News
·
13 Oktober 2020 13:34

Kemenkes: Pasien COVID-19 dengan Hipertensi Paling Berisiko Meninggal

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kemenkes: Pasien COVID-19 dengan Hipertensi Paling Berisiko Meninggal (313782)
Ilustrasi hipertensi. Foto: rawpixel via Pixabay
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan 13,3 persen pasien COVID-19 dengan penyakit bawaan atau komorbid hipertensi atau tekanan darah tinggi meninggal dunia. Hal itu disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Ariane.
ADVERTISEMENT
Dilansir Antara, Selasa (13/10), ia menyebutkan penyakit hipertensi menjadi faktor risiko paling tinggi menyebabkan pasien COVID-19 meninggal dunia. Diikuti oleh penyakit komorbid lainnya seperti diabetes, jantung koroner dan gagal ginjal.
"Dari 1.641 orang pasien COVID-19, penyakit penyerta paling banyaknya adalah hipertensi dengan jumlah mencapai 50,8 persen," kata Cut.
Sisanya diikuti oleh penyakit diabetes 34,4 persen, jantung koroner 19,7 persen, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) 10,1 persen. Lalu, gagal ginjal 6,2 persen dan penyakit kanker 1,5 persen.
"Artinya orang-orang ini kondisinya sudah sakit yang berpengaruh pada imunitas tubuhnya, sehingga COVID-19 akan bertambah berat pada orang ini dibanding yang lain," kata Cut.
Dalam memperingati hari hipertensi sedunia Cut juga mengajak masyarakat meningkatkan kesadarannya akan kesehatan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin ke fasilitas kesehatan ataupun posbindu.
ADVERTISEMENT
Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, penyakit tidak menular seperti hipertensi dapat segera diketahui secara dini dan lebih cepat mendapatkan penanganan.
Kemenkes: Pasien COVID-19 dengan Hipertensi Paling Berisiko Meninggal (313783)
Gambar virus SARS-CoV-2 terpampang di papan elektronik imbauan tentang COVID-19 di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Minggu (11/10). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Sedangkan untuk orang yang sudah memiliki riwayat hipertensi diharapkan meminum obat dengan rutin agar tekanan darahnya terkendali dan tidak berimplikasi pada munculnya gangguan kesehatan lain.
Cut menyebut hipertensi bisa memicu gangguan kesehatan lain seperti gagal ginjal, stroke dan jantung koroner. Padahal, lanjutnya, penyakit hipertensi adalah penyakit tidak menular yang sangat bisa dicegah dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.
Namun sayangnya, dari 10 orang yang memiliki penyakit tidak menular seperti hipertensi, hanya tiga orang yang mengetahui dirinya memiliki gangguan kesehatan sementara tujuh lainnya tidak menyadarinya.
Cut mengajak masyarakat agar mengubah perilaku menjadi lebih sehat dengan membatasi asupan gula, garam, lemak, berolahraga secara teratur. Juga mengkonsumsi gizi seimbang, istirahat cukup dan menghindari faktor risiko seperti merokok.
ADVERTISEMENT