kumparan
14 September 2019 15:55

Kapolda Jateng: Gudang Mako Brimob Semarang yang Meledak Tak Ideal

Kondisi gudang tempat penyimpanan bahan peledak dan bom temuan dari masyarakat, setelah terjadinya ledakan di gudang tersebut, di kompleks Markas Brimob Polda Jateng, di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (14/9/2019). Foto: ANTARA/R. Rekotomo
Gudang penyimpanan bahan peledak (handak) di kompleks Mako Brimob Semarang terbakar hingga meledak, Sabtu (14/9) pagi. Kapolda Jateng, Irjen Rycko Amelza Dahniel, menyebut gudang berukuran 6x6 itu memang tak ideal.
ADVERTISEMENT
"Belum ideal itu (sebagai gudang penyimpanan bahan peledak),” ujar Rycko, Sabtu (14/9).
Rycko mengatakan, berbagai jenis peledak yang tersimpan di gudang tersebut masih dalam proses pengajuan untuk di-disposal atau dimusnahkan ke PT Dahana, perusahaan negara di bidang industri bahan peledak.
Kapolda Jateng Irjen Rycko Amelza Dahniel meninjau lokasi ledakan di Mako Brimob Polda Jateng. Foto: Dok. Bid Humas Polda
Meski demikian Rycko mengatakan, seharusnya berbagai jenis peledak ini disimpan di bunker jika tak dimusnahkan.
"Sudah diajukan proses penyimpanan, konstruksi yang diusulkan ke PT Dahana. Kalau belum bisa diserahkan ke PT Dahana, penyimpanan sementara harus bunker tapi harus survei dulu karena benda ini berbahaya kalau di permukaan tanah. Masih proses," jelasnya.
Mobil pemadam kebakaran mendatangi lokasi ledakan. Foto: Dok. Bid Humas Polda
Rycko menjelaskan, bahan peledak yang disimpan di gudang tersebut merupakan sisa Perang Dunia II yang ditemukan warga dengan berbagai jenis.
ADVERTISEMENT
Rycko mengatakan, proses pemusnahan untuk mortir berukuran besar harus berkoordinasi dengan PT Dahana atau Pindad. Sedangkan mortir yang berukuran kecil seperti ranjau bisa dilakukan pihak Brimob.
"Ranjau kecil bisa dilakukan sendiri oleh Brimob, untuk mortir besar ajukan ke PT Dahana, Pindad. Dua bulan lalu sudah datang lakukan survei," kata Rycko.
Video
Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, menyebut ledakan di gudang senjata Markas Brimob Semarang karena bom ranjau sisa Perang Dunia II yang disimpan dari penemuan warga.
"Ledakan tersebut diduga sementara memang berasal dari bahan peledak temuan dari masyarakat, (bom) sisa Perang Dunia ke-2. Kemudian juga masih ada beberapa bahan peledak juga yang hari ini masih perlu dilakukan pendinginan dan sterilisasi," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (14/9).
ADVERTISEMENT
Ada sejumlah bom dengan ukuran bervariasi yang disimpan di gudang tersebut. Di antaranya 6 buah mortir besar yang ukurannya 120 sentimeter dengan diameter 60 sentimeter, kemudian 3 mortir sedang ukuran panjang 75 sentimeter dengan diameter 80 sentimeter.
Rumah warga terdampak ledakan di Mako Brimob Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Akibat dentuman ledakan, sejumlah rumah warga di sekitar gudang mengalami rusak, mulai dari kaca pecah, hingga genteng dan plafon roboh.
Tak ada korban jiwa akibat kejadian ini, hanya 1 anggota polisi yang mengalami luka ringan di tangan dan kepala, yakni Komandan Batalyon Gegana Brimob Srondol, Semarang, AKBP Syaiful Anwar yang telah dilarikan ke RS Banyumanik.
Saat ini, penyebab kebakaran dan ledakan di Mako Brimob Semarang masih diselidiki Polda Jateng dibantu Gegana, Tim Penjinak Bom (Jibom), dan Inafis.
ADVERTISEMENT
Pemadam kebakaran juga masih tampak mondar-mandir di lokasi kejadian. Sementara, lokasi kejadian disterilkan hingga radius 1 kilometer.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan