News
·
12 Februari 2021 17:20

Kemenkes: Keterbatasan PCR Bukan Cuma di Wilayah Timur, Jateng dan Jatim Juga

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kemenkes: Keterbatasan PCR Bukan Cuma di Wilayah Timur, Jateng dan Jatim Juga (2278)
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi. Foto: Kemkes RI
Kemenkes membeberkan sejumlah masalah yang selama ini terjadi saat testing dan tracing kasus corona. Yang utama soal akses untuk pemeriksaan, sehingga untuk memastikan seseorang itu kasus positif membutuhkan waktu 3-4 hari.
ADVERTISEMENT
"Dan akibatnya adalah membatasi untuk kita melangkah selanjutnya. Dengan keterbatasan akses untuk pemeriksaan PCR ini kemudian juga mengurangi kemampuan kita untuk segera memeriksakan kasus-kasus positif, yang dicurigai atau kasus kontak erat," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr Siti Nadia Tarmidzi dalam Youtube Forum Merdeka Barat 9, Jumat (12/2).
Persoalan yang kedua adalah selama ini tracing menggunakan rapid test antibodi. Padahal apabila negatif rapid antibodi, hampir tidak pasti, apalagi kalau dia punya gejala.
"Nah itu cenderung bahwa dia sudah positif COVID-19. Jadi ini kalau dia negatif kemudian masyarakat merasa bahwa "wah saya boleh dong melakukan aktivitas tidak perlu melakukan isolasi mandiri". Ini kekurangannya, tapi kalau dengan rapid antigen hampir dipastikan bahwa orang COVID-19 kita akan mendapatkan hasil yang positif," urai dia.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu dengan kondisi seperti ini, pemeriksaan PCR sangat dibutuhkan. Ditambah tak semua daerah punya mesin tes PCR.
"Bahkan di Provinsi Jawa Tengah itu tidak bisa semua kabupaten/kotanya memiliki lab PCR. Jadi bukan hanya daerah kawasan Timur Indonesia saja tapi provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur itu keterbatasan untuk akses pemeriksaan PCR-nya ini masih kendala," tuturnya.
Untuk itu, kata Nadia, rapid antigen ini bisa jadi alat diagnostik. Apabila positif rapid antigen terhitung positif PCR.
Kemenkes: Keterbatasan PCR Bukan Cuma di Wilayah Timur, Jateng dan Jatim Juga (2279)
Seorang tenaga kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap memberikan sample tes usap (swab test) milik warga ke dalam mobil tes polymerase chain reaction (PCR). Foto: M Risyal Hidayat/Antara Foto