News
·
29 Oktober 2020 17:07

Kehadiran Menlu AS di Indonesia Jadi Pesan Keras Terhadap China

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kehadiran Menlu AS di Indonesia Jadi Pesan Keras Terhadap China (13768)
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, Jakarta, Kamis (29/10). Foto: Kemlu RI
Menlu AS, Mike Pompeo, pada Kamis (29/10) berkunjung ke Indonesia. Dia bertemu Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi, serta berpidato di depan GP Ansor.
ADVERTISEMENT
Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana, mengatakan kehadiran Pompeo ditujukan untuk memberi pesan keras kepada China, terutama soal Laut China Selatan.
Perairan kaya sumber daya tersebut merupakan laut sengketa antara China dan sejumlah negara di Asia Tenggara.
"Pernyataan Menlu Retno Marsudi bahwa semua negara diminta untuk menghormati (hukum laut) UNCLOS di Laut China Selatan sangat diapresiasi oleh Pompeo," ucap Hikmahanto dalam keterangan pers kepada kumparan.
Kehadiran Menlu AS di Indonesia Jadi Pesan Keras Terhadap China (13769)
Presiden Joko Widodo menyambut kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (29/10). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
"Pernyataan ini tentu mengkritik China yang mengklaim sembilan garis putus yang tidak memiliki dasar dalam UNCLOS dan telah dinyatakan demikian oleh putusan Permanent Court of Arbitration pada tahun 2016," sambung dia.
Menurut Hikmahanto, apa yang dilakukan Retno memberi pesan kepada China bahwa Indonesia tidak akan bergantung pada Negeri Tirai Bambu.
ADVERTISEMENT
"Indonesia tidak gentar untuk menyampaikan kritik tersebut meski Indonesia bergantung pada utang dari China," sebut Hikmahanto.
"Ini menunjukkan Indonesia telah menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif dimana Indonesia tidak berpihak ke China maupun AS tetapi pada hukum internasional, khususnya UNCLOS," sebut Hikmahanto.
Meski demikian, kata Hikmahanto, ada satu hal yang diinginkan AS namun tidak akan dipenuhi Indonesia.
"Harapan tersebut adalah Indonesia menjadi Anchor bagi ASEAN, terutama untuk menghadapi China," ucapnya.
"Harapan ini sulit untuk direalisasi oleh Indonesia mengingat Indonesia menjalankan kebijakan luar negeri yang bebas aktif sehingga tidak mungkin akan menbawa ASEAN untuk berada dibelakang AS dalam menghadapi China," tegas Hikmhanto.