News
·
24 Desember 2019 12:02

Kaleidoskop 2019: Deretan Unjuk Rasa yang Menjadi Sorotan Publik

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kaleidoskop 2019: Deretan Unjuk Rasa yang Menjadi Sorotan Publik  (11469)
Petugas kepolisian sedang berjaga saat massa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Bawaslu. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Sejumlah aksi unjuk rasa terjadi sepanjang tahun 2019. Sebagian di antaranya bahkan menelan korban jiwa. Dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Randy (21) dan Yusuf Qardawi (19) tewas karena peluru tajam saat demonstrasi menentang RUU KPK di depan DPRD Sultra, Kamis (26/9).
ADVERTISEMENT
Kematian Randy dan Yusuf adalah bukti betapa mahalnya demokrasi di Tanah Air. Belum lagi isu diskriminasi dan rasialisme yang membuat Bumi Cendrawasih memanas. Sejumlah unjuk rasa pecah di beberapa kota dan kabupaten di Papua dan Papua Barat. Gedung DPRD Manokwari bahkan dibakar massa. Hal itu merespons insiden di Asrama Papua, Surabaya, Jawa Timur pada 17 Agustus 2019.
Kaleidoskop 2019: Deretan Unjuk Rasa yang Menjadi Sorotan Publik  (11470)
Mahasiswa UHO menuntut penuntasan kasus meninggalnya dua Mahasiswa UHO Randy dan Yusuf, saat unjuk rasa di Patung Kuda, Jakarta, Senin (28/10/2019). Foto: Maulana Ramadhan/kumparan
Ketua Komnas HAM Ahmad Damanik mengatakan, pelanggaran HAM di era Jokowi begitu mengkhawatirkan. Menurut dia, kasus-kasus semacam itu dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan politik jika tak ditangani serius.
"Pelanggaran HAM makin berat, konflik agraria dan sumber daya alam, dan tak kalah pentingnya adalah persoalan intoleransi, diskriminasi, dan ekstremisme dengan kekerasan," kata Ahmad di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Senin (9/12).
ADVERTISEMENT
Lantas, apa saja aksi unjuk rasa yang menarik perhatian publik sepanjang 2019?
Rusuh 21-22 Mei 2019
Demonstrasi pecah di Jakarta selama 21-22 Mei 2019. Pemicunya adalah penolakan rekapitulasi penghitungan suara Pilpres 2019 yang memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.
Awalnya, konsentrasi massa ada di Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Mereka menyebut pemilu telah dicurangi dan meminta diadakannya pemilu ulang. Namun seiring bergulirnya waktu, massa justru bertindak anarkis dan tak terkendali. Kerusuhan pun melebar ke sejumlah titik di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Polri bahkan harus menetapkan status siaga 1 di wilayah DKI selama 21-25 Mei 2019.
Kaleidoskop 2019: Deretan Unjuk Rasa yang Menjadi Sorotan Publik  (11471)
Aksi demonstrasi di kawasan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jakarta pada 21 Mei 2019. Foto: AFP/Adek Berry
Selama demonstrasi berlangsung, ada sembilan orang yang kehilangan nyawanya. Empat di antaranya tewas karena ditembak di bagian kepala dan dada oleh orang tak dikenal. Hingga akhir tahun ini, dalang yang menjadi penembak itu masih misterius.
ADVERTISEMENT
Nama Mayjen (purn) Kivlan Zen sempat disebut-sebut terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei. Ia bahkan telah didakwa atas kepemilikan 4 senjata api dan 117 peluru ilegal. Meski begitu, Polri enggan menyebut Kivlan sebagai dalang dari kerusuhan berdarah tersebut.
Sementara itu, ada 10 anggota polisi yang terbukti bersalah menganiaya pendemo. Kesepuluh anggota Polri dari satuan Brimob itu telah mendapat hukuman penahanan selama 21 hari. Penahanan tersebut berlaku sejak anggota tersebut kembali ke polda masing-masing.
Demonstrasi di Papua
Insiden penggerudukkan asrama papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019 berbuntut panjang. Sejumlah demonstrasi besar-besaran digelar di Papua dan Papua Barat sebagai bentuk solidaritas. Massa memprotes cara-cara yang dinilai rasis dan semena-mena dalam menghadapi masyarakat Papua.
ADVERTISEMENT
Semua bermula pada 15 Agustus. Kala itu, sejumlah ormas seperti FKPPI, FPI, dan Pemuda Pancasila menginisiasi pemasangan bendera Merah Putih di depan asrama mahasiswa Papua. Bendera itu dipasang di depan asrama sekitar pukul 09.00 WIB. Esoknya, 16 Agustus, salah seorang anggota ormas melihat tiang bendera itu patah. Terjadilah penggerudukkan yang dilakukan oleh ormas. Diduga ada kata tak pantas dan rasis yang ditujukan ke mahasiswa Papua.
Kaleidoskop 2019: Deretan Unjuk Rasa yang Menjadi Sorotan Publik  (11472)
Sejumlah anggota Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim menyisir Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019). Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Tak terima dengan perlakuan itu, massa di Papua dan Papua Barat pun protes. Mereka turun ke jalan dan meminta pemerintah setempat tegas terkait insiden yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya. Kantor DPRD Papua Barat di Jalan Siliwangi, Manokwari, bahkan sampai dibakar massa.
Saking mencekamnya, pemerintah melalui Kemenkominfo memblokir akses internet di Papua dan Papua Barat. Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini meminta maaf atas kejadian tak sedap yang menimpa mahasiswa Papua di kotanya.
ADVERTISEMENT
Salah seorang yang bertanggung jawab atas bergulirnya kerusuhan ini adalah Wakil Ketua Ormas FKPPI Tri Susanti. Ia diduga sebagai orang yang mengucapkan kata-kata tak pantas dan menyebarkan hoaks soal asrama Papua. Ia ditetapkan sebagai tersangka sejak 28 Agustus. Hingga kini, proses persidangan masih bergulir.
Mahasiswa Melawan
Rangkaian unjuk rasa mahasiswa menentang disahkannya revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK), menunda pengesahan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), dan meminta segera disahkannya Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) bermula dari Yogyakarta pada 23 September 2019.
Dalam aksi bertajuk #GejayanMemanggil, ribuan mahasiswa dari sejumlah kampus di Yogyakarta tumpah ruah di Jalan Gejayan. Mereka membentangkan poster-poster yang berisi kalimat kreatif dan lucu yang menyindir pemerintah dan DPR.
Kaleidoskop 2019: Deretan Unjuk Rasa yang Menjadi Sorotan Publik  (11473)
Foto udara aksi Gejayan Memanggil, Senin (30/9/2019). Foto: Dok. Istimewa
Aksi dilanjutkan dalam skala lebih besar pada 24 September di Jakarta. Tepatnya di depan Gedung DPR yang kala itu dibentengi kawat berduri. Sejumlah mahasiswa dari kampus lain seperti Unpad, ITB, UGM, hingga Untirta juga hadir mengepung gedung DPR. Polisi pun sempat menembakkan gas air mata kepada para demonstran.
ADVERTISEMENT
Demonstrasi ini menyebabkan satu orang mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Faisal Amir, sempat mengalami koma. Setelah sadar, ia mengaku dihajar oleh aparat. Sementara itu, pelaku penganiaya terhadap Faisal tak terungkap hingga kini.
Di belahan timur, dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Randy (21) dan Yusuf Qardawi (19) tewas. Salah seorang tersangka yang menembak Randy adalah Brigadir AM. Ia kini tengah menjalani proses pengadilan. Sementara itu, penembak Yusuf masih misterius.
Hal lain yang mencuri perhatian adalah keterlibatan pelajar STM/SMK dalam demonstrasi di Jakarta. Mereka datang ke Gedung DPR pada 25 September. Aksi mereka terbilang nekat, mulai dari memblokir jalan, membakar petasan, hingga melempari polisi dengan batu.
Reuni 212
Reuni 212 kembali digelar pada Senin (2/12) di Silang Monas, Jakarta Pusat. Kegiatan yang kali ini bertajuk Maulid Agung dan Reuni 212, dihadiri oleh massa dari berbagai wilayah di Indonesia. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan turut hadir di acara reuni.
Kaleidoskop 2019: Deretan Unjuk Rasa yang Menjadi Sorotan Publik  (11474)
Massa Reuni 212 memadati lapangan Monas, Jakarta Pusat, Senin (2/12). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Acara ini sendiri dimulai sejak pukul 03.00 WIB, diawali dengan salat tahajud berjamaah. Kemudian pukul 04.00 WIB dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah. Massa melaksanakan salat Subuh di areal monas dengan beralaskan sajadah, pakaian, hingga terpal. Seusai salat Subuh, para jemaah tampak berzikir bersama.
ADVERTISEMENT
Reuni 212 sendiri berawal dari Aksi Akbar 212 pada 2016 lalu. Kala itu, umat muslim turun ke jalan untuk meminta Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama diadili lantaran dituding telah menista agama.
Dalam reuni kali ini, Polda Metro mencatat peserta yang hadir ada 10 ribu orang. Sementara di tahun-tahun sebelumnya, jumlah peserta jauh lebih banyak. Tahun 2018, ada 40 ribu peserta yang hadir. Sementara tahun 2017, diperkirakan ada 30 ribu orang.