Kumparan Logo
Dokumen Surat Nikah dan Cerai Inggit Garnasih dan Soekarno
Dokumen Surat Nikah dan Cerai Inggit Garnasih dan Presiden Soekarno.

Kata Guru Besar Unpad Tentang Janji Cerai Sukarno dan Utang pada Inggit

kumparanNEWSverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokumen Surat Nikah dan Cerai Inggit Garnasih dan Presiden Soekarno. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Surat Nikah dan Cerai Inggit Garnasih dan Presiden Soekarno. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Dokumen surat perceraian antara Inggit Garnasih dan Sukarno bakal dijual. Dalam dokumen tersebut, ada sejumlah poin berisikan perjanjian dari Sukarno pada Inggit. Dokumen itu kemudian ditandatangani sejumlah tokoh negara pada masa itu seperti KH. Mas Mansoer hingga Ki Hadjar Dewantara.

Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad Nina Herlina Lubis menceritakan, setelah Sukarno memutuskan untuk menikah dengan Fatmawati, Inggit kembali ke Kota Bandung diantar oleh KH. Mas Mansoer dan Sukarno. Sebagai bekal, pada tanggal 29 Januari 1943 dibuatlah surat perjanjian.

Dokumen Surat Nikah dan Cerai Inggit Garnasih dan Presiden Soekarno. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Isi dari surat perjanjian tersebut, kata Nina, Sukarno berjanji bakal membelikan rumah untuk Inggit melalui tiga orang saksi. Sukarno juga bakal memberikan uang hadiah senilai f 6280 yang dicicil selama 10 tahun serta uang bulanan senilai f 75. Adapun dalam dokumen asli, uang itu disebut sebagai utang.

"Sukarno akan memberikan uang bulanan sebesar f 75 seumur hidup serta pembagian harta bersama yang intinya semua harta benda yang tertinggal di Bengkulu jadi milik Inggit kecuali buku-buku yang akan menjadi milik Sukarno," kata dia dalam bukunya berjudul Kajian Tentang Perjuangan Inggit Garnasih: 1888 - 1984 yang dilihat kumparan pada Jumat (25/9).

Dokumen Surat Nikah dan Cerai Inggit Garnasih dan Presiden Soekarno. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Di Bandung, Inggit kembali ke rumah kerabatnya yang terletak di Jalan Lengkong Besar. Di sana, lanjut Nina, sudah menunggu mantan suami Inggit yakni H. Sanoesi. Sukarno kemudian menyerahkan kembali Inggit pada H. Sanoesi.

Singkat cerita, Inggit kemudian tinggal bersama anak angkatnya yakni Kartika di Jalan Lengkong Tengah. Dia memenuhi kehidupan sehari-harinya dengan menjual bedak dingin, lulur, hingga jamu. Selain Kartika, diketahui Inggit pun memiliki anak angkat yakni Ratna Juami.

Proklamasi kemerdekaan hingga Agresi Militer tahun 1947 pun meletus. Inggit sempat mengungsi ke Garut lalu kembali ke Bandung pada tahun 1949. Setiba di Bandung, dia mendapati rumahnya sudah diisi orang lain. Menurut sebuah sumber, Ratna lalu menghubungi Sukarno agar memberi Inggit rumah sebagaimana janjinya dalam surat perceraian.

Dokumen Surat Nikah dan Cerai Inggit Garnasih dan Presiden Soekarno. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

"Menurut salah satu sumber, tahun 1950 Asmarahadi dan Ratna Djoeami diam-diam menghubungi Presiden Sukarno agar Inggit bisa mendapatkan rumah sesuai janjinya dulu," kata dia.

"Inggit tidak tahu urusan ini dan memang tak mengharapkan apa-apa dari Sukarno. Presiden Sukarno menyuruh asisten pribadinya, Winoto Danu Asmoro, untuk mencarikan rumah bagi Inggit," lanjut dia.

Inggit akhirnya menempati sebuah rumah panggung yang terletak di Jalan Ciateul. Rumah tersebut pernah ditinggali oleh Inggit dan Sukarno sebelum menjalani pembuangan di Flores. Akan tetapi, sumber lain menyebut bahwa rumah itu justru diusahakan Asmarahadi dibantu rekan-rekannya.

"Tapi menurut sumber lain, rumah itu diusahakan oleh Asmarahadi dengan bantuan teman seperjuangannya seperti SK. Trimurti, Gatot Mangkoepradja, AM. Hanafi dll," jelas dia.

Sementara itu, mengenai perjanjian Sukarno, cucu angkat Inggit, Tito Z. Harmaen atau Tito Asmarahadi mengatakan janji Sukarno tak pernah ditepati hingga akhir hayatnya. Dengan begitu, dia menilai Sukarno masih mempunyai utang pada Inggit.

"Poin perjanjian itu (tak ditepati), jadi sampai sekarang di akhirat pun Sukarno masih punya utang," ujar dia.

Menurut Tito, setelah Inggit dan Sukarno bercerai pada tahun 1942, keduanya pernah bertemu kembali di tahun 1955 dan 1960. Pertemuan pertama, Sukarno meminta maaf pada Inggit karena telah menceraikan. Pertemuan kedua, Inggit hanya menitipkan pesan bahwa Sukarno harus menjaga dan jangan sekali-kali melupakan rakyat.

"Bu Inggit menjawabnya, tak perlu diminta pun dari dulu pun beliau sudah memaafkan. Tugas Kusno - sapaan Sukarno - sekarang adalah memimpin negara ini dengan baik," terang dia menirukan ucapan Inggit.