News
·
20 Oktober 2020 8:00

Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020

Konten ini diproduksi oleh
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72189)
Penumpang menggunakan faceshield dan masker saat menaiki Kereta Api Turangga tujuan Surabaya Gubeng di Stasiun Gambir, Jakarta, Kamis (20/8). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
Pemerintah akan melakukan pengadaan 320 juta vaksin corona hingga Maret 2022. Vaksinasi menyasar sejumlah kelompok yang dinilai paling membutuhkan atau kelompok prioritas.
ADVERTISEMENT
Untuk tahap awal, pemerintah menargetkan vaksinasi bisa dilaksanakan akhir tahun 2020. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Achmad Yurianto, menuturkan, program ini dilakukan jika vaksin corona sudah lolos fase 3.
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72190)
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock
Sejauh ini, Indonesia telah bekerja sama dengan 5 perusahaan asing dalam proses pengembangan dan produksi. Yakni, perusahaan Sinovac (China), AstraZeneca (Inggris), Sinopharm (China), CanSino (China), Genexine (Korsel) dan LBM Eikjman untuk dalam negeri.
Vaksin Sinovac sedang memasuki tahap 3 uji klinis di Bandung, Jawa Barat. Adapun, vaksin Sinopharm sudah lolos uji fase 3 di UEA, sementara vaksin Cansino yang juga lolos tahap 3 di Arab Saudi.
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72191)
Seorang pekerja bekerja di fasilitas pengemasan pembuat vaksin Sinovac Biotech. Foto: Thomas Peter/REUTERS
Target 9,1 juta orang divaksin akhir tahun 2021
Untuk akhir tahun, pemerintah akan memakai vaksin dari 3 perusahaan. Mereka adalah Sinovac, Sinopharm, dan CanSino.
ADVERTISEMENT
"Sinovac sudah memberikan komitmen untuk memberikan pada Indonesia kesempatan membeli vaksin dalam bentuk sudah jadi. Jadi bukan diproduksi di Bio Farma, sudah jadi. Sebanyak 2 kali pengiriman rencana awal di bulan November dikirim 1,5 juta vaksin kemudian di bulan Desember 1,5 juta vaksin," kata Yuri dalam dalam jumpa pers yang ditayangkan di Youtube Kemenkes, Senin (19/10).
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72192)
Achmad Yurianto. Foto: Dok. BNPB
Yuri menuturkan, jika dilihat karakteristiknya, vaksin Sinovac dibeli dengan dual use. Dalam artian, satu orang bisa disuntik 2 kali; 1 kali untuk vaksin dasar, 14 hari kemudian disuntik lagi.
"Maka dua kali pengiriman jadi bisa untuk 1,5 juta orang," ucapnya.
Sementara vaksin Sinopharm sudah memberikan komitmen untuk mengirimkan 15 juta dosis di bulan Desember. Artinya, jika penyuntikan dilakukan dua kali, vaksin tersebut bisa digunakan untuk 7,5 juta orang.
ADVERTISEMENT
"Lalu CanSino hanya sekali suntik, karena platform beda. Antara Sinopharm dan Sinovac ini sama, menggunakan virus yang tidak diaktifkan, sementara CanSino format yang lain. Kesanggupannya adalah menyediakan 100 ribu dosis," urai Yuri.
Jika ditotal untuk November dan Desember 2020, Indonesia sudah mendapatkan kepastian vaksin untuk 9,1 juta orang. Sisanya tinggal menunggu uji BPOM dan MUI hingga Kemenag.
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72193)
Ilustrasi menggunakan masker. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Rentang Usia yang Divaksin
Yuri menegaskan sejumlah vaksin seperti Sinovac dan Cansino rupanya hanya diperuntukkan bagi usia 18-59 tahun. Usia di luar itu (di bawah 18 tahun dan di atas 59 tahun) masih dalam tahap pengembangan.
"Kita tahu kalau produk Sinovac, Sinopharm, juga sama CanSino, ternyata ini hanya dilakukan pada usia 18 sampai 59 tahun," ucapnya.
ADVERTISEMENT
"Pertanyaannya, bagaimana di luar usia itu? Kami tidak memiliki uji klinisnya, tidak ada uji klinis yang dilakukan pada usia 0-18 tahun, tidak ada uji klinis di atas 60 tahun, sehingga kita belum melakukan vaksinasi di luar 18 sampai 59 tahun," jelasnya.
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72194)
Presiden Joko Widodo (kanan) meninjau fasilitas produksi dan pengemasan Vaksin COVID-19 di PT Bio Farma (Persero) Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/8). Foto: Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden
Namun, ia memastikan, bukan berarti kelompok usia di luar 18-59 tahun akan diabaikan. Saat ini, hampir seluruh negara di dunia tengah melakukan penelitian dan pengujian untuk rentang usia di luar itu.
"Tapi dalam tahapan awal ini, kita akan gunakan data yang akan kita pakai karena memang uji klinisnya dilakukan pada usia itu. Ini pun tidak kemudian seluruh usia 18-59 tahun kita suntik, karena pada kelompok komorbid berat pun kita tidak ada datanya," tutur Yuri.
ADVERTISEMENT
Kemenkes pastikan kehalalan dan keamanan vaksin
Yuri memastikan kehalalan dan keamanan vaksin corona akan ditentukan akhir Oktober. Maka dari itu, Kemenkes menjamin pengembangan vaksin akan terus dipantau BPOM, Kemenag dan MUI.
"Kepastian ketersediaan masih akan sangat tergantung emergency use yang akan digunakan oleh BPOM dan rekomendasi dari kehalalan Kemenag dan MUI yang sekarang sedang kita proses data sharing-nya. Semuanya akan selesai kira-kira di akhir Oktober ini," kata Yuri.
"Kemudian sertifikasi BPOM dan Kemenag-MUI juga sedang berproses, kesiapan anggaran sedang kita bahas sampai saat ini," imbuh eks jubir pemerintah terkait penanganan corona ini.
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72195)
Tim Inspektur Badan POM melakukan inspeksi pelaksanaan uji klinik vaksin Sinovac di Puskemas Garuda dan Puskesmas Dago, Bandung, Jumat (16/10). Foto: BPOM
Yurianto menyebut, hingga saat ini, BPOM, Kemenag, dan MUI masih berada di China untuk mempelajari jaminan keamanan dan kehalalan vaksin corona Sinovac.
ADVERTISEMENT
"BPOM bersama MUI, Kemenag melakukan inspeksi terhadap proses pembuatannya terkait sertifikat kehalalan. Ini yang dilakukan di Sinovac dan sedang berproses," terangnya.
Bukan berarti sudah divaksin langsung terhindar dari corona
Yuri menegaskan, vaksin bertujuan untuk menciptakan kekebalan. Vaksin tak bisa melindungi warga dari paparan virus corona.
"Vaksin ditujukan memberikan kekebalan agar pada saat kita terpapar virusnya tak jadi sakit. Jadi, mencegah menjadi sakit akibat terpapar virus, tapi tidak membebaskan kita dari kemungkinan terpapar," ucap Yuri.
Dalam artian, orang yang divaksin bisa saja tetap terpapar corona, tapi ia tidak akan sakit. Namun, orang itu bisa membahayakan orang lain yang belum divaksin.
Maka dari itu, Yuri menyebut, vaksin bukanlah upaya utama dalam mengentaskan pandemi corona. Masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun.
Kemenkes soal Vaksin Corona RI: Rentang Usia hingga 9,1 Juta Orang Disuntik 2020 (72196)
Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
"Vaksinasi kita sangat berharap memberikan perlindungan terhadap jatuh sakit. Tetapi tidak melindungi paparan, tidak melindungi terkena virusnya. Sehingga tetap bahwa lini pertama dalam penanggulangan pandemi ini adalah laksanakan protokol kesehatan," ucapnya.
ADVERTISEMENT
"Kita berharap dengan menjalankan protokol kesehatan, kita tidak terpapar virusnya. Kita mencegahnya dengan cara gunakan masker, jaga jarak, cuci tangan. Apabila tidak terpapar virusnya, kita tak akan sakit dan tentunya pasti tidak akan meninggal karena COVID-19," tutupnya.
Vaksin tidak boleh dianggap penyelesaian akhir dari pandemi ini. Sehingga persepsi bahwa selamat tinggal masker, selamat tinggal protokol kesehatan, ini tak bisa dilaksanakan, ini persepsi yang salah. Tetap harus menggunakan masker, tetap menjaga jarak, cuci tangan, sekali pun sudah divaksin
Achmad Yurianto