News
·
3 Agustus 2021 20:51
·
waktu baca 3 menit

Kata IDI soal Mahasiswi Aceh Alami Kejang-kejang Usai Divaksin

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kata IDI soal Mahasiswi Aceh Alami Kejang-kejang Usai Divaksin (151798)
searchPerbesar
Ilustrasi vaksin corona Sinopharm. Foto: Leonardo Fernandez Viloria/REUTERS
Tim Satgas COVID-19 Universitas Syiah Kuala (USK) yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, dr Safrizal Rahman, ikut menyikapi terkait kondisi Amelia Wulandari (22) mahasiswi asal Aceh Barat yang mengalami kejang-kejang hingga kaki dan tangan tak bisa bergerak usai divaksin.
ADVERTISEMENT
dr Safrizal mengatakan, telah berkomunikasi dengan dokter yang merawat Amelia di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, dan dalam dua hari terakhir kondisi mahasiswi USK itu semakin membaik.
“Dalam dua terakhir ini, trend pemulihan Amelia semakin membaik,” kata Safrizal, Selasa (3/7).
dr Safrizal mengungkapkan, apa yang terjadi pada Amelia kemungkinan besar karena faktor psikosomatik atau ketakutan yang berlebihan. Sehingga, memicu dampak pada kesehatannya. Musababnya, pada saat screening ia mengatakan punya penyakit asam lambung dan pernah tifus.
“Semua keluhan itu, bukan termasuk kontra indikasi atau halangan untuk melakukan vaksin sehingga dilakukanlah vaksin,” ucapnya.
Berdasarkan screening itu, dr. Safrizal menilai, adanya dugaan kecemasan yang tinggi dari Amelia sehingga menaikkan asam lambungnya. Lalu, mengeluhkan nyeri di ulu hati yang selanjutnya kaki Amelia menjadi lemah sehingga dibawa ke rumah sakit.
ADVERTISEMENT
“Namun setelah diamati tanda-tanda vitalnya secara ilmu kedokteran seperti tekanan darah, nadi, dan pernafasan itu normal-normal saja. Ketika diajak bicara juga normal,” tutur dr Safrizal.
Kata IDI soal Mahasiswi Aceh Alami Kejang-kejang Usai Divaksin (151799)
searchPerbesar
Antrean vaksinasi massal perdana di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Dikatakan dr Safrizal, di rumah sakit Amelia mendapatkan terapi secara medis dan saat ini kondisi pemulihan kakinya sudah terjadi peningkatan. Di mana, awalnya kaki mahasiswa Fakultas Hukum USK itu tidak bisa diangkat namun sekarang sudah bisa.
“Kontrol terbaru kita tadi, insyaallah besok sudah mulai dilatih berdiri untuk berjalan lagi,” sebutnya.
dr Safrizal, menegaskan apa yang terjadi pada Amelia ini tidak bisa serta menyerta disimpulkan dampak dari vaksin. Sebab, saat ini sudah lebih 20 juta orang di Indonesia yang sudah divaksin. Kondisi akibat psikosomatik seperti ini juga sudah beberapa kali dilaporkan.
ADVERTISEMENT
“Bahkan ada yang mengeluhkan lumpuh dan sebagainya, tapi tidak ada yang fatal hanya perlu dirawat. Artinya, ini hanya perlu kesiapan mental kita ketika divaksin, karena keluhan yang timbul berkaitan dengan psikosomatik saja,” ungkapnya.
Sementara itu, USK juga telah mengirimkan tim untuk melihat kondisi kesehatan mahasiswinya tersebut, yang dikabarkan lumpuh usai vaksinasi COVID-19 di Akademi Keperawatan (Akper) di Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh.
Kepala Biro Kemahasiswaan Mustafa Sabri, mengungkapkan kunjungan itu adalah bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswanya.
“Kami ingin memastikan bagaimana kondisi sebenarnya Amelia,” ucap Mustafa dalam pers rilis yang dikirim humas USK pada kumparan.
Kata IDI soal Mahasiswi Aceh Alami Kejang-kejang Usai Divaksin (151800)
searchPerbesar
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Dado Ruvic/REUTERS
Dalam kunjungan itu, kata Mustafa, ibu Amelia menjelaskan saat ini kondisi anaknya sudah membaik. Adapun pemberitaan yang mengabarkan anaknya lumpuh, ia mengungkapkan bukan dari dirinya.
ADVERTISEMENT
“Saya memang gak menyuruh wartawan, cuma adek saya itu kesel lihat keadaan dia ini. Jadi dialah yang ngomong, saya gak ngomong. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya cuma mohon anak saya sembuh,” ucap Ibunya Amelia.
Lebih lanjut, Mustafa mengakui memang saat ini USK telah mewajibkan vaksinasi kepada mahasiswanya. Hanya saja, bagi mahasiswa yang tidak dapat melakukan vaksin COVID-19 karena alasan kesehatan atau baru terkena COVID-19 dalam tiga bulan terakhir, maka mahasiswa tersebut cukup menunjukan surat keterangan dari Puskesmas atau RSP USK.
Bahkan, jika mahasiswa tersebut berada di daerah yang belum ada kegiatan vaksinasi bagi usia 12 – 18 tahun. Maka, ia dapat membuat surat pernyataan yang ditandatangani oleh orang tuanya. Selanjutnya, mahasiswa tersebut dapat melaksanakan vaksin saat di Banda Aceh yaitu di RSP USK.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020