kumparan
20 Februari 2019 12:04

KBRI Manila Telusuri Video Dugaan Penculikan 2 WNI oleh Abu Sayyaf

Ilustrasi Penyanderaan Foto: Thinkstock
Video Warga Negara Indonesia (WNI) yang jadi diduga kembali menjadi korban penculikan kelompok separatis Abu Sayyaf di Sulu kembali beredar luas di media sosial.
ADVERTISEMENT
KBRI Manila saat ini sedang menelusuri sumber video tersebut untuk memastikan apakah dua orang yang tersandera itu WNI atau bukan.
“Sumber kami di Sulu sedang kami hubungi, penyelidikan tentang sumber video dan sebagainya juga sedang ditelusuri,” kata Kepala Penerangan Hubungan Masyarakat dan Media KBRI Manila Agus Buana saat dikonfirmasi kumparan, Rabu (20/2).
Video penyanderaan pertama kali diunggah ke Facebook oleh akun D’Yan Adfah sekitar pukul 11.00 WITA, pada Selasa (19/2). Video berdurasi 30 detik itu menunjukkan dua orang yang disandera dengan mata tertutup kain berwarna hitam diancam dengan sebilah parang. Korban juga dikelilingi laki-laki berbadan tegap bersenjata laras panjang yang diduga anggota Abu Sayyaf.
WNI yang disandera Abu Sayyaf diduga bernama Hariadi dan Hery. Kedua nelayan itu disandera kelompok Abu Sayyaf saat sedang melaut di perairan Sandakan, Malaysia. Mereka pun diduga dibawa ke Sulu.
ADVERTISEMENT
Keponakan Hariadi, Fitri Amelia, mengaku telah menerima kabar penyanderaan pamannya yang berasal dari Sulawesi Tenggara dua bulan lalu. Namun, ia bersama keluarga kurang yakin dengan informasi tersebut. Pasalnya, saat itu Fitri masih sempat berkomunikasi dengan Hariadi.
Setelah video penculikan beredar luas, Fitri dan keluarga mulai yakin bahwa Hariadi diculik komplotan Abu Sayyaf. Sebab, wajah, suara, kemudian ciri fisik lainnya, seperti tato di dada kiri dari pria di video tersebut sesuai dengan Hariadi.
Tangkapan layar dari video dua WNI yang disandera oleh Abu Sayyaf. Foto: Facebook/@D’Yan Adfah
"Pertama saya buka-buka Facebook, kemudian saya lihat-lihat video yang dikirim teman saya. Saya lihat om saya di situ memohon ke pemerintah (Indonesia) karena sudah dua bulan lebih ditahan sama Abu Sayyaf," kata Fitri Amelia, keluarga Hariadi yang tinggal di Kota Baubau, Selasa malam (19/2), kepada Kendarinesia.
ADVERTISEMENT
Fitri mengaku terakhir menjalin komunikasi dengan Hariadi sekitar Desember 2018 lalu. Hingga kini, Fitri belum dapat menghubungi pamannya tersebut beserta istrinya, yang merantau ke Malaysia sejak lima tahun lalu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan