVERTISEMENT
Namun, BMKG pun mencabut peringatan tsunami beberapa saat setelahnya. Data gempa pun dimutakhirkan dari 7,4 M menjadi 6,9 M. Kepala Bagian Humas BMKG, Akhmad Taufan Maulana, mengungkapkan bahwa sumber gempa ini berasal dari "Megathrust Selat Sunda"
Rumah rusak akibat gempa Banten, Pandeglang
Warga menunjukkan bagian rumah yang rusak akibat gempa di Kampung Bojong, Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8). Foto: ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki
Megathrust bisa diartikan sebagai gerak sesar naik yang besar. Indonesia sendiri memiliki setidaknya 16 zona megathrust yang tersebar di berbagai daerah dan berpotensi menimbulkan tsunami. Salah satunya adalah segmen Megathrust Selat Sunda.
BNPB merilis korban meninggal berjumlah 6 orang akibat bencana alam ini. Sementara itu, sebanyak 232 rumah rusak. Selain itu, 4 tempat ibadah dan 1 kantor desa rusak.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan